Tanda Kejayaan Spanyol Berulang

Gelandang kreatif tim nasional Spanyol, Isco Alarcon (kiri), bersama kapten Sergio Ramos dan penyerang Marco Asensio (kanan), merayakan gol yang dia ceploskan ke gawang Italia pada laga kualifikasi Piala Dunia 2018 di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, 2 September 2017., (Sumber: GETTY IMAGES/CLAUDIO VILLA).

Spanyol kembali difavoritkan menjadi salah satu calon juara Piala Dunia 2018. Skuad ”La Furia Roja” tampil sangat prima di sepanjang babak kualifikasi dan tak terkalahkan. Spanyol menjadi tim yang produktif mencetak gol dan kuat bertahan.

Delapan tahun lalu, Spanyol mengukir sejarah dengan menjuarai Piala Dunia untuk pertama kali di Afrika Selatan. Prestasi Spanyol kala itu sudah diramalkan sebelumnya karena ”La Furia Roja” tampil tanpa cela sepanjang babak kualifikasi Piala Dunia 2010.

Saat itu, Spanyol memenangi 10 laga yang dijalani dengan 28 gol dan hanya lima kali kebobolan atau surplus 23 gol. Spanyol menerapkan prinsip ”serangan adalah pertahanan terbaik”. Semua lawan pun dilibas tanpa ampun.

Tanda-tanda serupa kembali berulang pada kualifikasi Piala Dunia 2018 ketika Spanyol juga tampil tanpa cela. Dari 10 laga, Spanyol menang sembilan kali dan sekali seri. Produktivitas gol dan kualitas pertahanan Spanyol bahkan lebih baik dibandingkan dengan penampilan tahun 2010. Spanyol mencetak 36 gol dan hanya kebobolan tiga gol.

Peningkatan kualitas lini depan dan pertahanan Spanyol dimulai seusai Piala Eropa 2016. Kehadiran Pelatih Julen Lopetegui yang menggantikan Vicente del Bosque membawa perubahan positif bagi Spanyol.

Lopetegui tidak mau terpatok pada pemain yang pernah dipilih Del Bosque memperkuat timnas. Mantan kiper Real Madrid itu membuka kesempatan bagi pemain Spanyol yang penampilannya menonjol di setiap klub untuk membuktikan kemampuan mereka di skuad La Furia Roja.

Bongkar pasang dilakukan dengan memanggil beberapa pemain yang jarang menjadi langganan timnas Spanyol, seperti Iago Aspas, Lucas Vazquez, Rodrigo, Saul Niguez, Daniel Parejo, dan Aritz Aduriz. Dengan cara itu, Lopetegui mendapat gambaran riil pemain mana yang betul-betul bagus dan sesuai kebutuhannya.

Lopetegui juga mengombinasikan para pemain senior, seperti Andres Iniesta, David Silva, dan Sergio Ramos, dengan para pemain muda, seperti Isco, Marco Asensio, dan Lucas Vazquez. Mayoritas pemain yang dipilih Lopetegui berasal dari klub Barcelona, Real Madrid, dan Atletico Madrid.

Sebagai mantan pemain dari Barcelona dan Real Madrid, Lopetegui memahami filosofi permainan dari kedua klub terbesar di Spanyol itu dan meraciknya dalam gaya permainan La Furia Roja.

Para pemain yang terbiasa bermain bersama, baik sebagai rekan satu tim maupun sebagai lawan, membuat mereka dapat memahami satu sama lain dengan mudah. Umpan-umpan terobosan dan umpan silang dialirkan dengan sangat mulus dan diubah menjadi gol dengan mudah.

Perlahan tetapi pasti, Lopetegui membangun Spanyol menjadi tim yang agresif dalam menyerang, efektif dalam mencetak gol, dan kuat dalam bertahan. Pola permainan semacam itu membuat Spanyol kembali ditakuti. Mereka kembali garang seperti saat menjuarai Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012.

Formasi baku Lopetegui adalah 4-3-3, yang biasa diterapkan di Barcelona dan Real Madrid. Formasi itu memudahkan para pemain untuk bermain dengan kombinasi umpan pendek dari belakang sampai tengah dan berubah menjadi umpan terobosan dan umpan silang melalui sayap.

