KEMAHASISWAAN: Presiden Bicara Pentingnya Persatuan dan Perdamaian di Depan Peserta Kongres HMI

Presiden Joko Widodo memukul beduk tanda dibukanya Kongres Ke-30 Himpunan Mahasiswa Islam di Kota Ambon, Provinsi Maluku, Rabu (14/2). Di hadapan peserta kongres, Presiden menjelaskan arah pembangunan nasional. Presiden juga menyampaikan pesan untuk menjaga persatuan dan kesatuan. (Sumber: KOMPAS / ANDY RIZA HIDAYAT).

Oleh: ANDY RIZA HIDAYAT

AMBON, Baranews.co – Presiden Joko Widodo membuka Kongres Ke-30 Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI pagi tadi di Kota Ambon, Provinsi Maluku, Rabu (14/2). Kehadiran Presiden pada pembukaan kongres ini untuk memperingati Dies Natalis Ke-71 HMI yang digelar di Auditorium Universitas Pattimura. Kegiatan tersebut merupakan bagian rangkaian acara yang dihadiri Presiden yang tiba di Ambon sejak Selasa malam.

Berbicara di depan peserta Kongres HMI, Presiden lebih banyak menceritakan tentang arah pembangunan nasional. Salah satu hal yang dijelaskan adalah kepentingan pemerintah memprioritaskan sektor infrastruktur. Menurut Presiden, pemerintah perlu mengatasi ketertinggalan pembangunan infrastruktur, terutama di Indonesia wilayah timur.

”Pembangunan infrastruktur adalah layanan dasar untuk mewujudkan keadilan sosial. Hal ini dibutuhkan untuk menerangi desa yang selama ini gelap gulita, untuk membangun jalan di daerah yang selama ini terisolasi,” kata Presiden di hadapan peserta kongres.

Begitu juga kepentingan pemerintah untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya kepada siswa. Kartu Indonesia Pintar (KIP) diberikan untuk menjamin agar semua anak dapat mengakses pendidikan. Sejauh ini pemerintah sudah memberikan KIP ke 18 juta anak. Kartu Indonesia Sehat (KIS) sudah diberikan ke 92 juta warga.

Pesan perdamaian

Pada saat yang sama, Presiden menyampaikan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Karena alasan itulah, Presiden memutuskan untuk mengunjungi negeri yang sedang dilanda konflik, yaitu Afghanistan.

Menurut Presiden, Afghanistan dapat menjadi contoh pembelajaran pentingnya persatuan dan kesatuan. Belajar dari Afghanistan, Indonesia harus dapat menjaga persatuan agar tidak menjadi seperti Afghanistan. Negeri yang hanya terdiri dari tujuh suku besar bisa terkoyak perang saudara, sedangkan Indonesia memiliki 714 suku dan agama yang berbeda-beda.

Presiden selalu teringat dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. ”Presiden Jokowi hati-hati menjaga negaramu. Karena perbedaan suku, agama, dan bahasa daerah tidak mudah disatukan. Afghanistan hanya ada tujuh suku, pertikaian semula diawali dari dua suku, melebar, lalu melibatkan pihak luar,” kata Presiden.

Presiden meyakini, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia Indonesia dapat berbuat banyak untuk perdamaian dunia. Indonesia yang menjadi anggota kelompok G-20 adalah negara besar yang layak diperhitungkan. Karena itu, bukan saatnya lagi mencari bantuan ke negara lain, tetapi kini saatnya membantu negara yang membutuhkan.

”Jangan lupa kita punya insan-insan hebat, insan akademis, insan pencipta, insan pengabdi, insan yang bernapaskan Islam. Jutaan kader HMI, kader insan cita yang berkualitas. Kita sudah memilikinya,” kata Presiden disambut tepuk tangan peserta kongres.

KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT

Presiden Joko Widodo berada di tengah kerumunan warga Negeri Batumerah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku, Rabu (14/2). Presiden mendatangi tempat itu untuk memastikan pelaksanaan program padat karya tunai oleh Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Sebelum ke arena kongres, Presiden mendatangi dua titik peninjauan di Kota Ambon. Presiden ingin memastikan program padat karya Kementerian Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berjalan sesuai rencana. Kunjungan ini disambut warga yang sudah hadir sejak pagi hari. ”Saya ingin pastikan bahwa program-program ini berjalan memberikan manfaat kepada masyarakat yang terlibat,” kata Presiden.

Hadir di acara pembukaan Kongres Gubernur Maluku Said Assagaf, Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi M Nasir, Ketua Presidium Korps Alumni HMI Akbar Tanjung, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zukifli Hasan, dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Oesman Sapta Odang. Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*