MASA depan kerajinan patung batu di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, sebenarnya gemilang. Buktinya, Juma’i, salah seorang perajin di antara 500-an perajin lainnya di sana, mampu mengirim patung batu satu truk ke Bali dengan omzet sekitar Rp 35 juta. Namun, mengapa mereka masih tetap kalah dengan perajin di Bali?

Menurut Juma’i, selama 16 tahun usahanya merintis sebagai perajin patung batu bersama dengan perajin lainnya di Kecamatan Trowulan, boleh dibilang sudah ”habis-habisan”. Namun, apa daya kesalahan strategi pemasaran dan promosi selama ini menyebabkan usaha mereka seperti mubazir.

Meskipun bisa menafkahi keluarga, ia dan sejumlah perajin lainnya sulit untuk menyebut para perajin patung batu di Trowulan telah sukses secara ekonomi. Dibandingkan dengan perajin patung batu asal Bali, menurut dia, sebagian tinggal menerima kiriman dari para perajin patung batu Trowulan.

”Di sana (Bali), sebagian perajin, yang pedagang, tinggal menampung saja di antaranya kiriman kami, dan lantas menjajakannya ke kolektor atau konsumen internasional dengan harga yang sudah naik berlipat-lipat. Bahkan puluhan kali lipat dengan keuntungan luar biasa,” ujar Juma’i belum lama ini.

Namun, begitulah. ”Apa yang kurang dari kerajinan patung batu dari Trowulan ini dibandingkan pematung dari Bali? Lokasi kerajinannya tepat berada di jalan raya utama antarprovinsi Surabaya-Solo. Pesaingnya juga relatif langka. Nama besar Majapahit dan Trowulan tentu sudah tak perlu dijelaskan lagi,” tambahnya.

Meskipun Trowulan juga punya potensi, bayang-bayang Bali tetap seperti menghantui perajin asal Trowulan. Buktinya, nama Bali lebih mendunia ketimbang nama Trowulan.

Menurut Sekretaris Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kabupaten Mojokerto Sutrisno, usaha mengejar mimpi seperti kemajuan perajin di Bali sebenarnya sudah super-ekstra dan penuh perjuangan dilakukan.

Salah sasaran

Usaha besar-besaran itu sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Mojokerto terdahulu (era Bupati Ahmady) hingga sekarang ini. Namun, upaya besar itu seolah seperti sia-sia. Sebab, yang dilakukan Pemkab Mojokerto ternyata salah sasaran. Yang mereka bangun untuk promosi adalah Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan (PPST) di Desa Wates Umpak, Trowulan, bukan kerajinan patung batu Trowulan.

Tidak heran jika sekarang ini setiap kali melintas proyek bekas lokasi wisata PPST tersebut, orang akan berkata, ”Di sinilah letak kesalahannya.”

PPST terbukti sia-sia. Sebab, lokasi yang didanai dengan anggaran yang cukup besar dan semangat yang tinggi itu kini sunyi, sunyi senyap. Apabila malam hari, suasananya sudah gelap gulita, tidak ada aktivitas sama sekali dan apa pun juga.

Padahal, yang potensial dan seharusnya dijual di lokasi semacam PPST tersebut adalah kerajinan patung batu. Jika produk dan karya seni patung batu Trowulan yang dipasarkan di PPST tentu sungguh luar biasa dengan potensi yang ada. Sebab, PPST kerajinan patung batu tidak hanya sebagai komoditas wisata, tetapi juga sebagai karya artistik.

Komunitas para perajin ini pernah mendapatkan fasilitas pendanaan pada tahun 1990an. Bahkan, waktu itu juga sudah terbentuk koperasi. Dukungan kelembagaan dan permodalan sudah diberikan, tetapi sayangnya usianya hanya berumur dua tahun. Koperasi perajin patung batu itu kemudian bubar.

Kondisi ini sangat disayangkan Sutrisno. ”Mungkin karena para pelaku koperasinya kebanyakan seniman sehingga sulit mendapat kata sepakat dalam rapat-rapat koperasi. Mungkin karena kerajinan patung batu merupakan produk karya seni yang banyak unsur subyektifnya sehingga organisasi koperasi yang anggotanya para perajin seniman ini sulit membuat standar harga dan penawaran produk,” ujarnya.

Sutrisno mengatakan, tampaknya memang ada strategi pemasaran yang kurang tepat dalam proses itu sehingga investasi miliaran rupiah APBD Mojokerto ketika itu, meskipun berhasil diwujudkan, tidak menjadi sumber ekonomi yang berlanjut dan tumbuh. Setelah sempat ramai menjadi kunjungan wisata, perlahan-lahan proyek pusat wisata seperti PPST pun sepi pengunjung, dan akhirnya ”mati”.

Trowulan sebenarnya bukan nama yang asing. Trowulan sampai kini diyakini sebagai nama modern dari bekas Kerajaan Majapahit, yang senantiasa disebut sebagai cikal-bakal Indonesia modern, karena berhasil menyatukan arsipelago Nusantara di bawah satu pusat pemerintahan politik dan militer Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-15 itu, Majapahit disegani secara internasional karena armada laut dan pasukan marinirnya.

Abad yang canggih karena telah ada rintisan dimulainya wawasan Nusantara ketika para negarawan Majapahit, termasuk ibu suri kerajaan, Gayatri Rajapadni, serta Mahapatih Gajah Mada di masa keemasan di bawah Prabu Hayam Wuruk disusul Ratu Tribhuwana Tunggadewi, mengupayakan persatuan Nusantara. Pemikiran yang sangat melampui zamannya itu masih berlaku hingga kini, enam abad kemudian.

Para perajin patung batu di Trowulan mengatakan tak tahu kapan kegiatan kerajinan batu ini dimulai. Bukan tak mungkin para perajin patung batu ini punya hubungan anak keturunan dengan para perajin batu di era Majapahit. Meski demikian, masa depan patung batu Mojokerto yang prospektif jangan sampai terjebak kesalahan yang sama.

Penulis: