Zuckerberg Berjanji Tingkatkan Upaya Facebook Blokir Ujaran Kebencian di Myanmar

Para peserta kampanye dari AVAAZ mengangkat poster di depan 100 gambar potongan karton dari CEO Facebook, Mark Zuckerberg, di luar gedung Capitol AS, di Washington D.C., 10 April 2018 sebelum Mark Zuckerberg bersaksi. (Sumber: VOA Indonesia/IndKevi Wolf/AP Images untuk AVAAZ).

CEO Facebook, Mark Zuckerberg, menyatakan hari Selasa perusahaannya akan meningkatkan upaya untuk memblokir ujaran kebencian di Myanmar, saat menghadapi pertanyaan oleh Kongres AS terkait campur tangan saat pemilihan presiden dan ujaran kebencian di media sosial itu.

Facebook telah dituduh oleh para pendukung HAM tidak cukup berbuat untuk menyingkirkan pesan-pesan kebencian di jaringan media sosial di Myanmar, di mana media sosial itu adalah sistem komunikasi yang dominan.

“Apa yang terjadi di Myanmar adalah suatu tragedi yang mengerikan, dan kita perlu berbuat lebih banyak lagi,” ujar Zuckerberg dalam sidang dengar gabungan yang berlangsung selama lima jam di depan Komite Perdagangan Senat dan Komite Kehakiman Senat.

Lebih dari 650.000 orang Rohingya telah mengungsi dari negara bagian Rakhine di Myanmar ke Bangladesh sejak serangan pemberontak memicu penindasan dari pihak keamanan bulan Agustus yang lalu.

Para pejabat PBB tengah menginvestigasi kemungkinan terjadinya genosida di Myanmar sejak bulan lalu bahwa Facebook telah menjadi sumber propraganda anti-Rohingya.

Marzuki Darusman, ketua Misi Pencari Fakta Internasional PBB untuk Myanmar, mengatakan pada bulan Maret bahwa media sosial telah memainkan “peran yang menentukan” di Myanmar.

“Media sosial … secara substantif telah berkontribusi terhadap tingkat kesengitan dan pertikaian konflik … dalam masyarakat. Ujaran kebencian tentunya adalah bagian dari hal itu. Sejauh menyangkut situasi di Myanmar, media sosial adalah Facebook, dan Facebook adalah media sosial,” ujarnya.

Zuckerberg mengatakan Facebook mempekerjakan mereka yang berbicara bahasa Myanmar untuk menghapus konten yang bersifat mengancam.

“Susah untuk melakukannya tanpa orang yang bisa berbicara bahasa setempat, dan kita perlu untuk meningkatkan upaya kami di sana secara dramatis,” ujar Zuckerberg, dengan menambahkan bahwa Facebook juga meminta kelompok-kelompok masyarakat sipil untuk mengidentifikasi orang-orang yang harus dicegah kehadirannya dalam jejaring media sosial itu.

Ia mengatakan tim Facebook juga akan membuat perubahan produk yang tidak diungkapkan di Myanmar dan negara-negara lain di mana kekerasan etnis menjadi masalah. [ww]/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*