Lokasinya Sama, Ini Bedanya Hepatitis dan Kanker Hati

Walau berlokasi sama, hepatitis dan kanker hati tentu saja berbeda. Hepatitis merupakan peradangan yang terjadi pada hati, bisa saja diakibatkan oleh obat-obatan, konsumsi alkohol atau keadaan kesehatan tertentu. Akan tetapi kebanyakan disebabkan oleh virus yang akan menginfeksi dan membagi hepatitis menjadi lima tipe, yakni tipe A, B, C, D dan E.

Hepatitis berbeda dari kanker hati, tapi bila dibiarkan ia memang bisa jadi kanker. (Foto: ilustrasi/thinkstock)

Baranews.co – Walau berlokasi sama, hepatitis dan kanker hati tentu saja berbeda. Hepatitis merupakan peradangan yang terjadi pada hati, bisa saja diakibatkan oleh obat-obatan, konsumsi alkohol atau keadaan kesehatan tertentu. Akan tetapi kebanyakan disebabkan oleh virus yang akan menginfeksi dan membagi hepatitis menjadi lima tipe, yakni tipe A, B, C, D dan E.

Sedangkan kanker hati merupakan kondisi di mana tumbuhnya sel kanker di dalam organ hati. Namun tak semua sel kanker yang berada di dalam hati bisa disebut kanker hati, kebanyakan kanker hati berasal dari kanker metastase atau penyebaran dari kanker organ lain, seperti misalnya kanker kulit melanoma.

Jika hepatitis dalam tahap kronis tak segera ditangani atau diobati, maka dapat berpotensi menjadi kanker hati. Dr dr Andri Sanityoso, SpPD-KGEH dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menjelaskan kepada detikHealth ada beberapa tahap atau fase saat hepatitis dapat menjadi kanker hati.

“Yang pertama tahap kronis, lalu munculnya fibrosis atau jaringan parut, kemudian sirosis atau pengerasan hati sirosis. Nah, jika adanya kerusakan terus-menerus dan akhirnya berbenjol-benjol biasanya akan menjadi kanker,” tutur dr Andri, sapaannya.

Ada juga kondisi hepatitis yang dapat menjadi kanker tanpa melalui tahapan sirosis maupun fibrosis, lanjutnya. Yaitu pada pengidap hepatitis B kronis, di mana dapat ditularkan melalui darah bahkan sejak berada dalam rahim ibu.

Namun tentunya hal ini jika sang ibu mengidap hepatitis B juga, yang nantinya sifat dan genom virus tersebut dapat terintegrasi ke dalam tubuh dan bermutasi menjadi sel kanker. “Efeknya baru akan muncul dan terlihat 30 hingga 40 tahun kemudian, menjadi kanker,” pungkas dr Andri. (detik.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*