4 Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronis yang Kamu Perlu Tahu

Penyakit ginjal kronik yang dikenali secara dini akan membantu jalannya pengobatan yang lebih cepat. Dengan hal ini, risiko komplikasi akibat penyakit ini juga dapat ditekan. Nah untuk itu, penting sekali untuk mengenali beragam faktor risiko yang bisa menimbulkan masalah pada ginjalmu.

Baranews.co – Penyakit ginjal kronik yang dikenali secara dini akan membantu jalannya pengobatan yang lebih cepat. Dengan hal ini, risiko komplikasi akibat penyakit ini juga dapat ditekan. Nah untuk itu, penting sekali untuk mengenali beragam faktor risiko yang bisa menimbulkan masalah pada ginjalmu.

“Untuk mencegahnya (penyakit ginjal kronis) kita mesti mundur ke faktor risiko,” kata dr Zamhir Setiawan, M.Epid, Kepala Subdit Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Kementerian Kesahatan pada sela acara Press Conference Hari Ginjal Sedunia 2018: Ginjal & Kesehatan Perempuan oleh Baxter, Rabu (7/3/2018).

1. Kelahiran prematur

 

Foto: thinkstockFoto: thinkstock

Mengalami masalah ginjal saat masa kehamilan ternyata tak hanya berbahaya bagi si ibu hamil tapi juga si jabang bayi. Menurut dr Aida Lydia, PhD, SpPD-KGH, Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia, hal ini berdampak pada risiko terkena masalah ginjal juga untuk si bayi pada saat menginjak usia dewasa.

“Kalau seorang ibu mengalami gangguan fungsi ginjal, maka sering kali janinnya tumbuh tidak sehat. Tidak sehat dalam arti dengan berat badan bayi rendah, kadang-kadang dia abortus (keguguran), atau bisa juga meninggal dalam kandungan. Ketika dia lahir dan berat bayinya rendah, itu pada umumnya jumlah nefron (penyusun ginjal) sedikit,” jelas dr Aida.

Masih kata Aida, dr penelitian ini sudah banyak dibuktikan terutama di Australia pada populasi Aborigin karena banyak sekali pasien penyakit ginjal di sana.

Untuk pencegahannya, dr Aida menganjurkan kepada orang tua dari bayi yang lahir dengan berat badan rendah untuk memeriksakan ginjal anaknya ke dokter anak. Saat dewasa, jangan ragu untuk membawa anak ke internis. Akan tetapi, perlu ditekankan, tidak berarti semua anak yang lahir dengan berat badan rendah pasti mengalami gangguan ginjal.

2. Penyakit pemicu

 

Foto: iStockFoto: iStock

Sejumlah penyakit ada juga yang akan memberikan dampak buruk pada ginjal semisal hipertensi atau diabetes apabila tidak terkontrol. Hal ini pun juga dijelaskan oleh dr Zamhir pada kesempatan yang sama.

“Hipertensi, diabetes, obesitas, itu yang utama. Tentu saja untuk menjawab pertanyaan itu (bagaimana mencegah) kita harus mengendalikan faktor risiko sebelum itu,” tuturnya.

Selain diabetes atau hipertensi, penyakit seperti lupus yang menyerang ginjal, anemia, kanker serviks, AIDS, dan hepatitis C adalah masalah kesehatan lainnya yang bisa merusak kerja ginjal.

Orang yang sering mengalami infeksi saluran kencing (ISK) berulang juga harus waspada karena ini juga bisa menimbulkan masalah pada ginjal, terutama wanita karena memiliki saluran kencing yang lebih pendek daripada pria.

3. Riwayat keluarga

 

Foto: Facebook/ The Family ImprintFoto: Facebook/ The Family Imprint

Orang dengan keluarga yang pernah mengalami penyakit ginjal kronis sebaiknya lebih memperhatikan gaya hidupnya mulai dari sekarang. Pasalnya, salah satu faktor risiko datang dari genetik.

Tapi, bukan cuma riwayat penyakit ginjal kronis, orang-orang yang memiliki keluarga sebagai pasien hipertensi atau diabetes juga harus waspada karena kedua hal ini seperti dijelaskan sebelumnya merupakan pencetus munculnya masalah pada ginjalmu.

4.Pola hidup berantakan

Foto: ThinkstockFoto: Thinkstock

Bila dikelompokkan, ada empat aktivitas terbesar yang menyumbang risiko terjadinya penyakit ginjal kronis yaitu pola makan kurang sehat, merokok, konsumsi alkohol, dan kurang gerak.

“Standar dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) kita jalan 30 menit dalam sehari supaya jantung bisa kita jaga fungsinya. Pembuluh darah tetap elastis, aliran darah terjaga, metabolisme terjaga,” ujarnya.

Pola makan yang sehat tidak hanya menghindari diri dari obesitas yang jadi salah satu faktor risiko penyakit ginjal, tapi juga dipengaruhi oleh konsumsi lemak, natrium, dan gula yang berlebihan. Dari data Kementerian Kesehatan terbaru, 93 persen orang Indonesia kebutuhan seratnya belum terpenuhi.

(detik.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*