Penangkapan Terduga Teroris Berlanjut, Langkah Polri Diapresiasi

Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera memberi pernyataan pers di Mapolda Jatim, Selasa (15/5). (Sumber: VOA Indonesia).

Hari Selasa (15/5) sore, polisi anti terror terlibat tembak menembak dengan terduga teroris di Jalan Sikatan, Surabaya. Langkah tegas polisi kini memperoleh apresiasi.

Polisi terpaksa melumpuhkan T, seorang terduga teroris dalam baku tembak di pemukiman padat, Jalan Sikatan, Surabaya hari Selasa, sekitar pukul 17.00. Jasad T dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim. Istri dan 3 anaknya diamankan polisi untuk penyelidikan lebih lanjut.Ini merupakan bagian dari operasi tanpa henti unit anti teror yang dimulai beberapa jam setelah bom meledak berurutan di 3 gereja hari Minggu (13/5) lalu. Tidak hanya di kota Surabaya, polisi juga menyisir kota-kota di sekitarnya. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung Mangera menjelaskan, hingga Selasa sore 13 anggota teroris telah ditangkap.

“Hari ini bertambah dan kemungkinan juga akan terus bertambah, karena ada anggota jaringan ini yang harus kita lakukan tindakan sesuai dengan hukum, atau tindakan lain yang lebih tegas jika kiranya membahayakan petugas atau masyarakat. Total yang sudah kita lakukan penangkapan di daerah Malang 2 orang, Pandaan Pasuruan 1 orang, Surabaya 1 orang. Total 13 orang ditangkap hidup, di luar mereka yang sudah ditembak mati,” ujar Frans.

Sebelumnya telah disampaikan data bahwa setidaknya empat anggota teroris tewas dalam sejumlah penyergapan. Dengan tambahan T yang tewas hari Selasa, kini Polri telah menindak 13 teroris hidup dan 5 tewas. Frans Barung menegaskan bahwa angka-angka selalu bersifat sementara karena operasi penangkapan belum berakhir.

Terkait identifikasi pelaku pengeboman, Polri berharap keluarga pelaku datang ke RS Bhayangkara Polda Jatim. Hingga saat ini, peran keluarga pelaku sangat minim sehingga menghambat identifikasi tubuh atau bagian tubuh pelaku. Hingga Selasa siang, kata Frans Barung, 12 jenazah korban masyarakat telah diserahkan kepada keluarganya. Hanya satu jenazah yang tersisa di rumah sakit.

Namun, langkah tegas polisi ini bukan tanpa kekurangan. Dari Malang, Jawa Timur dilaporkan seorang perempuan bernama Ida, sempat diamankan petugas dari Polres Sidoarjo. Ida yang memakai niqab atau cadar, adalah penjual kerupuk dan telur asin, istri seorang pegawai Kantor Pos bernama Arifin. Setelah pemeriksaan tidak menemukan bukti keterlibatan Ida dengan kegiatan teroris, polisi melepaskannya.

Indonesian Police Watch (IPW) mencatat saat ini ada dua kelompok yang cukup agresif di Indonesia , yaitu Jamaah Ansharu Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharu Tauhid (JAT). Tidak hanya di kota-kota Jawa, seperti Jakarta, Cianjur, Tasikmalaya, hingga Surabaya dan sekitarnya, anggotanya juga sudah menyebar sampai Pekanbaru dan sejumlah kota di Kalimantan.

Neta S. Pane dari IPW kepada VOA mengatakan, beberapa saat setelah kasus kericuhan di Rutan Brimob Kelapa Dua, Jakarta, diperoleh informasi adanya pergerakan sel teroris. Neta melihat, rusuh di Rutan Brimob telah berhasil membangunkan sel-sel yang tidur, dan membuat teroris beraksi lagi.

“Sebelum peristiwa ini, awalnya kita dari IPW menilai polisi kedodoran, namun setelah itu kita memberi apresiasi karena Polri agresif memburu kantong-kantong terorisme. Yang selama ini dianggap tidur juga mereka buru, sehingga terjadi penangkapan-penangkapan dan polisi mendapatkan berbagai barang bukti, diantaranya bom yang siap meledak. Kinerja ini patut diapresiasi,” tukas Neta.

Neta juga meminta polisi belajar dari kasus rusuh Rutan Mako Brimob Kelapa Dua. Di tengah upaya melakukan serangkaian penangkapan, polisi tidak bisa lagi menyatukan penahanan teroris dalam satu lokasi.

Selama ini, kata Neta, ada 3 kategori teroris menurut beban kasusnya. Kategori pertama adalah mereka yang menjadi teroris dengan alasan ideologi. Menurut Neta, beban kasus keleompok ini berat dan harus dibina secara khusus. Kelompok kedua adalah simpatisan dan terakhir adalah mereka yang ikut-ikutan menjadi teroris karena faktor ekoomi.

“Yang dua faktor terakhir ini jangan digabung dengan mereka yang kawakan atau ideologis. Ini ibaratnya cacing yang dijadikan satu dengan kakap, begitu keluar bisa jadi naga. Mereka harus dipisah dan disebar ke berbagai tahanan, dalam jumlah-jumlah kecil. Jangan dijadikan satu, seperti di Mako Brimob Kelapa Dua itu. Kalau dijadikan satu, mereka mudah dibina oleh seniornya dan gampang mengkonsolidasikan diri,” tambah Neta S Pane. [ns/em]/Nurhadi Sucahyo/VOA Indonesia/swh

Media mengikuti penjelasan oleh Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera di Surabaya, Selasa (15/5).
Media mengikuti penjelasan oleh Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera di Surabaya, Selasa (15/5).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*