Sex and the City: Sebuah Revolusi Global

Serial televisi ini memberdayakan wanita di Asia untuk berbicara tentang seks dan menuntut lebih banyak dari hubungan mereka, tulis Jennifer Keishin Armstrong.

Baranews.co – Serial televisi ini memberdayakan wanita di Asia untuk berbicara tentang seks dan menuntut lebih banyak dari hubungan mereka, tulis Jennifer Keishin Armstrong.

Aktris pengisi suara Jepang Yūko Nagashima sedikit khawatir ketika dia pertama kali mengambil pekerjaan menjadi pengisi suara Carrie Bradshaw dalam serial televisi yang menjadi fenomena, Sex and the City.

Seks, bagaimanapun juga, bukanlah sesuatu yang dibicarakan wanita Jepang secara terbuka seperti Carrie dan teman-temannya lakukan tiap kali mereka bertemu sebelum makan siang.

“Saya bertanya-tanya bagaimana itu akan sesuai dengan penonton Jepang yang lebih pendiam,” kata Nagashima kepada The Wall Street Journal.

“Tapi saya segera menyadari bahwa Sex and the City menyentuh masalah-masalah umum yang dikhawatirkan oleh wanita, seperti cinta, seks, pasangan mereka, karier mereka, dan lain-lain. Masalah ini bersifat universal bagi semua wanita, terlepas dari mana mereka berasal, dan saya pikir inilah mengapa serial itu juga menarik bagi wanita Jepang.”

Nagashima akan terus menyuarakan Carrie di seluruh seri, serta dua film sesudahnya. Dan Jepang bukan satu-satunya negara di luar AS yang sangat mendambakan serial Sex and the City.

Pada musim kedua serial ini disiarkan di HBO di Amerika Serikat pada 1999, acara ini mulai ditayangkan kepada penonton yang lebih luas dan antusias di negara-negara lain juga : Australia, Irlandia, Inggris, Perancis, Jerman dan Jepang.

Semua senang terlibat dalam petualangan Carrie dan teman-teman lajangnya di kota New York: Charlotte yang romantis, Miranda yang berpikiran praktis dan Samantha yang seksi.

Sekarang, saat Sex and the City merayakan ulang tahun ke-20 sejak diputar perdana, serial ini tetap menjadi kekuatan global yang besar seperti sebelumnya, terus disiarkan, dan meninggalkan jejak pada seluruh industri.

Serial ini memberikan pengakuan internasional kepada sepatu buatan Manolo Blahnik, cupcakes buatan Magnolia Bakerydan banyak nama merek lainnya.

Namun keberhasilannya sangat mengejutkan di negara-negara Asia dan Timur Tengah yang lebih konservatif, di negara-negara tersebut serial itu dirayakan, ditiru dan dilarang – tetapi tidak pernah bertemu dengan ketidakpedulian.

Sex and The City sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi wanita Jepang sejak pertama kali diekspor di sana pada tahun 1999. Pertunjukan ini membuat perempuan Jepang tak takut-takut mengucapkan kata “seks” – sekkusu – dengan lantang, The Japan Times melaporkan.

Sex and The CitHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSalah satu pemain dalam Sex and The City, Cynthia Nixon (paling kanan) bahkan saat ini maju sebagai calon gubernur New York dari Partai Demokrat

“Di Jepang itu sangat kuat karena perempuan muda menemukan suara mereka dan menjadi lebih menuntut dalam hubungan,” kata Veronica Chambers, penulis Kickboxing Geishas: How Modern Japanese Women Are Changing Their Nation(Bagaimana Wanita Jepang Modern Mengubah Bangsa Mereka), kepada saya untuk buku saya sendiri, Sex and the City dan Us.

Aspek dongeng dari keempat wanita yang mencari pangeran menawan menggema, katanya, tetapi begitu juga kebebasan mereka dengan mode pada saat ketika gerakan Harajuku Jepang memelopori batas-batasnya sendiri.

Cupcakes dan kritik

Tren lainnya dari acara tersebut menyebar dengan cepat di pasar Asia juga.

Magnolia Bakery, toko kue berbasis di New York yang meluncurkan tren cupcake, memperluas jaringannya ke Jepang dan Korea Selatan, serta beberapa negara Timur Tengah berkat kemunculannya di Sex and the City pada tahun 2000. Sampai tahun lalu, 70% penjualan dari toko mereka di Korea masih berasal dari cupcakes.

Bahkan kemudian di tahun 2000-an, ketika dua film Sex and the City keluar, para pahlawan wanita independen dan berani terus berbicara langsung kepada wanita Jepang.

