Lima Mitos Tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)

Sumber: BBC Indonesia/A MAN PRACTICES CPR ON A DUMMY

Dalam keadaan darurat medis, respon yang tepat dapat menyelamatkan nyawa – namun banyak dari kita masih melakukan sesuatu yang salah.

Oleh: 

Baranews.co – Mendapatkan pertolongan pertama yang tepat bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati. Namun seperti yang kita pelajari lebih jauh mengenai tubuh manusia dan bagaimana responnya, selama beberapa tahun ini ungkapan itu berubah- artinya bahwa dalam berbagai hal, apa yang kita pelajari di masa lalu sudah ketinggalan.

Ini beberapa mitos yang lazim terjadi mengenai pertolongan pertama… dan apa yang harus Anda lakukan.

Mitos 1: gunakan mentega pada bagian yang terbakar

Ini merupakan caara pengobatan yang telah dilakukan selama beberapa abad. Bahkan direkomendasikan oleh orang yang secara luas dipercaya sebagai penemu pertolongan pertama, ahli bedah umum Prusia Friedrich Von Esmarch.

Setiap bagian tubuh yang baru terbakar terasa sangat menyakitkan ketika terpapar udara. Menutupnya dengan benda yang dingin seperti mentega akan dengan cepat meredakan penderitaan untuk sementara. Namun rasa sakit akan kembali lagi – dan justru mengunci udara sebelum luka bakar mendingin, artinya kulit terus terbakar.

Untuk sebagian besar luka bakar, nasihat yang umum adalah singkirkan pakaian dan perhiasan yang menyentuh bagian yang luka, kemudian kucurkan air keran pada luka bakar selama mungkin – setidaknya 20 menit. Ini mencegah kulit terus terbakar, juga membantu agar area itu mati rasa.

Cuci tangan GETTY IMAGES
Jika Anda terbakar lupakan mentega – kucurkan air keran pada bagian yang terbakar setidaknya selama 20 menit.

Setelah luka bakar benar-benar dingin, Anda dapat menutupinya dengan kain bersih atau lapisan pelindung untuk mencegah infeksi.

Ada situasi di mana mentega pada luka bakar dapat berguna: jika kulit Anda terkena aspal panas. Lemak mentega dapat membantu menyingkirkannya, mengurangi rasa sakit (Baca mengenai mitos ini dalam artikel kami sebelumnya).

Mitos 2: Memberikan tekanan pada dada untuk seseorang yang tidak membutuhkannya akan membahayakan.

Dalam kasus serangan jantung, langkah pertama yang banyak dilakukan untuk keselamatan mereka adalah apakah diberikan resusitasi jantung-paru (CPR) sebelum pertolongan medis datang.

Jika Anda mengambil kursus pertolongan pertama pada kecelakaan, Anda akan mempelajari memantau dada dan mendekatkan kepala Anda kepadanya untuk mendengarkan napas. Jika tidak ada tanda-tanda bahwa orang tersebut bernapas, Anda harus menelpon layanan darurat dan memulai CPR.

Instruktur pertolongan pertama juga akan mengatakan bahwa meski Anda tidak yakin bahwa orang tersebut bernapas dengan normal, Anda harus mulai kembali melakukan CPR.

Meskipun ini sangat disarankan banyak orang ragu untuk memberikan CPR karena takut akan justru membahayakan dan bukannya membantu.

Pertolongan pertama GETTY IMAGES
Kedua teknologi pertolongan pertama, dan saran, telah berubah banyak dari waktu ke waktu.

Sebuah studi yang dilakukan di Yokohama, kota terbesar kedua di Jepang, dilakukan untuk mengetahui apakah CPR yang tidak dibutuhkan dapat membuat pasien menghadapi risiko lebih besar. Selama studi, orang sekitar melakukan CPR pada 910 pasien. Dari jumlah ini hanya 26 yang tidak mengalami sebuah serangan jantung. Dan dari 26, CPR hanya menyebabkan komplikasi dalam tiga kejadian. Termasuk tulang rusuk patah, namun tidak ada komplikasi yang serius.

Jadi disimpulkan, orang seharusnya tidak takut untuk memberikan CPR mesti tidak tahu pasti apa yang terjadi. Mereka dapat menyelamatkan nyawa dengan itu.

Mitos 3: Untuk melakukan CPR dengan tepat, Anda membutuhkan pernapasan dari mulut ke mulut dan penekanan di dada

Panduan untuk melakukan ini telah berubah banyak dalam beberapa dekade terakhir. Standar CPR digunakan dengan melakukan tekanan cepat sebanyak 15 kali bersamaan dengan dua kali napas bantuan ke mulut pasien. Kemudian diketahui bahwa memberikan dua napas setelah 30 tekanan, sangat efektif.

Kemudian muncul gagasan untuk melakukan CPR tanpa memberikan bantuan pernapasan sama sekali. Ini menghasilkan jeda yang lebih sedikit dan memberikan peluang pada penekanan untuk membuat darah mengalir ke otak. Meskipun aliran darah tidak lancar sepenuhnya, setidaknya sampai ke otak dengan cepat. Tiga uji coba mengontrol secara random membandingkan metode menemukan perbedaan kecil antara dua metode.

