LIGA CHAMPIONS: Chelsea Bersiap Menderita

Ilustrasi (Sumber: corktowncycles.com)

Barcelona, Baranews.co – Duel Barcelona kontra Chelsea di babak 16 besar Liga Champions, Kamis (15/3) dini hari WIB, menjadi hari ”penghakiman” bagi Antonio Conte. Manajer Chelsea itu meminta anak-anak asuhnya siap ”menderita” jika ingin menjungkalkan Barca di rumahnya, yaitu Stadion Camp Nou.

Untuk lolos ke perempat final Liga Champions, Chelsea wajib mengejar gol tandang dan minimal menahan Barca, 2-2, di kandangnya itu. Pada duel pertama di Stamford Bridge, Februari lalu, kedua tim bermain imbang 1-1.

Tak ayal, ini menjadi misi sulit bagi ”The Blues”. Musim ini, di bawah asuhan Ernesto Valverde, Barca menjelma sebagai tim yang berbeda ketimbang era-era sebelumnya saat dilatih Luis Enrique atau Pep Guardiola.

Di satu sisi, Barca tidak lagi segarang dulu. Mereka hanya bisa mengemas 10 gol dari tujuh laga Liga Champions musim ini. Jumlah itu adalah salah satu yang terendah di jajaran tim penghuni babak 16 besar. Sebagai perbandingan, Real Madrid mengoleksi 22 gol atau dua kali lebih banyak dari jumlah gol ”Blaugrana”.

Namun, pola permainan 4-4-2 yang diterapkan Valverde punya keunggulan lain, yaitu stabilitas di lini pertahanan. Gawang Barca sangat sulit ditembus lawan-lawannya. Mereka menjelma sebagai tim paling kokoh di Liga Champions musim ini, yaitu hanya dua kali kebobolan.

Tak heran, Barca sangat sulit dikalahkan musim ini. Blaugrana hanya sekali terjatuh, yaitu ketika menghadapi Espanyol di perempat final Piala Raja, Januari lalu. Namun, di Camp Nou, rekor mereka masih sempurna. Barca belum pernah kalah di kandang dan hanya tujuh kali kebobolan di 20 laga kandang musim ini.

Berbeda dengan kebanyakan tim yang punya rekor pertahanan mengilap, Barca tetap memegang teguh filosofi dominasi bola. Tidak mudah mencuri bola dari tim Spanyol ini. Lagi-lagi, ini menjadi tantangan besar bagi The Blues.

Taktik Conte

Namun, Conte dan timnya bakal datang ke Camp Nou dengan tekad membara. Liga Champions menjadi peluang terbaik Conte menyelamatkan kariernya di Chelsea setelah tim itu melempem di kompetisi domestik, yaitu gagal di Piala Liga dan kini berada di peringkat kelima Liga Inggris.

Kegagalan di Liga Champions bakal membuat Conte kian sulit mempertahankan jabatannya di klub yang gemar bergonta-ganti manajer itu. Untuk itu, manajer asal Italia tersebut meminta para pemainnya meningkatkan solidaritas di laga krusial itu.

”Menghadapi tim yang sangat bagus seperti mereka, kami harus siap menderita, serupa laga pertemuan pertama lalu. Kami harus bermain kompak dan tetap yakin dapat membuat gol,” ujar Conte.

Mantan pelatih Juventus itu agaknya bakal kembali menerapkan taktik serupa laga pertama. Ia akan meminjam taktik ala Italia, yaitu bertahan dengan delapan pemain dan memaksimalkan serangan cepat dalam transisi bertahan ke menyerang.

Taktik itu nyaris efektif ketika Chelsea menjamu Barca. Mereka banyak menciptakan peluang gol berkat kecepatan pemain seperti Willian. Namun, satu kesalahan fatal dari bek belia Andreas Christensen memaksa Chelsea harus puas dengan hasil 1-1.

Taktik pertahanan berlapis dan serangan balik cepat macam itu pernah meloloskan The Blues dari sergapan Barca di semifinal Liga Champions, enam tahun lalu. Saat itu, Chelsea yang diasuh manajer asal Italia lainnya, Roberto Di Matteo, menyingkirkan juara bertahan Barcelona.

Chelsea menahan Barca, 2-2, di Camp Nou. Padahal, mereka tertinggal dua gol lebih dulu dan tampil dengan sepuluh pemain sejak menit ke-37 menyusul kartu merah untuk John Terry. The Blues mencetak dua gol dari tiga tembakan ke gawang dan hanya sepertiga penguasaan bola. Mereka lantas jadi juara.

Inspirasi 2012

Kisah indah pada 2012 itu menjadi inspirasi bagi The Blues pada duel dini hari nanti. Namun, masalahnya, kondisi di Chelsea saat ini berbeda dengan era itu. Chelsea kini tidak lagi memiliki tipe pemimpin dengan karakter kuat seperti bek John Terry dan striker Didier Drogba.

Kenyataannya, The Blues saat ini justru bermasalah dengan lini serang. Mereka kini tak memiliki ujung tombak yang dapat diandalkan seperti Drogba. Striker Alvaro Morata tengah didera krisis kepercayaan diri, sementara pendatang baru Olivier Giroud belum menyetel dengan tim.

Tidak heran, Conte lebih memilih memainkan gelandang serang Eden Hazard sebagai ujung tombak. Masalahnya, Hazard tidak suka dengan posisi barunya itu. Posisi ujung tombak membuatnya sulit mendapatkan bola.

”Menyedihkan. Kami bisa saja bermain selama tiga jam, tetapi saya sama sekali tak menyentuh bola. Sulit bermain di posisi ini, terutama ketika barisan bek lawan terus menekan Anda,” keluh Hazard seusai Chelsea dibekap Manchester City, 0-1, di Liga Inggris, pekan lalu.

Kontras dengan Chelsea, Barca kaya dengan pilihan pemain di lini serang menyusul kembalinya penyerang sayap Ousmane Dembele dan gelandang Andres Iniesta yang sempat cedera.

Bintang Barca, Lionel Messi, juga bakal tampil lebih segar dan berapi-api setelah ”cuti” untuk merayakan kelahiran putra ketiganya, Ciro, akhir pekan lalu. Messi bakal kian semangat mencetak gol ke gawang Chelsea setelah mematahkan ”kutukan” gol ke gawang The Blues pada Februari lalu. (AFP/Reuters/JON)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*