Pemerintahan Trump akan Biarkan Kecerdasan Buatan ‘Berkembang Bebas’ di AS

Jorge Cuadros, kiri, mendemonstrasikan robot kamera retina kepada seorang wartawan pada konferensi I/O Google di Mountain View, California, Selasa, 8 Mei 2018 (Sumber: VOA Indonesia/AP Photo/Jeff Chiu)

Pemerintah Trump tidak akan menghalangi pengembangan kecerdasan buatan di Amerika Serikat, ujar seorang pejabat tinggi hari Kamis, yang mengakui teknologi yang semakin berkembang ini akan menggantikan beberapa lapangan kerja.

Dalam sebuah pertemuan puncak Gedung Putih yang pesertanya antara lain perusahaan-perusahaan seperti Google Alphabet, Facebook, dan Amazon.com, penasihat kebijakan teknologi, Michael Kratsios mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump tidak ingin mendikte “apa yang diteliti dan dikembangkan.”

“Sebisa mungkin, kami akan biarkan ilmuwan dan pakar teknologi untuk dapat bebas mengembangkan ciptaan hebat mereka yang berikutnya di sini di Amerika Serikat,” ujarnya, menurut salinan pidatonya yang disediakan oleh Gedung Putih.

Kecerdasan buatan dan deep machine learning (pembelajaran mesin – cabang dari kecerdasan buatan) menimbulkan keprihatinan dari segi etika menyangkut kendali, privasi, keamanan cyber, dan masa depan lapangan kerja, sebagaimana diutarakan oleh berbagai perwakilan perusahaan dan para pakar.

Kratsios mengakui hingga “tingkat tertentu, hilangnya lapangan kerja tidak dapat dihindarkan.”

Ia menambahkan: “Namun kita tidak dapat hanya berdiam diri, berharap pasar akan menyeleksinya. Kita harus lakukan apa yang warga Amerika selalu lakukan: beradaptasi.”

Gedung Putih, yang sebelumnya bersebrangan dengan kalangan ilmuwan, terkait berbagai persoalan seperti perubahan iklim, konservasi, dan pemotongan anggaran, mengatakan pihaknya akan menciptakan sebuah komite baru untuk Kecerdasan Buatan. Komite ini akan terdiri dari para pejabat penelitian dan pengembangan paling senior di seluruh jajaran pemerintah AS, yang bertugas untuk menyusun prioritas penelitian dan pengembangan dan koordinasi yang lebih baik terkait investasi yang dilakukan pemerintah federal.

“Kita tidak dapat hanya bersikap pasif. Untuk mewujudkan potensi Kecerdasan Buatan secara seutuhnya bagi warga Amerika, upaya ini akan membutuhkan berbagai upaya gabungan dari kalangan industri, akademis, dan pemerintahan,” ujar Kratsios.

“Di sektor swasta, kita tidak akan mendikte apa yang bisa diteliti dan dikembangkan. Sebaliknya kita akan menawarkan sumberdaya dan kebebasan untuk bereksplorasi,” ujarnya.

CEO Intel Corp. Brian Krzanich, yang hadir dalam pertemuan puncak itu menulis dalam postingan di blognya bahwa “tanpa strategi Kecerdasan Buatan nya sendiri, para pemimpin teknologi dunia berisiko tertinggal.”

Kecerdasan buatan telah digunakan di sejumlah bidang. Contohnya, National Institute of Health sedang menjajaki cara-cara pemanfaatan machine learning untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi kanker dan pengobatannya, sementara General Services Administration menggunakan Kecerdasan Buatan untuk mengurangi kebutuhan akan auditor federal, ujar Gedung Putih.

Lebih dari 30 perusahaan besar hadir dalam pertemuan itu termasuk di antaranya para pejabat yang mewakili Ford, Boeing, Mastercard, dan Microsoft.

Pentagon dan berbagai badan pemerintah mengambil bagian, bersama dengan para pejabat senior Gedung Putih termasuk Jared Kushner dan Andrew Bremberg, yang mengepalai Dewan Kebijakan Domestik. [ww/dw]/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*