PENCEMARAN UDARA: Air Hujan di Indonesia Semakin Asam

Petugas dari Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang mengukur kualitas udara dan emisi gas di kawasan Simpang Lima, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (16/5/2016). (Sumber: KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA).

Jakarta, Baranews.co — Air hujan di kota-kota besar di Indonesia saat ini cenderung bersifat asam. Kondisi ini menandakan tingginya konsentrasi partikel pencemar sulfur dioksida dan nitrogen oksida di atmosfer.​

“Umumnya kota-kota di Indonesia air hujannya sudah bersifat asam dengan pH (potensial Hidrogen) 5,6 – 4,5. Daerah dengan derajat keasaman tinggi, yaitu pH di bawah 4.5 di antaranya Lampung, Yogyakarta, Palu, dan Jayapura,” kata Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto, di Jakarta, Kamis (17/5).

Umumnya kota-kota di Indonesia air hujannya sudah bersifat asam dengan pH (potensial Hidrogen) 5,6 – 4,5. Daerah dengan derajat keasaman tinggi, yaitu pH di bawah 4.5, di antaranya Lampung, Yogyakarta, Palu, dan Jayapura.

​Menurut Siswanto, pemantauan tingkat keasaman air hujan (pH) di Indonesia dilakukan dilakukan di 52 stasiun. Dari hasil analisis Nilai Ambang Batas (NAB) pH air hujan normal sebesar 5,6, jika di bawahnya bersifat asam. Sedangkan pH air hujan diatas NAB bersifat basa.​

BMKG 2018

Pemantauan kualitas keasaman air hujan di berbagai wilayah. Garis merah untuk menunjukkan batas asam atau basa. Di bawahnya berarti asam, di atasnya basa.

Data BMKG, sekitar tahun 1985 – 1990, pH rata-rata air hujan di Jakarta masih di atas 5. Namun, 2011 – 2014 rata-rata kadar pH sudah di bawah 5. Kondisi serupa terjadi di Medan, Sumatera Utara. Sedangkan di Surabaya, masih terlihat fluktuatif.​

Menurut Siswanto, hujan asam terjadi saat sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) naik ke atmosfir dibantu oleh angin. So2 dan NOx bereaksi dengan air (H2O), oksigen (O2) dan senyawa kimia lain hingga membentuk asam sulfat dan nitrat. Sebelum jatuh ke tanah, senyawa tersebut bercampur dengan material lain.​

“Sebagian kecil SO2 dan NOx yang menyebabkan hujan asam berasal dari sumber alam seperti gunung api, namun penyumbang terbesar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil. Sekitar dua pertiga SO2 dan seperempat NOx berasal dari pembangkit listrik, kendaraan, pabrik, kilang minyak dan industri lainnya,” kata Siswanto.

Tren di Jakarta menurun 

​Kajian peneliti BMKG Sheila Dewi Ayu Kusumanigtyas dan tim yang dipublikasikan di jurnal internasional Metrics pada 30 Maret 2018 lalu juga menemukan, sejak tahun 2000-2015 tren pH di Jakarta menurun. Namun demikian, konsentrasi SO2 dan NOx di Jakarta pada periode yang sama ternyata menurun.

​Dalam kajian ini juga ditemukan juga penurunan konsentrasi Suspended Particulate Matter (SPM) dan Particulate Matter (PM)10 di Jakarta. Penurunan partikel pencemar di Jakarta ini disebabkan oleh faktor iklim seperti peningkatan curah hujan dan adanya intervensi kebijakan. Tingginya curah hujan akan menyebabkan polutan yang ada di atmosfer tercuci dan terdeposisi ke permukaan bumi.

Penurunan partikel pencemar di Jakarta ini disebabkan oleh faktor iklim seperti peningkatan curah hujan dan adanya intervensi kebijakan.

​”Temuan kami tentang penurunan konsentrasi gas NO2 di Jakarta mulai sesuai dengan amatan NASA melalui satelit,” kata dia.

​Menurut Sheila, penurunan ini kemungkinan disebabkan dampak dari diperkenalkannya beberapa kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di masa lalu. Misalnya, pada tahun 2007 Gubernur DKI mengeluarkan Peraturan Nomor 141 tentang Penggunaan Bahan Bakar Gas untuk Transportasi Publik dan Kendaraan Operasional Pemerintah Daerah.

​”Berbagai kebijakan berupa peralihan bahan bakar fosil ke gas untuk transportasi, pensyaratan 30 persen untuk ruang terbuka hijau, dan kebijakan megenai pembatasan penggunaan mobil operasional kemungkinan mempengaruhi penurunan ini,” kata dia.

​Sekalipun terjadi penurunan partikel pencemar di Jakarta, namun menurut Sheila, derajat keasaman air hujan di kota ini terus menurun. “Jadi, asamnya pH air hujan di Jakarta kemungkinan lebih dipengaruhi faktor kiriman polutan dari daerah sekitarnya, terutama daerah industri,” kata Sheila.

Sekalipun terjadi penurunan partikel pencemar di Jakarta, namun menurut Sheila, derajat keasaman air hujan di kota ini terus menurun.

​Siswanto mengatakan, pengukuran kualitas udara ambient yang dilakukan Sheila mnggunakan metode passive gas sehingga udara yang diteliti hanya yang di sekitar alat pada radius tidak cukup luas. Sementara pengukuran PH menggunakan ARWS, dimungkinkan pengaruh regional yang lebih luas.

“Di Indonesia, air hujan berasal sebagian besarnya dari penguapan laut di sekitarnya,” kata dia.

​Temuan lainnya dari kajian ini adalah penurunan drastis konsentrasi rata-rata harian PM2,5 saat libur Lebaran tahun 2016 dan 2017. Ini menunjukkan sumbangan transportasi yang besar terhadap pencemaran PM2,5. (AHMAD ARIF/Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*