KANKER SERVIKS: Dorong Vaksinasi untuk Remaja Putri

Duta Cegah Kanker Serviks yang juga merupakan publik figur, Syifa Hadju, (kanan) mendapatkan vaksin HPV dalam acara diskusi bertema “Kenali Pencegahan Kanker Serviks” bersama KICKS dan Bracelet of Hope di Jakarta, Sabtu (17/2). (Sumber: DEONISIA ARLINTA UNTUK KOMPAS).

JAKARTA, Baranews.co – Kasus kanker serviks atau kanker leher rahim cukup tinggi ditemukan di Indonesia. Padahal, jenis kanker ini bisa dicegah dengan vaksinasi human papilloma virus. Untuk itu, program nasional vaksinasi ini terus didorong, terutama bagi remaja putri.

Data Global Action Cancer (GloboCan) tahun 2012 yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Institut Català D’Oncologia (ICO) Information Center on HPV and Cervical Cancer mencatat, setiap hari 26 perempuan di Indonesia meninggal karena kanker serviks. Artinya, setiap satu jam paling tidak  ada satu perempuan Indonesia meninggal akibat kanker serviks.

Ketua Umum dan Pendiri Cancer Information and Support Center Aryanthi Baramuli Putri mengatakan, sejumlah komunitas terus mendorong pemerintah untuk menjadikan vaksinasi human papilloma virus (HPV) sebagai program nasional. “Pencegahan sejak dini melalui vaksinasi sangat penting dan efektif, apalagi untuk anak yang memang belum aktif berhubungan seksual,” ujarnya seusai diskusi “Kenali Pencegahan Kanker Serviks” dari KICKS dan Bracelet of Hope di Jakarta, Sabtu (17/2).

Pencegahan sejak dini melalui vaksinasi sangat penting dan efektif, apalagi untuk anak yang memang belum aktif berhubungan seksual.

Ia mengatakan, dorongan tersebut dilakukan karena jumlah cakupan imunisasi untuk vaksin HPV masih minim. Hal ini karena harga vaksin ini terbilang mahal. “Sekali vaksin untuk tiga kali penyuntikan membutuhkan biaya lebih dari Rp 2 juta,” ujarnya.

Ardiansjah Dara Sjahruddin, dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre (MRCCC) Siloam Hospital Semanggi, Jakarta Selatan.

Ardiansjah Dara Sjahruddin, dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre (MRCCC) Siloam Hospital Semanggi, Jakarta Selatan, mengatakan, vaksin HPV bisa diberikan kepada remaja putri mulai usia 10 tahun. Pada usia ini, anak cukup mendapatkan dua kali suntikan. Namun, untuk usia di atas 30 tahun, dianjurkan mendapatkan tiga kali suntikan agar fungsi vaksin bisa optimal.

Vaksin HPV bisa diberikan kepada remaja putri mulai usia 10 tahun. Pada usia ini, anak cukup mendapatkan dua kali suntikan.

“Bagi dewasa, suntikan vaksin bisa diberikan secara berkala, yaitu pada bulan pertama, dua bulan berikutnya, dan enam bulan kemudian. Tetapi, vaksinasi HPV tidak boleh diberikan pada ibu hamil,” katanya.

Ardiansjah menilai, remaja saat ini penting untuk mendapatkan vaksinansi HPV karena gaya hidup seksualnya semakin berisiko. “Dari survei yang saya lakukan, terutama di kota besar, gaya hidup seksualnya sudah merapat ke daerah genital (kelamin),” ujarnya.

Bertahap

Secara terpisah, Kepala Subdirektorat Imunisasi Kementerian Kesehatan Prima Yosephine mengatakan, imunisasi HPV dilakukan secara bertahap untuk siswi tingkat sekolah dasar. Pada tahap awal, imunisasi dilakukan di DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur.

“Dilakukan dua kali vaksinasi, untuk HPV1 diberikan pada siswi SD kelas 5 dan HPV2 diberikan pada siswi SD kelas 6,” katanya.

Kementerian Kesehatan mencatat, cakupan demo program vaksinasi HPV tahun 2017 di DKI Jakarta untuk cakupan HPV1 sebesar 88,1 persen dan HPV2 sebesar 91,9 persen. Di DIY, cakupan HPV1 sebanyak 99,8 persen dan di Jawa Timur, cakupan HPV1 sebanyak 92,8 persen.

“Jarak antara HPV1 ke HPV2 adalah 1 tahun. DIY dan Jatim baru memulai demo program HPV thn 2017 sehingga cakupan yangg ada hanya untuk HPV1, sementara DKI sudah mulai demo program HPV sejak 2016 sehingga sudah ada laporan cakupan HPV 1 dan HPV2,” ujar Prima.

Saat ini, keterbatasan dana menjadi faktor yang menyebabkan program vaksinasi nasional belum bisa dilaksanakan. Vaksin yang digunakan pun masih impor sehingga pasokan vaksin tak bisa dipastikan berkelanjutan.

Keterbatasan dana menjadi faktor yang menyebabkan program vaksinasi nasional belum bisa dilaksanakan. Vaksin yang digunakan pun masih impor.

Penularan

Ardiansjah mengatakan,  virus HPV bisa ditularkan melalui aktivitas seksual dan nonseksual. Aktivitas seksual yang dimaksud adalah kontak langsung pada alat kelamin, termasuk kontak langsung antaralat kelamin, sentuhan, atau oral seks.

“Sekitar 80 persen kanker sekviks atau kanker leher rahim ini disebabkan dari kegiatan seksual. Sementera 20 persen lainnya bisa karena menikah di usia muda atau di bawah 16 tahun, sering melahirkan secara normal (memiliki banyak anak yang dilahirkan secara normal), sering mengalami penyakit kelamin, dan merokok,” katanya.

Sekitar 80 persen kanker sekviks atau kanker leher rahim ini disebabkan dari kegiatan seksual.

Leher rahim adalah daerah yang menghubungkan antara rahim dengan vagina. Umumnya, leher rahim yang sehat berwarna merah muda. Pada stadium awal, leher rahim akan terlihat berwarna putih. Pada stadium lanjut berbentuk bintil-bintil dan seperti borok yang bisa meluas ke seluruh organ reproduksi serta organ di sekitarnya.

Pada stadium awal biasanya tidak ada gejala yang dirasakan. Namun, gejala kanker leher rahim bisa berupa pendarahan tidak normal, misalnya pendarahan setelah hubungan seks, di luar haid. Selain itu, keluar cairan kekuningan yang berbau khas dari vagina. (DD04)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*