Resistensi Antibiotik, Kelak Infeksi Bakteri Pun Bisa Jadi Penyebab Kematian

Ilustrasi (Sumber: HealthMarkets)

Oleh: Syaiful W HARAHAP

“Saya tidak bisa kasi antibiotik, ya, Pak.” Ini dikatakan seorang dokter di sebuah klinik di bilangan Pisangan Lama, Jakarta Timur. Waktu itu penulis berobat karena batuk. Dokter hanya memberikan obat pereda batuk, obat radang dan pengencer dahak dalam bentuk tablet.

Rupanya, ada saja yang membeli obat antibiotik di pasar bebas. Orang-orang itu mendiagnosis sendiri penyakitnya dan mencari tahu obatnya. Ada yang berselancar di Internet ada pula yang bertanya ke pedagang obat tentang obat gejala penyakit yang dikeluhkan.

Ketika darah tinggi terdeteksi, dokter yang memeriksa mengingatkan: “Pak, ingat. Jangan sekali-kali beli obat sendiri,” kata Bu Dokter di bilangan Jalan Gading Raya, Pisangan Timur, Jakarta Timur. Anjuran Bu Dokter itu saya pegang dan jika ada gangguan kesehatan saya memilih ke dokter daripada mencari obat sendiri.

Dokter tadi tegas dengan tidak memberikan obat antibiotik dan memberikan opsi lain yaitu yang bukan antibiotik. Diagnosis dokter tadi menunjukkan radang dan simptom flu tidak harus ‘dihabisi’ dengan ‘bom’ antibiotik, tapi cukup dengan obat-obatan lain. Obat yang diberikan, untuk tiga hari, habis dan batuk pun reda.

Survei WHO (Badan Kesehatan PBB) Maret 2016-Juli 2017 terhadap 1,5 juta penduduk di 22 negara miskin dan kaya menunjukkan resistensi terhadap obat antibiotik ada pada tingkat yang mengkhawatirkan (Peningkatan Resistensi Antibiotik Ancam Kesehatan Masyarakat Dunia, VOA Indonesia, 16/2-2018).

Dari survei itu diperoleh data terkait dengan resistensi antimikroba di dunia yang berakhir pada peringatan karena bakter yang paling bisa pun dilaporkan sudah resisten pada tingkat 65-82 persen.

Ketika terjadi resistensi antibiotik, infeksi karena bakteri yang sebelumnya bisa disembuhkan dengan penicilin tidak bisa lagi disembuhkan dengan penicilin. Maka, ketika seseorang yang resisten antibiotik bakteri justru spontan melakukan mutasi gen sehingga komposisi bakteri berubah. Obat antibiotik pn tidak bisa lagi membunuh bakteri tsb. karena sudah melakukan mutasi gen (bbc.com/indonesia, 2/10-2017).

WHO menyebutkan bakteri yang sudah resistansi terhadap antibiotik yang paling sering dilaporkan al. infeksi bakteri e-coli (infeksi di usus besar yang menular melalui air dan makanan), infeksi bakteri staphylococcus (bakteri patogen oportunistik yang bisa menyebabkan beragam penyakit pada manusia dan hewan), pneumonia (penyakit infeksi paru yang bisa menyebabkan sesak napas) dan salmonella (infeksi di perut dan usus).

Dari aspek kesehatan masyarakat kondisi resistensi antibiotik mengancam kesehatan masyarakat (dunia). Untuk itulah WHO berharap semua negara membuat sistem pengamatan   untuk mendeteksi resistensi obat. Anjuran WHO ini bak gayung bersambut. Kenya meningkatkan sistem resistensi antimikroba dengan skala nasional, Tunisia  mengumpulkan data resistensi obat secara nasional, dan Korea memperkuat sistem pengawasan obat antibiotik. Sedangkan di Belanda, Norwegia, Swedia dan Jerman dikabarkan pemerintah setempat sudah mengendalikan pemakaian obat antibiotika.

Sekarang tidak ada lagi alasan tidak berobat ke fasilitas kesehatan karena sudah ada BPJS Kesehatan. Selain itu biaya berobat di rumah sakit umum daerah dan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) hanya seharga sebungkus rokok.

WHO bukan menakut-nakuti, tapi memberikan fakta yaitu jika penyakit resisten terhadap obat, maka dunia akan kembali ke situasi yang membahayakan kesehatan seperti masa-masa sebelum penisilin ditemukan.

Dengan kondisi dan situasi seperti masa sebelum ada penisilin luka gores dan operasi ringan pun bisa mengancam jiwa karena resistensi obat. Penderita kanker akan berada pada situasi yang runyam karena pengobatan kanker bermasalah karena resisten sehingga sistem kekebalan tubuh yang rendah tidak bisa ditingkatkan.

Dalam bahasa lain WHO mengatakan: “Infeksi apa pun akan menimbulkan risiko tambahan.” Risiko di sini bisa berujung pada kematian padahal infeksinya hanya infeksi biasa karena bakteri.

Ilustrasi: Pedagang obat kaki lima (Sumber: finance.detik.com)

Bagaimana dengan Indonesia?

Obat antibiotik bisa dibeli di berbagai tempat yang menjual obat, mulai dari pedagang obat Kaki Lima, toko obat dan apotek.

Disebutkan ole dr Hari Paraton, MD, SpOG(K), Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), banyak dokter di Indonesia yang tidak memiliki pemahaman yang cukup terkait resistensi antibiotik. “Setelah kita teliti kok masih naik, jadi angka resisten di RS itu kisarannya 49-84 persen. Bisa dibilang hampir nggak mempan karena rata-rata udah multiresisten,” kata dr Hari (today.mims.com, 11/7-2017).

Prof Dr dr Usman Hadi MD PhD Sp PD-KPTl, guru besar Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, dalam sebuah diskusi (12/2/2017) menyebutkan dari berbagai studi ditemukan sekitar 40-62 persen obat antibiotik dipakai secara tidak tepat, antara Iain untuk penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Bahkan dalam operasi hampir beragam operasi tidak membutuhkan antibiotik (tribunnews.co, 12/2-2017).

Maka, sudah saatnya pemerintah, dalam hal ini Kemenkes RI, mulai menjalankan program survei dan pengawasan obat antibiotik secara nasional. Masalah besar yang dihadapi Kemenkes adalah otonomi daerah yang tidak memungkinkan Kemenkes memaksakan program secara nasional karena semua terpulang kepada pemerintah kabupaten dan kota sesuai dengan UU Otonomi Daerah.

Tanpa program yang komprehensif, infeksi akan jadi penyakit penyebab kematian terbesar di negeri ini. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*