TENIS: Federer yang Terbaik

Petenis Swiss, Roger Federer, berpose dengan trofi atlet putra terbaik dan comeback player terbaik dalam seremoni pemberian penghargaan atlet dunia Laureus di kompleks Sporting Monte-Carlo, Monako, Selasa (27/2). (Sumber: KOMPAS/AFP/VALERY HACHE).

Roger Federer bukan hanya atlet terbaik di lapangan tenis. Penghargaan Laureus yang diterimanya di Monako, Rabu (28/2) dini hari WIB adalah pengakuan dirinya sebagai atlet terbaik dari yang terbaik pada musim 2017.

Federer memborong penghargaan sebagai atlet putra terbaik dan comeback of the year. Kategori ini adalah penghargaan bagi atlet yang karena kemampuannya berprestasi kembali setelah cedera, sakit, atau prestasinya menurun.

Tujuh gelar juara pada 2017, termasuk Grand Slam Australia Terbuka dan Wimbledon, mengantarkan petenis Swiss itu meraih gelar atlet putra terbaik untuk kelima kali setelah 2005-2008. Federer menyisihkan kandidat lain: Cristiano Ronaldo (sepak bola), Mo Farah (atletik), Chris Froome (balap sepeda), Lewis Hamilton (F1), dan Rafael Nadal (tenis). Hasil itu didapat setelah Federer hanya bertanding separuh musim 2016 karena cedera punggung dan lutut.

Federer mendapat suara terbanyak dari Laureus World Sports Academy yang terdiri atas legenda berbagai cabang olahraga. Tahun ini, dua mantan pesepak bola, Francesco Totti dan Ryan Giggs, menjadi anggota baru akademi.

”Ini adalah momen spesial. Semua orang tahu betapa tingginya nilai Penghargaan Laureus. Jadi, sangat menyenangkan bisa kembali memenanginya, apalagi dalam dua kategori,” kata Federer.

Federer datang ke Monako setelah batal tampil dalam turnamen tenis di Dubai, Uni Emirat Arab, pekan ini. Dia mendapat piala keenam pada penghargaan selevel Piala Oscar dalam dunia film tersebut setelah menjadi petenis nomor satu dunia pada 19 Februari.

”Tahun 2017 menjadi tahun yang tak terlupakan. Saya bisa kembali setelah menghadapi masa sulit pada 2016. Jika Anda mengatakan saya akan mendapat enam piala saat pertama kali saya menang pada 2005, saya tak akan percaya,” ujar Federer dalam laman resmi Laureus.

Dalam konferensi pers setelah penghargaan, Federer bercerita tentang persaingannya dengan Nadal, usahanya menjadi suami dan ayah yang baik selain sebagai petenis, serta kunci keberhasilannya. ”Saat saya percaya bisa juara lagi dan tim saya mendukung, saya bisa melakukannya,” kata Federer yang merayakan kemenangan dengan berswafoto dengan pemenang lain.

Di bagian putri, Serena Williams mengalahkan rekan sesama petenis, Garbine Muguruza, Caster Semenya (atletik), Allyson Felix (atletik), Katie Ledecky (renang), dan Mikaela Shiffrin (alpine ski). Petenis Amerika Serikat tersebut menjuarai Australia Terbuka 2017 dalam kondisi hamil dua bulan. Gelar di Melbourne ketika itu menjadi gelar Grand Slam ke-23 baginya.

Meski kalah dari Federer pada kategori atlet putra terbaik, pebalap F1, Lewis Hamilton, mengaku bangga atas kemenangan Mercedes sebagai tim terbaik. Gelar juara konstruktor, yang mengantarkan Hamilton menjadi juara F1 2017, adalah kemenangan keempat beruntun bagi Mercedes.

”Banyak orang yang sangat ahli di bidang masing-masing dalam tim kami. Saya bangga menjadi bagian dari mereka,” kata Hamilton kepada BBC.

Aksi sosial

Selain memberi penghargaan atas penampilan terbaik insan olahraga, Penghargaan Laureus yang digelar sejak 2000 juga menjunjung nilai-nilai sportivitas dan kemanusiaan. Momen kebangkitan klub sepak bola Brasil, Chapecoense, setelah hampir semua pemain intinya tewas karena kecelakaan pesawat, mendapat pengakuan sebagai momen terbaik.

Atlet klub sepak bola Amerika Houston Texas, JJ Watt, mendapat penghargaan dengan aksi inspiratifnya ketika berinisiatif mengumpulkan dana untuk membantu korban topan Harvey di Houston, AS. Dia mengumpulkan dana hingga 37 juta dollar AS (Rp 508 miliar). (iya)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*