Patola Berdikari dengan Koperasi Kopi

Patola )Sumber: KOMPAS/AGUS SUSANTO).

Militansi menjadi pedoman Patola menjalani hidup. Kala pertama mengajak petani kopi berhimpun dalam koperasi, sebagian menduga Patola hanya ingin mencari nama dan untung. Saat idenya diterima dan bersama anggota koperasi memperbaiki kualitas kopi guna menaikkan harga jual, giliran dia jadi musuh bersama para pengepul dan pedagang besar.

“Jaringan tengkulak itu jahat. Seperti mafia. Mereka menikmati untung besar dari keringat petani. Itu yang coba saya lawan,” ucap lelaki berperawakan kurus itu dengan lantang di rumahnya di Desa Benteng Alla Utara, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, pertengahan Januari 2018.

Bagi Patola, koperasi menjadi jawaban bagi petani melawan kekuatan besar tengkulak. Dengan bergandengan tangan, rantai niaga kopi yang semula begitu panjang, coba dipangkas. Walau untuk menuju ke sana, dia mendapat berbagai ancaman.

Patola lahir dan besar dari keluarga petani kopi. Dia menyaksikan sendiri betapa kopi di Enrekang tak punya harga akibat permainan pengepul. Puluhan tahun, pengepul dan pedagang besar menjerat petani dalam lingkaran sistem ijon. Tak hanya bermodal besar, mereka juga menguasai penggilingan dan mata rantai pasokan ke pedagang besar di Makassar bahkan eksportir kopi.

Situasi ini membuat petani putus asa. Sebagian dari mereka akhirnya mengganti tanaman kopi dengan hortikultura. Sebagian lagi mempertahankan separuh tanaman kopi dan mengalihkan sisa lahan untuk ditanami komoditas lain. Kopi tak lagi menjadi sandaran hidup.

Mendengar hal ini, Patola yang sarjana pertanian dan saat itu bekerja di perusahaan padi PT Sang Hyang Sri di Sidrap, prihatin dan memutuskan pulang kampung. Dia coba mencari jalan dengan mengunjungi beberapa perusahaan besar pengekspor kopi. Dia kecewa karena mendapati kenyataan walau kopi berkualitas bagus, tetap saja kopinya tak bisa diterima tanpa melalui pengepul yang sudah menjadi jejaring perusahaan.

Melawan

Kembali ke desa dengan rasa kecewa, Patola tak putus asa. Dia justru bangkit dan melawan. Dikumpulkan sejumlah petani dan diutarakan maksudnya membentuk koperasi. Walau awalnya banyak yang ragu, keinginan ini akhirnya direspons positif. Mereka membentuk Koperasi Benteng Alla Utara sejak 2007.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Patola, Ketua Koperasi Tai Benteng Alla Utara.

Dengan modal awal yang hanya puluhan juta rupiah, Patola mulai membeli kopi petani di atas harga pengepul. Saat itu, pengepul membeli Rp 5.000 per kilogram (kg) untuk kopi kulit tanduk. Oleh koperasi, harga dinaikkan menjadi Rp 7.000 per kg. Kopi ini lalu diolah dengan baik hingga menjadi biji kopi pilihan dan dibawa ke Makassar.

Saya sempat melawan dan membeli dengan harga tinggi juga. Sebagian petani bisa setia dan tak menjual kepada pedagang, tetapi banyak pula yang tergiur dan menjual ke pengepul. Kami berusaha bertahan walau habis-habisan.

Tapi prosesnya tak berjalan mulus. Pengepul dan pedagang besar yang kalah bersaing dengan koperasi mulai meneror Patola dengan segala cara. Pedagang bermodal besar berupaya membuat Patola dan koperasinya bangkrut dan kehilangan kepercayaan. Itu dilakukan dengan membeli kopi petani dengan harga jauh di atas harga pembelian koperasi. Keadaan kian tak menguntungkan karena pedagang menguasai penggilingan yang membuat petani berada dalam posisi tawar rendah.

“Saya sempat melawan dan membeli dengan harga tinggi juga. Sebagian petani bisa setia dan tak menjual kepada pedagang, tetapi banyak pula yang tergiur dan menjual ke pengepul. Kami berusaha bertahan walau habis-habisan. Saya sampai pernah rugi Rp 80 juta karena melawan pengepul yang terus menaikkan harga,” kenang Patola.

Bahkan, hasil panen kadang harus kami sembunyikan agar tak ketahuan pengepul.

Menurut Patola, dana awal koperasi yang tidak seberapa, habis untuk melawan pedagang. Bahkan uang tabungannya dan beberapa pengurus habis. Mereka juga mesti meminta para anggota, saat hendak menggiling kopi agar datang bergantian dengan membawa kopi sedikit demi sedikit dan tak mengaku sebagai anggota koperasi. “Bahkan, hasil panen kadang harus kami sembunyikan agar tak ketahuan pengepul,” tuturnya.

