LINTAS AGAMA – Damai dalam Pikiran, Ucapan, dan Perbuatan

Sinta Nuriyah Wahid melambaikan tangan kepada orang-orang yang menyambutnya dalam acara sahur bersama di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo, Jakarta Utara, Selasa (12/6/2018) dini hari. (Sumber: SUCIPTO UNTUK KOMPAS).

Jakarta, Baranews.co – Bulan Ramadhan menjadi momentum untuk introspeksi dan perbaikan diri. Ibu Negara RI periode 1999-2001, Sinta Nuriyah Wahid, mengajak masyarakat untuk mengamalkan nilai-nilai damai dalam kehidupan berbangsa. Menurut dia, perdamaian harus ada dalam pikiran, ucapan, dan tindakan nyata.

”Saya senang, sekarang umat Muslim yang tadinya tidak mau masuk ke gereja sekarang sudah bisa dan sudah mengucapkan selamat Natal,” kata Sinta dalam acara Sahur Bersama Sinta Nuriyah 2018, di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara (12/6/2018).

Menurut Sinta, hal tersebut merupakan tindakan nyata yang dilakukan sebagai implementasi hidup dalam keberagaman. Namun, ia masih resah dengan ujaran kebencian yang marak di media sosial. Hal ini dapat merusak persaudaraan dan tidak sesuai dengan ajaran agama dan Pancasila.

”Fitnah terjadi di mana-mana. Berita bohong banyak ditemukan di media sosial. Apakah itu bentuk pengamalan Pancasila?” tanya Sinta bernada retoris.

Dalam ceramahnya, Sinta juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dengan khotbah yang menggunakan kata-kata menakutkan. ”Kita semua bersaudara dan tidak boleh saling membenci,” ujarnya.

Kita semua bersaudara dan tidak boleh saling membenci.

Hal senada disampaikan Inayah Wahid, putri bungsu presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurut dia, acara sahur ini adalah sahur lintas agama dan budaya. Ia memandang, perbedaan itu adalah fakta yang ada di Indonesia.

”Sekarang pilihannya ada di tangan kita, apakah fakta itu kita lihat sebagai penghalang atau sebagai karunia yang mendatangkan berkah? Kalau saya, lebih memilih melihatnya sebagai karunia. Kalau kita mau maju, ya, mulai dari situ aja dulu,” tutur Inayah.

Sahur bersama ini bermitra dengan Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI). Ketua Pelaksana Acara Js Liem Liliany Lontoh menyampaikan, INTI lahir akibat tindakan diskriminatif negara terhadap sebagian warganya di masa lalu. Melalui kejadian tersebut, organisasi ini berkomitmen untuk terus mendukung upaya memperjuangkan keadilan, kebersamaan, persahabatan, dan persaudaraan tanpa terkecuali.

Juru bicara INTI, Lexyndo Hakim, mengatakan, melalui acara ini, INTI ingin berbagi kebahagiaan dan kebersamaan. Menurut dia, warga harus terus saling mengingatkan bahwa meskipun beragam, kita adalah satu, Indonesia.

”Inilah yang bisa kami lakukan. Melalui acara sahur bersama ini, kami tidak lagi melihat isu-isu yang dapat memecah belah persaudaraan kita. Kami sudah membuang jauh-jauh pemikiran seperti itu,” ucap Lexyndo.

Warga antusias

Sejak pukul 01.45, warga sekitar Kalijodo dan warga dari Jakarta Barat telah memadati tiga pintu masuk RPTRA Kalijodo. Mereka membawa serta anak-anaknya. Para warga lanjut usia (lansia) juga hadir.

Antusias warga terlihat dari jumlah yang hadir, melebihi target 1.500 orang. Panitia mencatat lebih dari 2.400 orang dewasa dan 100 anak-anak turut bergabung dalam acara sahur bersama itu.

SHARON UNTUK KOMPAS

Masyarakat antusias dalam mengikuti acara sahur bersama. Mereka datang sejak pukul 01.00 dini hari.

Menurut petugas satuan pengamanan (satpam) RPTRA Kalijodo, Maman Supraman (40), sepanjang jalannya acara, warga dapat diatur dengan baik. Meskipun ada yang membawa anak dan juga ada warga lansia, mereka tetap dapat menjaga ketertiban.

”Ada sekitar seratus petugas satpam RPTRA Kalijodo yang turut mengamankan acara ini. Alhamdulillah, warga juga bisa diatur. Sejak saat masuk, nunggu dapet konsumsi sampe pulangnya juga mereka tetap tertib,” kata Maman.

Ketertiban ini, lanjutnya, dapat tercipta karena adanya komunikasi yang baik. Warga mau mendengarkan dan mengikuti arahan petugas keamanan, terutama untuk mendahulukan warga lansia dan tetap menjaga anak-anak.

Terkait keberagaman di Indonesia, Endang (49), seorang petugas satpam,  mengatakan, dirinya melihat keberagaman seperti pelangi. Setiap warna yang berpadu menciptakan suatu keindahan. Begitu juga manusia, perbedaan itu seharusnya dapat tetap terlihat indah.

Keberagaman seperti pelangi. Setiap warna yang berpadu menciptakan suatu keindahan. Begitu juga manusia, perbedaan itu seharusnya dapat tetap terlihat indah.

Pesan perdamaian ini dirasakan juga oleh undangan sahur bersama. Warga Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (62), sepakat dengan nilai dan pesan dalam kegiatan tersebut. ”Intinya damai. Kita hidup di Indonesia, harus damai sama semua yang ada di Indonesia,” kata sopir bajaj itu.

