PEMBUNUHAN GAJAH – Gubernur Aceh Beri Rp 100 Juta bagi Pemberi Informasi Pembunuh Bunta

Irwandi Yusuf (Sumber: KOMPAS/ZULKARNAINI)

Banda Aceh, Baranews.co – Gubernur Aceh Irwandi Yusuf akan memberikan hadiah Rp 100 juta bagi orang yang memberikan informasi akurat mengenai pelaku pembunuhan gajah jinak bernama Bunta. Irwandi juga meminta pelaku menyerahkan diri kepada polisi dan diproses hukum.

Pernyataan itu disampaikan Irwandi lewat akun resmi Facebook, Selasa (12/6/2018). Ia juga akan merahasiakan identitas pelapor. Pernyataan Irwandi  itu mendorong pengungkapan kasus kematian satwa lindung.

Juri Bicara Gubernur Aceh Wiratmadinata, yang dihubungi, Rabu, membenarkan bahwa Irwandi Yusuf akan memberikan hadiah kepada pihak pemberi informasi pelaku pembunuhan Bunta. ”Pemprov Aceh juga mengutuk pembunuhan Bunta,” lanjutnya.

Bunta, gajah jantan jinak berusia 30 tahun, ditemukan mati di Conservation Response Unit (CRU) Serba Jadi Kabupaten Aceh Timur, Sabtu (9/6/2018). Bunta diduga mati diracun dan satu gadingnya diambil oleh pelaku. Kematian Bunta menambah daftar panjang kematian gajah di Aceh.

Wiratmadinata mengatakan, keberadaan Bunta sangat penting untuk penanganan konflik satwa di Aceh. Sejak 2016, Bunta bertugas di CRU Serba Jadi sebagai penengah konflik gajah liar dengan manusia. Bunta adalah aset berharga bagi Aceh dan Indonesia.

Keberadaan Bunta sangat penting untuk penanganan konflik satwa di Aceh. Bunta bertugas sebagai penengah konflik gajah liar dengan manusia.

Ia menambahkan, polisi harus segera menangkap pelaku dan menjatuhkan hukuman berat kepada pelaku. Membunuh hewan lindung merupakan kejahatan lingkungan. Terlebih, Bunta adalah gajah jinak yang berperan besar menekan konflik satwa.

”Siapa pun oknum yang terlibat harus ditindak tegas agar memberikan efek jera. Kita tentu saja berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi mengingat jasa dan sumbangsih Bunta yang begitu besar bagi penanganan konflik satwa,” tutur Wiratmadinata.

Hingga hari kelima setelah kematian Bunta, polisi belum berhasil menangkap pelaku. Dari hasil nekropsi, Bunta diduga mati karena memakan makanan mengandung racun.

ANTARA/SYIFA YULINNAS

Warga melihat bangkai gajah sumatera di CRU Serba Jadi di tempat penambatannya di Desa Bunin, Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Sabtu (9/6/2018). Gajah sumatera jinak berusia 30 tahun bernama Bunta ini diduga mati dengan cara diracun oleh pemburu yang kemudian mengambil gadingnya.

Kasus pembunuhan gajah jinak di CRU menjadi sorotan publik di Indonesia. Melalui situs Change.org, seorang warga menggagas tanda tangan petisi daring untuk mendesak aparat penegak hukum mengusut kematian Bunta. Hingga Rabu pukul 14.08, sebanyak 19.173 orang telah memberikan tanda tangan.

Pasukan elite

Dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam, gajah yang kerap dipanggil ”Po Meurah” merupakan binatang kesayangan Sultan Aceh. Gajah juga tergabung dalam pasukan tentara elite kerajaan. Kedudukan gajah dalam pemerintahan di masa pemerintahan kerajaan sangat terhormat.

Direktur Institut Peradaban Aceh Haekal Afifa mengatakan, gajah adalah tunggangan khusus Sultan Aceh. Bahkan, Sultan Iskandar Muda memiliki gajah kesayangan bernama Biram Sattany pada abad ke-17.

Gajah merupakan binatang kesayangan Sultan Aceh. Gajah juga tergabung dalam pasukan tentara elite kerajaan.

Di Aceh, gajah juga dipanggil ”Teungku Rayeuk” (abang besar), sama halnya dengan orang Gayo menyebut gajah ”Abang Kul” (abang besar). ”Ini bentuk penghormatan kepada gajah,” kata Haekal.

Maka, tidak heran jika di Aceh ditemukan banyak nama daerah yang mengandung kata gajah, seperti Kecamatan Gajah Putih, Timang Gajah di Bener Meriah, dan Jungka Gajah di Aceh Utara. Bahkan, simbol Kodam Iskandar Muda adalah gambar gajah.

Namun, belakangan gajah menjadi binatang yang paling diburu untuk diambil gadingnya dan diperjualbelikan. Oleh sebagian orang, gajah dianggap hama karena mengganggu perkebunan meski sebenarnya manusia yang merampas habitat gajah. Dampaknya, gajah diburu dengan cara diracun, dijerat, dan ditembak.

Sepanjang 2012-2018, sebanyak 56 gajah mati di Aceh. Pada 2016, jumlah gajah di Aceh diperkirakan tersisa 500 ekor. Jika terus diburu, suatu saat gajah tinggal nama. (ZULKARNAINI/Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*