TAJUK RENCANA – Arus Mudik yang Melegakan

Arus lalu lintas pemudik di simpang susun tol Colomadu di Desa Denggungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, nampak lengang, Selasa (12/6/2018) sore. Persimpangan itu menghubungkan ruas tol fungsional Salatiga-Colomadu dengan ruas tol fungsional Colomadu-Ngawi. Ruas tol Salatiga-Colomadu hanya dibuka pada pukul 06.00-17.00 sedangkan ruas tol Colomadu-Ngawi dibuka selama 24 jam. (Sumber: KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO).

Setidaknya hingga tiga hari menjelang Lebaran, Selasa (12/6/2018), laporan arus mudik di harian ini didominasi kabar melegakan. Tak ada kemacetan yang menyesakkan.

Tidak ada pula laporan mengenai kecelakaan lalu lintas yang memilukan, yang selama ini menjadi gambaran umum di media mengenai arus mudik. Meski ada peningkatan jumlah pengguna jalan, terutama dari arah Jakarta menuju ke banyak wilayah di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat, serta dari luar Jawa ke Jawa, cerita yang muncul adalah perjalanan ke kampung halaman nan lancar.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu diwarnai kemacetan dan kecelakaan yang menelan korban jiwa. Harian ini dalam liputan Lebaran tahun 2015, misalnya, menurunkan berita dengan judul ”Kelaikan Moda Jadi Masalah, Kecelakaan Bus PO Rukun Sayur Menewaskan 12 Penumpang” (Kompas, 15/7/2015). Bahkan, dalam berita tahun 2014, selama masa angkutan mudik dan balik Lebaran dilaporkan 515 warga meninggal di perjalanan dan kualitas layanan publik terkait transportasi masih rendah (Kompas, 3/8/2014).

Ada berbagai faktor yang membuat arus mudik tahun ini terasa lebih menyenangkan sekalipun di media sosial muncul ”kekecewaan” sejumlah warga karena tak merasakan lagi kemacetan yang identik dengan arus mudik. Perencanaan yang lebih matang (Kompas, 3/7/2017), seperti itulah hasil evaluasi terhadap angkutan Lebaran tahun lalu, menjadi kunci lancarnya arus mudik.

Selain itu, pilihan moda transportasi yang semakin beragam dan murah, seperti penerbangan, transportasi laut, dan transportasi darat, membuat potensi penumpukan pemudik bisa dipecah. Pemudik bersepeda motor memanfaatkan kesempatan mudik gratis menumpang kapal bantuan dari pemerintah pula sehingga mereka tak perlu berpeluh dan berlelah-lelah di jalanan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.

Pada masa angkutan Lebaran tahun-tahun sebelumnya, salah satu penyebab kecelakaan lalu lintas, yang menimbulkan korban jiwa, adalah kelelahan yang didera pemudik bersepeda motor. Kecelakaan lalu lintas dalam masa angkutan mudik tahun ini memang masih terjadi, tetapi jauh lebih terkendali.

Kebijakan penting yang membuat arus mudik tahun ini lebih lancar adalah pembangunan infrastruktur, khususnya jalan tol di Jawa. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat, sejak tahun 2015 hingga akhir tahun 2017 terbangun jalan tol sepanjang 568 kilometer (km). Tahun 2018 ditargetkan terbangun lagi tidak kurang dari 615 km jalan tol baru sehingga membuat transportasi darat semakin lancar.

Tahun ini pula pemerintah membuat kebijakan libur bersama Lebaran lebih awal, 9-20 Juni 2018, sehingga masyarakat, khususnya pegawai negeri sipil, mempunyai lebih banyak pilihan hari untuk memulai perjalanan pulang kampung. Pemudik tidak menumpuk pada satu atau dua hari menjelang Idul Fitri saja.

Jika arus mudik bisa berjalan lancar, tantangan lebih berat bisa jadi terjadi pada arus balik. Warga diyakini akan balik ke Jakarta saat akhir liburan. Waktu kembali tak panjang. Kemacetan bisa terjadi. Antisipasi harus dilakukan pemerintah dan jajarannya. (Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*