Sosok Aloysius Bayu pengadang bomber di gereja Santa Maria

Dia menjadi martir karena berani mengadang laju sepeda motor yang dikemudikan pelaku bom Surabaya. Aksi heroik Bayu, yang membuatnya kehilangan nyawa, telah mencegah jatuhnya banyak korban jiwa.

Baranews.co – Suasana duka menyelimuti rumah Aloysius Bayu Rendra Wardhana. Dia adalah salah satu korban serangan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Jalan Ngagel 1, Surabaya, Jawa Timur.

Dia menjadi martir karena berani mengadang laju sepeda motor yang dikemudikan pelaku bom Surabaya. Aksi heroik Bayu, yang membuatnya kehilangan nyawa, telah mencegah jatuhnya banyak korban jiwa.

Siswanto, ayah korban, saat ditemui di rumah duka terlihat lelah. “Mohon dimaafkan mas jika ada kesalahan sama Bayu,” kata Siswanto, Minggu (13/5).

Memasuki area tempat tinggal korban di kompleks perumahan Gubeng Kertajaya I/15 Surabaya, 10 karangan bunga tanda dukacita berjejer di sekitar lokasi. Di antaranya dari Wakil Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana, Ketua DPRD Surabaya Armuji, dan keluarga besar Grab Surabaya.

Ayah dua anak

Adik kandung Bayu, Galih, mengatakan, kakaknya adalah sosok pria yang tegas. Kakaknya pergi meninggalkan dua anak, yakni satu laki-laki berumur 3 tahun dan satu perempuan berumur 1 tahun. Istrinya, Monika, bekerja sebagai guru PAUD di Santa Clara.

Galih mengungkapkan, dia sempat bertemu dengan sang kakak pada Jumat, (11/5) lalu.

“Enggak ada pesan sama sekali dari kakak. Kakak saya sering menyapa dengan tanya sudah makan belum itu saja,” kata Galih.

Aloysius Bayu Rendra Wardhana lahir di Surabaya pada 20 Juni 1980. Pihak keluarga masih menunggu kepastian jenazah yang masih dalam proses identifikasi di Polda Jawa Timur.

Koordinator relawan keamanan gereja

Selain bekerja sebagai relawan keamanan gereja, alumnus Universitas Dharma Cendika Jurusan Hukum ini juga berprofesi sebagai wedding photography dan driver online.

Di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Bayu merupakan koordinator relawan keamanan. Saat terjadi bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) posisi Bayu berada di gerbang gereja, bersama petugas kepolisian.

“Entah apa yang akan terjadi bila Bayu tidak berada di sekitaran gerbang itu. Kemungkinan besar korban akan jauh lebih banyak. Itu adalah jasa besar Bayu,” kata Joko Triyono, salah satu tetangga korban.

Ledakan bom bunuh diri terjadi di tiga gereja di Surabaya, yaitu Gereja Katholik Santa Maria, GKI Diponegoro, dan terakhir di GPPS Arjuno pada Minggu (13/5) pagi. Selain 14 korban tewas, ledakan di tiga gereja juga menyebabkan 43 orang mengalami luka-luka.

Ketiga lokasi ledakan ini rupanya dilakukan oleh enam orang yang masih satu keluarga. Terdiri dari ayah, ibu dan empat orang anaknya. Mereka adalah Dita Supriyanto (ayah), Puji Kuswati (ibu) dan anak-anaknya yakni, Fadila Sari (12), Pamela Riskika (9), Yusuf Fadil (18) dan Firman Halim (16).

Sumber: Liputan6.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*