Namun ketika hasil dari dua studi ini dikombinasi dan dianalisa kembali, ada sekitar 22% peningkatkan jumlah yang selamat jika orang sekitar – yang melakukan CPR dengan panduan melalui telepon dari operator ambulans – memberikan tekanan saja.

Hasil ini tidak dapat diterapkan pada anak-anak atau kasus hampir tenggelam, di mana pernapasan masih direkomendasikan.

CPR GETTY IMAGES
Memberikan CPR tanpa pernapasan lebih mudah dan lebih efektif dibandingkan dengan pernapasan – tetapi hanya 39% perempuan dan 45% laki-laki yang menerima CPR dari saksi.

Penemuan bahwa CPR tanpa pernapasan dari mulut ke mulut lebih efektif merupakan berita baik dalam dua hal. Pertama, setiap peningkatan jumlah yang selamat tentu merupakan sesuatu yang baik. Namun kedua, hal itu mungkin mendorong lebih banyak orang untuk mencobanya. Lagi pula, panduan yang lebih mudah diingat akan membuat lebih banyak orang mencobanya. Bahkan ada gameyang mengajari Anda bagaimana melakukannya.

Juga, banyak orang enggan untuk memberikan pernafasa dari mulut ke mulut terhadap orang asing.

Namun tetap saja tidak semua orang bersiap untuk memberikan tekanan dada. Penelitian yang disampaikan dalam American Heart Association’s Scientific Sessions pada 2017 mengungkapkan bahwa banyak saksi yang tampak khawatir menyentuh dada perempuan. Studi yang dilakukan Audrey Blewer terhadap hampir 20.000 kasus serangan jantung menemukan bahwa 45% pria menerima CPR dari pejalan kaki- dibandingkan dengan perempuan yang hanya 39% saja.

Mitos 4: Anda tidak seharusnya menggunakan defibrillator kecuali Anda memastikan jantung mereka berhenti berdetak.

Ini sebuah mitos besar. Padahal defibrillator seringkali disiapkan di tempat publik seperti stasiun kereta, didisain untuk digunakan setiap orang. Anda tidak perlu mencari tahu sendiri apakah orang yang kolaps akan mendapatkan manfaat dari kejutan listrik agar jantung kembali ke detak iramanya: mesin itu dapat mendeteksi sendiri apa yang dibutuhkan. Jika kejutan tidak diperlukan, mesin itu tak akan memberi dampak kejut.

This is a major myth. After all, defibrillators, often kept in public places like railway stations, are designed for anyone to use. You don’t have to work out for yourself whether the person who’s collapsed would benefit from electric shocks to startle the heart into rhythm: the machine itself can assess what’s needed. If shocks aren’t necessary, it won’t give them.

Defibrillator GETTY IMAGES
Meskipun defibrillator seringkali ditemukan di banyak tempat umum, banyak orang masih merasa terintimidasi dalam menggunakannya.

Penelitian di AS menunjukkan bahwa jumlah yang selamat jika publik mengakses defibrillator digunakan meningkat dua kali lipat dibandingkan hanya CPR saja. Namun penggunaan di luar rumah sakit sangat rendah. Orang tampak enggan untuk menggunakannya. Christopher Smith dari Sekolah Medis Warwick mempublikasikan penelitian pada 2017 yang menunjukkan bahwa banyak anggota masyarakat tidak mengetahui di mana mesin tersebut atau bagaimana menggunakannya. Dia mengatakan bahwa sejumlah orang takut bahwa jika mereka menggunakannya justru lebih banyak bahayanya dibandingkan manfaatnya.

Mitos 5: Miringkan kepala ke belakang untuk menghentikan mimisan

Ini merupakan nasihat yang kuno – namun dapat menyebabkan seseorang menelan darah mereka atau bahkan tersedak, sambil terus mengeluarkan darah. Sebaliknya, cara terbaik untuk menghentikan pendarahan adalah menekan dengan mencubit lembut bagian hidung dan mencondongkan tubuh ke depan selama 10 menit. Jika pendarahan tidak berhenti setelah setengah jam, mintalah bantuan medis. BBC Indonesia/swh


Semua konten dalam kolom ini diperlakukan hanya sebagai informasi umum saja, dan tidak seharusnya diperlakukan sebagai pengganti dari nasihat medis dokter Anda atau professional layanan kesehatan lain. BBC tidak bertanggung jawab untuk diagnosa berdasarkan pada konten di situs ini. BBC tidak bertanggung jawab untuk konten dari situs internet lain yang terdaftar, ataupun tidak mempromosikan produk komersial atau layanan yang disebut atau disarankan pada situs lainnya. Anda harus berkonsultasi dengan dokter pribadi Anda jika Anda memiliki masalah dengan kesehatan Anda.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*