PERANCIS TERBUKA 2018: Akhir Manis Halep

Petenis Romania, Simona Halep, meluapkan kegembiraan meraih gelar perdana Grand Slam setelah menaklukkan petenis Amerika Serikat, Sloane Stephens, pada final Perancis Terbuka di Roland Garros, Paris, Sabtu (9/6/2018). Halep menang 3-6, 6-4, 6-1. (Sumber: KOMPAS/AP PHOTO/THIBAULT CAMUS).

Paris, Baranews.co – Simona Halep frustrasi setelah kalah pada final Perancis Terbuka 2017. Namun, kekalahan dari Jelena Ostapenko setahun lalu itu memberinya kekuatan untuk melawan Sloane Stephens pada final di Roland Garros, Paris (9/6/2018).

Tampil dengan emosi yang lebih stabil, Halep untuk pertama kalinya membawa pulang trofi juara Grand Slam setelah menang, 3-6, 6-4, 6-1.

Penonton memberinya penghargaan dengan tepuk tangan sambil berdiri sembari meneriakkan nama ”Simona! Simona!” ketika servis petenis berusia 26 tahun itu tak bisa dikembalikan Stephens. Itu menjadi poin terakhir Halep di Roland Garros 2018. Darren Cahill, pelatihnya yang berada di tribune, bahkan menangis menyambut kemenangan petenis yang dilatihnya sejak 2016 itu.

”Terima kasih atas dukungan semua penonton. Saya melakukan yang bisa saya lakukan setelah final tahun lalu. Saya memimpikan momen ini sejak pertama kali bermain tenis,” kata Halep yang tahun lalu kalah 6-4, 4-6, 3-6, meski unggul 6-4, 3-0.

Halep meraih gelar Grand Slam pertamanya setelah gagal pada tiga final sebelumnya. Selain kalah dari Ostapenko, dia juga kalah dari Maria Sharapova pada final Perancis Terbuka 2014 dan Caroline Wozniacki (Australia Terbuka 2018).

Berdasarkan catatan Asosiasi Tenis Wanita (WTA), hanya ada tiga petenis lain yang menjuarai Grand Slam untuk pertama kalinya setelah kalah pada tiga final atau lebih. Mereka adalah Jana Novotna yang meraih gelar Grand Slam pertama pada Wimbledon 1998, Chris Evert (Perancis Terbuka 1974), dan Kim Clijsters (AS Terbuka 2005). Clijsters menjuarai AS Terbuka bahkan setelah selalu kalah pada empat final Grand Slam lainnya.

Sebelum final Halep melawan Stephens berlangsung, mantan petenis Martina Navratilova menilai penampilan Halep di Roland Garros kali ini lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. ”Dia tak lagi terganggu oleh kesalahan yang dilakukan. Dia bisa dengan cepat melupakan kesalahan dan fokus untuk poin berikutnya,” kata Navratilova dalam laman resmi WTA.

Hal itu dibuktikan dalam final yang berlangsung selama 2 jam 3 menit. Halep menang setelah kehilangan set pertama dan tertinggal, 0-2, pada set kedua.

Pada set pertama, Stephens sempat membuat Halep kesal ketika semua pukulannya bisa dikembalikan. Stephens, bahkan mengontrol perebutan poin yang hampir semuanya terjadi melalui reli lebih dari 10 pukulan.

Tampil dengan sikap tubuh yang lebih tenang pada set pertama, Stephens juga lebih cerdas dalam menempatkan bola. Arah pukulannya selalu berubah hingga membuat Halep harus berlari dari satu sisi ke sisi lapangan lain. Sebaliknya, Stephens bisa stabil berada di baseline karena Halep selalu mengarahkan bola ke tengah lapangan.

Lebih sabar

Pada set kedua, dengan mengurangi kesalahan yang dilakukan dan tampil lebih sabar dalam adu pukulan dari baseline, Halep unggul, 4-2, setelah tertinggal 0-2. Ditambah dukungan penonton yang selalu meneriakkan nama ”Simona! Simona!”, Halep pun merebut set kedua.

Motivasi dari penonton serta determinasi untuk menjadi juara membuat Halep tampil kian membaik pada set ketiga. Dia hanya kehilangan satu gim. Sejak memenangi semifinal, Halep selalu mengatakan, penampilannya di Roland Garros dipersembahkan untuk penonton yang selalu mendukungnya.

Halep, juara Perancis Terbuka Yunior 2008, menjadi petenis putri kedua Romania yang menjuarai Grand Slam setelah Virginia Ruzici, yang juga menjadi juara di Roland Garros pada 1978.

Thiem percaya diri

Di sela kunjungannya ke Roland Garros, Paris, pekan lalu, Toni Nadal menyebut beberapa nama yang menjadi pesaing berat keponakannya, Rafael Nadal. Dominic Thiem, yang akan menjadi lawan Nadal di final, dinilai sebagai pesaing terberat.

Petenis Austria berusia 24 tahun itu menjadi satu-satunya petenis yang bisa mengalahkan Nadal di lapangan tanah liat dalam dua musim terakhir. ”Dia adalah petenis favorit melawan siapa pun di lapangan ini. Namun, saya tetap tahu bagaimana cara mengalahkannya,” kata Thiem, percaya diri.

Pelatih Thiem, Guenter Bresnik, menilai, anak didiknya itu makin dewasa. Namun, Bresnik juga mengakui mengalahkan Nadal di final Perancis Terbuka akan sulit dilakukan.

Thiem tiga kali mengalahkan Nadal dalam sembilan pertemuan. Namun, ketiga kemenangan itu didapat dalam pertandingan dengan format best of three sets.

Pada dua pertemuan di Perancis Terbuka, babak kedua 2014 dan semifinal 2017, Thiem selalu kalah. Tampil konsisten untuk melawan Nadal di arena Grand Slam, yang berformat best of five sets, akan menjadi tantangan besar bagi Thiem. (AP/REUTERS/IYA)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*