“Sifat-sifat ini tampaknya mempesona wanita Jepang, yang masih dibebani dengan tekanan harus bertindak seperti boneka lemah lembut dan rapuh, bersedia membungkuk dengan sopan (dan menyerahkan kursi dengan anggun) kepada pria yang suatu hari nanti akan ‘menghormati’ mereka dengan pernikahan,” tulis Trenton Truitt di Japan Today.

Sex and the CityHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSex and the City telah terbukti sangat populer di seluruh Asia, terutama di Jepang di mana diskusi seks dan seksualitas yang jujur sebagian besar adalah tabu

“Terus menerus ditekan oleh orang tua dan masyarakat untuk mencari suami supaya mereka tidak malu menjadi ‘make-inu‘ (pecundang anjing), wanita Jepang sangat terinsipirasi dengan perjuangan dalam suatu hubungan dalam serial itu. mereka terpaku pada pencarian Mr Big mereka, yang pada akhirnya tampaknya sulit di Tokyo, seperti di Manhattan.”

Di Jepang, waralaba Sex and the City tetap paling tidak terkait erat dengan kewanitaan seperti di Amerika Serikat.

“Mengabaikan Sex and the City ibarat mengatakan anda tidak memiliki sepasang strap-on heels (sepatu tinggi bertali( atau gaun hitam kecil,” Kaori Shoji menulis kritiknya dalam review film Sex and the City di The Japan Times.

“Ini seperti mengakui bertahun-tahun selibat. Segera, anda dilihat sebagai kurang dari seorang wanita yang tanpa selera, tanpa rasa, aneh dan tidak diinginkan. Aku sudah mendengar persaudaraan wanita ini menabrak wajahku, dengan bunyi gedebuk yang kasar.”

Di beberapa negara lain, termasuk Singapura, versi AS dilarang. Ketika seri ini mulai mengudara di seluruh dunia pada tahun 1999, pulau konservatif ini melarang serial ini disiarkan sampai tahun 2004.

Permintaan yang tinggi – dan beberapa perubahan dalam undang-undang media – memungkinkan versi yang sedikit ‘dibersihkan’ untuk mulai ditayangkan di sekitar waktu akhir seri ditayangkan di AS, dengan adegan seks dan umpatan yang disensor.

Namun, versi itu tetap mempertahankan beberapa olok-olok yang mereka lakukan ketika brunch dan tema gay utuh. HBO mengecilkan keseksian dalam iklan di Singapura, menggunakan slogan, “Cinta selalu layak untuk ditunggu.”

HarajukuHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSex and the City tiba tepat pada saat sikap feminin yang lebih berani muncul di Jepang, sebagaimana dicontohkan oleh gaya Harajuku

Namun demikian, serial ini tetap tabu di beberapa daerah bahkan beberapa tahun kemudian.

Dalam film buatan tahun 2010, Sex and the City 2, para tokoh dalam serial itu berlibur di Abu Dhabi, dan para produsen berharap untuk syuting di dekat Dubai sebagai kota yang mirip dengan ibukota konservatif Uni Emirat Arab itu.

Tetapi bahkan para pejabat Dubai menolak izin mereka setelah membaca naskah, yang menampilkan adegan Samantha melemparkan kondom pada laki-laki di pasar dan adegan tentang seorang calon kekasih menjadi “Lawrence dari labia saya (Lawrence of my Labia, plesetan dari Lawrence of Arabia – film tentang pangeran dari Arab yang dibuat Hollywood pada tahun 1960an).”

Mereka harus puas dengan Maroko sebagai gantinya. Film ini tidak pernah diputar di UAE, meskipun para pejabat di sana mengatakan distributor tidak diwajibkan untuk izin, mungkin karena kekhawatiran bahwa serial itu akan mengalami terlalu banyak pemotongan sensor.

Ode to JoyHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionOde to Joy, yang dibintangi Jian Xin (kedua dari kiri) mendorong batasan sensitivitas kultur di negara Cina

Baru-baru ini, China memiliki tiruan Sex and The City, sebuah drama yang disebut Ode to Joy.

Ini berpusat pada lima wanita urban dan kehidupan cinta mereka, menghadapi masalah seksual yang tabu; satu karakter mengecewakan pacarnya dengan pengakuan bahwa dia tidak perawan.

Tentu saja, suara itu terdengar lebih jinak bagi standar Sex and the City versi AS, tapi itu hanya intinya: format itu telah memungkinkan cerita-cerita spesifik kultural tentang perempuan untuk diberitahu dengan jujur.

Dan jika hal yang tabu bagi mereka adalah keperawanan, bahkan seorang Samantha harus menghargai mereka. (bbc.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*