KHOTBAH IDUL FITRI – Jangan Nodai Hari Kemenangan dengan Ceramah Politik Praktis

Ilustrasi: Umat Islam menjalankan sholat Idul Fitri di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, Minggu (25/6/2017). (Sumber: KOMPAS/AGUS SUSANTO).

Jakarta, Baranews.co – Para penceramah atau khatib salat Idul Fitri diimbau agar senantiasa menjaga kesucian hari kemenangan dengan tidak membawakan ceramah yang mengandung pesan-pesan politik praktis.

Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah di Indonesia berdekatan dengan pesta demokrasi, yakni pemilihan kepala daerah serentak pada 27 Juni 2018. Meski demikian, para khatib agar menghindari pesan-pesan politik dalam khotbahnya.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Muhammadiyah Amin di Jakarta, Rabu (13/6/2018), menyampaikan, saat memberikan khotbah salat Idul Fitri, para khatib tidak boleh membicarakan politik praktis. Jika sampai terjadi, tindakan itu menodai kesucian Idul Fitri sebagai hari kemenangan.

“Idul Fitri adalah hari kemenangan, kemenangan atas perlawanan hawa nafsu. Mengutip seruan Menteri Agama tentang ceramah di rumah ibadah, seorang khatib juga hendaknya memperhatikan beberapa hal,” ujar Amin.

Amin menjelaskan, berdasarkan seruan dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, khotbah yang disampaikan penceramah hendaknya disampaikan dalam kalimat yang baik dan santun. Ceramah juga harus bebas dari umpatan, makian, maupun ujaran kebencian yang dilarang oleh agama mana pun.

KOMPAS/PRADIPTA PANDU MUSTIKA

Muhammadiyah Amin

Selain itu, materi yang disampaikan juga tidak mempertentangkan unsur suku, agama, ras, antargolongan (SARA), tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, dan tidak bermuatan kampanye politik praktis atau promosi bisnis.

Semua seruan dan imbauan mengenai ceramah ini bertujuan untuk menjaga persatuan, meningkatkan produktivitas bangsa, merawat kerukunan umat beragama, dan memelihara kesucian tempat ibadah.

Tempat ibadah

Menurut Amin, tempat ibadah semua umat beragama tak terkecuali masjid merupakan lambang pemersatu bagi umat beragama tersebut. Berbagai kelompok, aliran maupun mazhab politik, semuanya bisa rukun dan damai menunaikan ibadah di masjid.

Di ruang publik perbedaan politik itu sangat nampak, namun semuanya harus menyatu dalam spirit tauhid dan ukhuwah saat memasuki masjid

“Meski di ruang publik perbedaan politik itu sangat nampak, namun semuanya harus menyatu dalam spirit tauhid dan ukhuwah saat memasuki masjid,” ujarnya.

Oleh karena itu, Amin berharap masyarakat senantiasa menjaga masjid dari politik sektarian atau kebencian yang muncul akibat perbedaan di antara suatu kelompok. Jangan sampai masyarakat enggan masuk ke masjid karena masjid tersebut memihak politik tertentu.

KOMPAS/PRADIPTA PANDU MUSTIKA

Masyarakat melakukan sholat fardhu dhuhur dan itikaf di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (17/5/2018). Datangnya bulan suci Ramadhan dijadikan muslim di seluruh dunia untuk mencari kebaikan sebanyak-banyaknya.

“Masjid adalah pertahanan umat untuk meredam segala bentuk perbedaan. Masjid merupakan tempat ibadah milik bersama, bukan kelompok politik tertentu,” ujarnya.

Jauhi tema politik

Imbauan untuk para khatib agar menjauhi tema-tema khotbah yang bernuansa politik praktis juga disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin. Menurutnya, khotbah yang mengandung politik praktis dikhawatirkan dapat memecah belah umat Islam di tahun politik.

Jauhi tema khotbah politik praktis dan jangan jadikan khotbah Idul Fitri sebagai ajang kampanye. Khatib perlu menyampaikan khotbah dengan pesan-pesan yang damai.

“Jauhi tema khotbah politik praktis dan jangan jadikan khotbah Idul Fitri sebagai ajang kampanye. Khatib perlu menyampaikan khotbah dengan pesan-pesan yang damai,” kata Ma’ruf.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Presiden Joko Widodo menggandeng Ketua MUI KH Ma’ruf amin usai memukul bedug secara bersamaan untuk membuka Festival Sholawat Nusantara Piala President yang digelar di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, sabtu (24/2). Festival ini di seluruh Indonesia dan puncaknya akan dilaksanakan saat Hari Santri.

Maruf menyampaikan, perbedaan aspirasi dalam dunia politik hendaknya jangan sampai memicu permusuhan. Perbedaan pandangan politik seharusnya dianggap sebagai hal yang biasa.

Ma’ruf berharap, Idul Fitri dapat dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan seluruh muslim di tanah air. Selain itu, masyarakat juga diharapkan dapat memanjatkan doa untuk keselamatan umat muslim yang sedang mengalami tragedi kemanusiaan seperti di Palestina, Suriah dan Rohingya. (PRADIPTA PANDU MUSTIKA/Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*