Para pemain Spanyol bermain seolah-olah mereka berasal dari klub yang sama. Mereka saling memahami keinginan satu sama lain, saling mendukung dan mengisi ruang yang ditinggalkan rekannya.

Saling pengertian dan teknik individual yang tinggi itu membuat penguasaan bola Spanyol menjadi sangat tinggi. Hal itu menyulitkan lawan untuk menyerang ke pertahanan Spanyol.

Lopetegui juga menyiapkan dua formasi yang berbeda jika menghadapi lawan dengan karakteristik dan kemampuan berbeda. Formasi 4-2-3-1 dan formasi 4-4-2 pernah diuji coba Lopetegui untuk menghadapi beberapa tim yang berbeda.

Hasilnya, Spanyol belum pernah kalah dari 18 laga yang dijalani, baik pada laga kualifikasi Piala Dunia maupun laga persahabatan. Spanyol menang 13 kali dan seri lima kali atau 72,22 persen laga diakhiri dengan kemenangan.

Spanyol mencetak 59 gol dan 12 kali kebobolan atau surplus 47 gol pada 18 laga tersebut. Kuatnya daya gempur dan pertahanan itu membuat Spanyol kembali difavoritkan menjadi salah satu calon juara Piala Dunia 2018.

Memotivasi pemain

Kunci kebangkitan Spanyol juga terletak pada cara Lopetegui memotivasi para pemainnya. Mantan kiper cadangan timnas Spanyol pada Piala Dunia 1994 itu selalu berbicara dengan para pemain dan menempatkan mereka sebagai tokoh utama.

Dengan cara itu, semua pemain akan selalu termotivasi untuk menampilkan permainan terbaik mereka. Mereka juga selalu diminta melebur sebagai tim dan menyingkirkan ego pribadi.

”Bagi saya, tanpa komitmen dan tekad para pemain, tidak mungkin memiliki keinginan untuk mengesampingkan kualitas individu demi kebaikan grup dan menjadi bagian tim sepanjang waktu. Kami perlu memegang sentimen itu setiap kali kami bertanding dengan seragam tim nasional,” kata Lopetegui.

Selain memotivasi pemain, Lopetegui juga melatih para pemainnya bertanding dengan menggunakan video assistant referee (VAR). VAR diterapkan agar para pemain Spanyol tidak mudah terjebak off-side saat memainkan umpan terobosan dan umpan silang serta beradaptasi secara psikologis dengan penghentian laga sementara.

”Saya pikir, kami harus menyiapkan diri untuk VAR karena ada beberapa momen di Piala Dunia yang berbeda dari biasanya. Kami harus menyiapkan penghentian dan penundaan serta mulai bermain lagi setelah terhenti. Kami harus siap karena VAR belum digunakan di Spanyol,” kata Lopetegui.

Skuad inti

Sementara itu, situs olahraga Spanyol, Marca, menulis, sebanyak 20 pemain sudah hampir pasti dipanggil ke tim nasional Spanyol. Masih ada lima pemain lagi yang belum ditentukan.

Pada posisi kiper, David de Gea, Pepe Reina, dan Kepa Arrizabalaga tidak tergantikan.

Lini pertahanan akan diisi oleh Dani Carvajal, Nacho Fernandez, Sergio Ramos, Gerard Pique, dan Jordi Alba. Masih ada tiga posisi lagi yang diperebutkan.

Lini tengah diisi Sergio Busquets, Thiago Alcantara, Koke, Saul Niguez, Andres Iniesta, David Silva, Isco, Marco Asensio, dan Lucas Vazquez.

Sementara posisi penyerang diisi Diego Costa, Iago Aspas, dan Rodrigo Moreno. Alvaro Morata yang tampil buruk di Chelsea dan baru mencetak tiga gol pada 2018 membuat Lopetegui masih ragu. Tim utama Spanyol untuk Piala Dunia 2018 akan diumumkan sepekan lagi.(AP/AFP/REUTERS/ECA)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*