Begitu pula dengan warga yang tinggal di kolong jembatan gantung di Penjaringan, Udin (36). Ia menilai, seseorang tidak bisa hidup sendiri. Oleh karena itu, perilaku terhadap orang lain perlu diperhatikan. ”Hidup itu yang penting tidak merugikan orang lain,” ujarnya.

Seorang warga RW 005 Kelurahan Pejagalan, Yanah (40), turut mendukung acara tersebut. Ia datang bersama suami, Iman Tukiman (47), dan anaknya. Bagi Yanah, perbedaan yang ada di masyarakat harusnya bukan menjadi masalah.

”Kalau melihat acara ini, saya bangga karena kita bisa bersatu. Bisa bekerja sama. Perbedaan itu tak masalah, yang penting kita mau bergabung tanpa memandang agama dan suku,” ucap Yanah.

Dalam acara sahur bersama ini, Yayasan Anne Avantie turut memberikan tiga kursi roda kepada tiga komunitas berbeda yang membutuhkan. Komunitas tersebut adalah komunitas pemulung, sopir ojek dan bajaj, serta anak yatim piatu.

SHARON UNTUK KOMPAS

Sinta Nuriyah menyerahkan kursi roda secara simbolis kepada komunitas yang membutuhkan.

Acara sahur bersama juga dimeriahkan tim marawis dan pertunjukan barongsai. Menurut Sekretaris Jenderal INTI Banten Elvan Wicaksana Wiguna, pertunjukan barongsai dalam acara sahur bersama merupakan simbol keberagaman.

 

Momentum

Direktur Bina Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Sambodo Purnomo Yogo turut hadir dalam acara sahur bersama. Ia melihat keberagaman masyarakat Indonesia yang ada dapat menjadi kekuatan untuk kemajuan bangsa.

”Indonesia adalah bangsa yang heterogen sehingga kita bisa lebih menerima perbedaan. Masyarakat pun harus mau menerimanya dengan sikap toleran sehingga dapat menjadi modal dasar untuk membangun bangsa,” kata Sambodo.

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie memandang kegiatan sahur bersama ini sebagai momentum berkumpulnya orang dari berbagai kalangan yang diisi dengan kesadaran kebinekaan. Menurut dia, nilai terpenting yang perlu diresapi adalah mengamalkan nilai puasa, yakni menahan diri.

Nilai terpenting yang perlu diresapi adalah mengamalkan nilai puasa, yakni menahan diri.

”Ini momentum untuk semua umat beragama berada dalam satu front. Sama-sama menahan diri dari godaan perpecahan dan permusuhan,” katanya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini juga berharap nilai-nilai perdamaian yang disampaikan dalam kegiatan ini diresapi terus-menerus. Inspirasi yang diwariskan oleh Gus Dur tersebut terus disemai dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadhan.

Jimly juga mengaitkan isu toleransi dengan peristiwa peledakan di Surabaya beberapa waktu lalu. Menurut dia, peristiwa yang mencelakakan orang lain atas dasar apa pun tidak bisa dibenarkan. Ia melihat hal tersebut sebagai puncak dari kesesatan berpikir.

Menurut Jimly, ada lima tingkat kesesatan berpikir yang sudah dilakukan pihak-pihak yang melakukan teror. Pertama adalah pikiran sesat yang ada dalam pikiran seseorang. Hal tersebut bisa berkembang jika sudah disebarkan dan menjadi tingkatan kedua, yakni pikiran yang menyesatkan orang lain.

”Tingkat selanjutnya sudah gawat, yakni mencelakai orang lain dalam aksi teror pengeboman. Tingkat keempat dan kelima, mereka melakukan aksi mencelakai diri sendiri dan anggota keluarga dalam bom bunuh diri yang mengajak anak dan istri,” tutur Jimly.

Ia mengajak semua kalangan agar memperhatikan masalah ini dengan konsisten. Menurut dia, terorisme bukan soal rendah atau tingginya tingkat pendidikan seseorang. Bagi Guru Besar Penuh Ilmu Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini, permasalahan terorisme ada pada cara pandang yang sempit terhadap kehidupan.

Jimly mengimbau institusi pendidikan dapat lebih memperhatikan masalah ini. Tugas dosen dan guru tidak hanya soal transfer ilmu pengetahuan. Pengajar tidak lagi hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga ilmu kehidupan.

”Saat ini, pengetahuan bisa didapat dengan mudah di internet. Tugas guru dan dosen adalah menjadi teladan dalam bersikap kepada ilmu, sejarah, mata kuliah, dan masa depan bangsa,” ujar Jimly.

Tahun politik 

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah 2018 dan Pemilu Presiden 2019, Jimly menilai, masa kampanye adalah masa yang berat. Biasanya, akan ada dikotomi antarpendukung. Dalam situasi seperti ini, isu suku, agama, ras, dan antargolongan kerap dipakai sebagai alat untuk menjatuhkan lawan politik.

”Pemilihan kepala daerah dan juga presiden bukan hanya soal menang dan kalah. Proses menuju pemilihan pemimpin yang amanah itu jauh lebih penting,” katanya.

Nilai-nilai yang ada dalam kegiatan sahur bersama ini, menurut Jimly, perlu diresapi dalam pikiran, diucapkan dengan jujur, dan diwujudkan dengan perbuatan sehari-hari. Jika begitu, masalah apa pun yang dihadapi bangsa ini akan diselesaikan dengan cara-cara yang damai. (SUCIPTO/SHARON PATRICIA)/R ADHI KUSUMAPUTRA/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*