Belajar Fisika Ternyata Aktifkan Fungsi Otak Baru

Belajar fisika ternyata tidak hanya membuat seseorang menjadi lebih pintar, tetapi juga mengaktifkan area baru pada otak. Dilansir melalui Dailymail, sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Drexel menemukan bahwa bagian otak yang tidak terkait ilmu belajar menjadi aktif ketika seseorang mempelajari fisika.

KUTAI KARTANEGARA, 1/5 - METODE PEMBELAJARAN INQUIRI. Siswa kelas 5 berdiskusi dengan guru saat pratik pelajaran fisika di SDN 14 Anggana, Desa Tani Baru, Kab. Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (30/4). Sejumlah SD dan SMP di pelosok pesisir sungai Mahakam, Kaltim dengan melibatkan mahasiswa perguruan tinggi serta Total E&P Indonesie, menerapkan sistem pendidikan inquiri, yaitu metode pembelajaran dimana siswa diajak aktif berdiskusi dalam proses penemuan, serta mengembangkan ide dalam memecahkan masalah. FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/Koz/Spt/13.

Baranews.co – Belajar fisika ternyata tidak hanya membuat seseorang menjadi lebih pintar, tetapi juga mengaktifkan area baru pada otak. Dilansir melalui Dailymail, sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Drexel menemukan bahwa bagian otak yang tidak terkait ilmu belajar menjadi aktif ketika seseorang mempelajari fisika.

Dalam penelitiannya, para ilmuwan menggunakan fMRI atau pencitraan resonansi magnetik fungsional dalan mengukur aliran darah di otak saat menyelesaikan soal fisika. Para peneliti memeriksa data seseorang sebelum kursus fisika dan setelahnya. Proses neurobiologis dalam pembelajaran adalah kompleks.

Profesor Eric Brew dari Drexel University, College or Arts and Science mengatakan, proses neurobiologis tidak selalu terhubung dengan apa yang dipikirkan seseorang. “Prosesnya lebih kompleks dalam mendukung pembelajaran,” kata Brew.

Studi tersebut melibatkan 50 siswa sebagai relawan. Para siswa diberikan pengajaran fisika khusus modeling instruction sehingga lebih aktif dalam penalaran.

Sebelum mengambil kursus fisika para siswa menjalani tes fMRI. Setelahnya, mereka juga mengikuti tes fMRI kembali.

Saat kelas belum dimulai, hasil scan menunjukkan bagian otak yang terhubung dengan perhatian, memori kerja, dan pemecahan masalah memperlihatkan aktivitas. Setelah itu, scan menunjukkan peningkatan aktivitas di kutub frontal yang terkait pembelajaran.

Para peneliti menyimpulkan, aktivitas otak dapat dimodifikasi oleh berbagai bentuk instruksi. Perubahan pada otak mungkin terkait dengan perubahan perilaku yang lebih kompleks mengenai cara siswa bernalar.

Perubahan tersebut terjadi melalui pertanyaan-pertanyaan fisika pasca relatif terhadap pra instruksi. “Ini bisa menjadi pergeseran strategi untuk akses pengetahuan ke ilmu fisika,” kata Brew. (republika.co.id/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*