Kesalahan Keuangan ‘Kids Jaman Now’

Generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1981-1994 (beberapa yang lain menyebut hingga sebelum tahun 2000). Generasi ini juga adalah orang-orang dengan usia produktif sekaligus konsumen yang mendominasi pasar saat ini.

Jakarta, Baranews.co – Generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1981-1994 (beberapa yang lain menyebut hingga sebelum tahun 2000). Generasi ini juga adalah orang-orang dengan usia produktif sekaligus konsumen yang mendominasi pasar saat ini.

Berikut ini saya rangkum 5 kesalahan utama kaum milenial yang jika diteruskan akan berdampak buruk pada keuangannya.

Pertama, tidak tahu ke mana larinya penghasilan atau bahkan memiliki pengeluaran lebih besar daripada penghasilan. Hasil riset di Singapura mendapati bahwa hanya 53% dari kaum milenial yang memiliki pengeluran sama dengan penghasilannya, 24% memiliki pengeluaran lebih besar daripada penghasilan, bahkan 23% tidak tahu dengan pasti kondisi keuangannya saat ini.

Kedua, tidak suka belanja aset tetap. Dengan banyaknya jasa seperti transportasi berbasis online, apartemen dan lainnya, ternyata membuat kaum milenial lebih suka untuk menyewa dibandingkan membeli aset.

Terkadang hal ini memang lebih efisien dalam hal keuangan rumah tangga. Tetapi, sayangnya penghematan tidak dialihkan menjadi pembelian aset investasi.

Kaum milenial lebih suka untuk membelanjakan kelebihan uangnya untuk pengeluaran berbasis pengalaman seperti liburan, menonton konser musik, dan lainnya. Bahkan, milenial mengalokasikan porsi pengeluaran untuk makan di restoran yang paling besar dibandingkan generasi sebelumnya.

Ketiga, menunda pembelian rumah tinggal. Rumah tinggal tidak lagi menjadi prioritas bagi kaum milenial. Mereka lebih suka untuk menyewa rumah. Padahal, pembelian rumah tinggal akan memaksa sebuah rumah tangga untuk memiliki aset, meski pun aset tersebut digunakan untuk hidup sehari-hari. Keuntungan memiliki aset tetap adalah Anda akan memiliki nilai kekayaan yang terus meningkat.

Keempat, tidak mengalokasikan cukup uang untuk investasi dana pensiun. Masa pensiun adalah masa yang masih jauh perjalanannya bagi kaum milenial. Jika target usia pensiun adalah 55 tahun, maka milenial masih memiliki setidaknya 18 tahun bahkan lebih untuk mempersiapkan dana pensiun.

Alokasi pengeluaran untuk investasi dana pensiun sebaiknya minimal 5% dari penghasilan. Bahkan, jika masih lajang, Anda seharusnya dapat mengalokasikan minimal 15% dari penghasilan.

Kelima, terlena dengan cicilan dan pinjaman. Penawaran cicilan 0% dan pinjaman dana tunai ternyata kerap digunakan untuk melakukan pembelian yang bersifat pengalaman seperti liburan, pembelian gadget, dan lainnya.

Seseorang idealnya hanya mengalokasikan maksimal 20% dari penghasilannya untuk pembayaran pinjaman yang bersifat konsumtif. Jika utang adalah untuk pembelian rumah tinggal, maka porsi masih dapat ditingkatkan menjhadi 30% dari penghasilan.

 

(detik.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*