Menghadapi tekanan, bapak dua anak ini tak kehilangan akal. Terlebih kepercayaan petani pada koperasi mulai terbangun. Dia mulai mencari mitra perusahaan besar, sembari terus menawarkan kopi ke pemilik-pemilik kafe di Makassar.

Keinginannya bermitra mendapat jalan ketika bertemu dengan pemasok kopi untuk Starbucks, usaha kopi dengan jaringan internasional. Melalui perjuangan panjang, serangkaian proses uji coba, pemasok ini setuju mengambil kopi dari petani untuk masuk ke Starbucks. Tak semua petani,  hanya 400-an. Tapi setidaknya, ini bisa mengembalikan rasa percaya diri petani.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Titik pasar Kalosi yang sudah bergeser dan berubah di Kelurahan Kalosi, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Rabu (17/1). Dalam foto peninggalan Belanda tahun 1920-1930 digambarkan terdapat sebuah pasar kopi di wilayah ini.

Harga beli dari Starbucks saat ini berkisar Rp 57.000-Rp 70.000 per kg dalam bentuk kopi beras. Dengan pencapaian ini, pengepul tak lagi bermain harga. Kali ini, mereka berusaha menyuap Patola. Dia ditawari harga lebih tinggi Rp 500 per liter kopi beras agar tak menjual produk ke Makassar atau tempat lain. Tapi tawaran ini ditampik. Pada akhirnya pengepul lelah dan berhenti mengganggunya.

Angkat harkat

Semangat mengangkat harkat petani dan kopi Enrekang, akhirnya berbuah manis. Koperasi Benteng Alla yang dirintisnya lebih 10 tahun lalu, kini semakin besar. Anggotanya mencapai 2.700-an petani yang menyebar di sentra kopi Enrekang di antaranya Kecamatan Baroko, Bungin, Masale, Buntu Batu dan Baraka.

Saat ini sedikitnya 400-an petani yang terhimpun dalam koperasi, menjadi pemasok kopi untuk Starbucks. Selebihnya memasok untuk pengekspor dan pemilik kedai kopi di Makassar hingga Pulau Jawa dan Bali.

Dalam beberapa kali kontes kopi tingkat nasional, biji kopi yang dibawa Patola menjadi pemenang. Tahun 2014 misalnya, dalam lomba kopi nasional di Bali, Kopi Benteng Alla meraih juara empat. Tahun 2016, kopi yang sama akhirnya menjadi juara satu. Tahun lalu, Patola membawa kopi Memba dan menjadi juara dua. Ini adalah pencapaian tertinggi untuk kopi Enrekang yang sekian lama kalah bersaing dengan kopi Toraja yang kadung terkenal lebih dulu.

KOMPAS/ AGUS SUSANTO

Petani membersihkan lumut yang merambat pohon kopi varietas typica di Dusun Nating, Kecamatan Bungin, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Selasa (16/1/2018).

Saat ini omzet Koperasi Benteng Alla Utara sekitar Rp 70 juta per bulan. Koperasi ini juga membuat unit usaha lain yakni ternak kambing. Ternak yang dikelola bersama dengan sistem bagi hasil ini, menjadi pendapatan tambahan bagi petani di waktu-waktu produksi kopi sedang turun. Ini juga untuk mencegah petani mencari tambahan penghasilan dengan membuka kebun hortikultura.

Bertahun-tahun mereka terbiasa meminum kopi kualitas rendah karena yang bagus biasanya dijual.

Sesuai tujuan awal koperasi untuk meningkatkan kapasitas petani, pelatihan dan bimbingan terus dilakukan. Diskusi rutin digelar sebagai ajang silaturahmi dan membicarakan berbagai persoalan. Sejumlah tenaga internal control system koperasi juga ditempatkan di setiap kecamatan. Mereka membantu dan mengontrol petani mulai dari penanaman, petik merah, hingga proses pascapanen.

Petani dan masyarakat pun diedukasi menikmati kopi dengan mengajak mereka meminum kopi berkualitas dari biji kopi pilihan. “Bertahun-tahun mereka terbiasa meminum kopi kualitas rendah karena yang bagus biasanya dijual. Dengan tahu rasa kopi bercita rasa tinggi, mereka bisa lebih menghargai tanaman ini dan pada gilirannya meningkatkan kualitas produksi,” kata Patola. (RENY SRI AYU Dan GREGORIUS M FINESSO/Harian KOMPAS).

Patola
Lahir       : 8 Agustus 1973
Istri         : Nuthaeni
Anak       : Aisyah (2), Nur Haliza (11 bukan)

Sekolah  : SD, SMP, SMU di Enrekang. Pendidikan S1 Fakultas Pertanian di Universitas Al-Gazali, Makassar

Aktivitas : Ketua Koperasi Tani Benteng Alla Utara

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*