Ditangkap Karena Unggah Ancaman Bom Korem, Pemuda Kupang Mengaku Iseng

Polres Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur menangkap Elki Natonis (19). Remaja itu ditangkap atas dugaan mengancam akan mengebom Korem 161/Wirasakti Kupang melalui unggahan pada akun media sosial facebook.

Baranews.co – Polres Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur menangkap Elki Natonis (19). Remaja itu ditangkap atas dugaan mengancam akan mengebom Korem 161/Wirasakti Kupang melalui unggahan pada akun media sosial facebook.

“Elki Natonis ditangkap karena mengancam akan mengebom Korem 161/Wirasakti Kupang melalui akun facebooknya dengan nama Ricko Lumba,” kata Kasat Reskrim Polres Timor Tengah Selatan Iptu Jamari dilansir Antara, Minggu (20/5).

Dia menjelaskan, tersangka penyebar ancaman bom tersebut merupakan warga Kampung Alor, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Elki Natonis ditangkap Tim Buru Sergap Polres TTS saat sedang bersantai di jalanan Kampung Alor pada Sabtu (19/5) sekitar pukul 13.00 WITA, dan saat ini telah diamankan di Markas Polda NTT.

Iptu Jamari menjelaskan ketika ditangkap, pelaku mengaku hanya iseng memuat status pengancaman bom tersebut. Meski demikian, perbuatan pelaku telah menimbulkan keresahan publik. Karena saat itu sedang marak terjadi pengeboman di beberapa daerah di Tanah Air.

Menggunakan akun facebook Riko Lumba, pelaku menulis, “untuk NTT belum saatnya. Kalian tunggu aja kami akan bom langsung di korem” yang disebarkan melalui grup facebook Victor Lerik (Veki Lerik) bebas bicara bicara bebas.

Atas perbuatannya, pelaku diancam pasal 45 ayat 4 jo pasal 27 ayat 4 UU Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 19 Tahun 2009 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman kurungan pidana maksimal 6 tahun dan denda Rp1 miliar.

Selain Elki Natonis, polisi juga mengamankan Bai Natonis selaku adik pelaku, di rumah mereka saat itu memegang barang bukti berupa handphone yang digunakan pelaku.

“Adik dari tersangka ini masih berstatus sebagai saksi. Dia hanya menyaksikan saja. Kasus ini selanjutnya ditangani Polda NTT sebagai yang menerima laporan,” katanya.

 

(merdeka.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*