Ruas Tol Ciawi-Cigombong Dioperasikan Juli 2018

Ruas tol Ciawi-Cigombong-Sukabumi (Sumber: nusanews)

Sukabumi, Baranews.co – Seksi I jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi atau Bocimi, yakni ruas Ciawi-cigombong sepanjang 15,35 kilometer, ditargetkan beroperasi Juli 2018. Pengoperasiannya diharapkan mengatasi kemacetan parah di daerah itu sekaligus menopang arus mudik Lebaran tahun ini.

“Ciawi-Cigombong beroperasinya tinggal menunggu Juli (2018). Pembebasan lahan perkembangannya bagus. Dengan dibukanya Ciawi sampai Cigombong ini sudah mengurai kemacetan yang lumayan besar,” kata Presiden Joko Widodo ketika meninjau pembangunan tol Bocimi di Cigombong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (8/4/2018).

Total panjang Tol Bocimi 54 kilometer.  Terdiri dari 4 seksi, yakni Ciawi-Cigombong, Cigombong-Cibadak, Cibadak-Sukabumi Barat, dan Sukabumi Barat-Sukabumi Timur. Total  investasi yang diperlukan Rp 15,9 triliun.

Realisasi pembangunan fisik ruas Ciawi-Cigombong mencapai 77,39 persen, sementara  pembebasan lahannya 98,55 persen. Ruas  Cigombong-Cibadak sepanjang 11,9 km masih proses validasi, musyawarah, dan pembayaran lahan dan direncanakan akan beroperasi tahun 2019.

Menurut Presiden, titik kemacetan jalur menuju Sukabumi terletak di Cibadak. Jika tol beroperasi sampai Cibadak, maka kepadatan kendaraan yang terurai akan sangat signifikan.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, pembangunan tol Bocimi memberikan alternatif bagi masyarakat.

Menurut Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna, tol Bocimi  semula berakhir di Sukabumi, tetapi akan diperpanjang sampai Ciranjang. Penambahan  akan dikerjakan oleh PT Trans Jabar Tol selaku badan usaha tol Bocimi. Lalu, ruas tol dari Ciranjang sampai tol Padalarang (sekitar 28 km) akan dibangun  oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk selaku operator tol Purbaleunyi.

Padat karya

Sebelum meninjau tol, Presiden mengecek proyek padat karya di Desa Pasir Suren, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di lokasi, pekerja tengah membangun saluran irigasi dengan batu dan semen dari sebelumnya hanya dari tanah.

Menurut Presiden, program padat karya tunai akan terus ditingkatkan karena mendorong perekonomian desa.

Terkait itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, program padat karya menguntungkan negara dan masyarakat. “Kami meminta  kontraktor  menyisihkan sebagian pekerjaan untuk dikerjakan oleh tenaga manusia,” ujarnya.

Menurut Budi,  8 persen  pekerjaan konstruksi bisa dialokasikan untuk padat karya. Padapembangunan jalur ganda kereta Api (KA) Bogor-Sukabumi, misalnya, akan menyerap 1.420 tenaga kerja atau 158 pekerja setiap harinya selama tiga bulan. Setiap pekerja  bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp. 3 juta per bulan atau sesuai  upah minimum regional.(NAD/ARN)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*