Berpikir Positiflah, Anda akan Terhindar dari Demensia!

Berpikir positif sering dianggap mempunyai banyak manfaat. Tapi kali ini sebuah penelitian kembali menegaskan bahwa anggapan tersebut memang benar.

Baranews.co – Berpikir positif sering dianggap mempunyai banyak manfaat. Tapi kali ini sebuah penelitian kembali menegaskan bahwa anggapan tersebut memang benar.

Dalam penelitian baru ditemukan bahwa berpikir positif tentang menjadi tua secara signifikan dapat mengurangi risiko demensia atau kepikunan. Hasil ini juga berlaku pada orang yang memiliki faktor risiko genetik demensia.

Sebelum mendapat temuan tersebut, para peneliti yang berasal dari Yale University dan National Institute on Aging Amerika Serikat mempelajari hampir 5.000 orang yang berusia 60 tahun ke atas. Mereka melakukan penelitian selama 4 tahun.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE ini menilai persepsi peserta dengan menguji mereka tentang berbagai aspek usia. Para peserta ditanyai seberapa kuat mereka setujua atau tidak setuju terhadap pernyataan seperti, “Semakin tua saya, semakin tidak berguna yang dirasakan.”

Studi ini juga merupakan yang pertama dalam menganalisis bagaimana kepercayaan budaya tentang efek penuaan dapat mempengaruhi perkembangan demensia, bahkan pada pasien yang berisiko tinggi karena punya faktor genetik.

Menurut penelitian sebelumnya, salah satu faktor risiko demensia terkuat adalah varian gen ε4 APOE. Dalam penelitian yang terpisah, ditemukan bahwa seperempat populasi di AS membawa varian ini.

Meski begitu, hanya 47 persen dari pembawa varian gen tersebut yang mengembangkan penyakit otak demensia.

Sedangkan pada orang-orang tanpa varian genetik ini yang memiliki pikiran positif, mereka 44 persen lebih kecil untuk mengembangkan demensia. Sedangkan pada pembawa varian genetik ini, pikiran postif membuat mereka 50 persen lebih kecil untuk mengembangkan penyakit otak ini.

“Kami menemukan bahwa pikiran positif pada usia dapat mengurasngi risiko dari salah satu faktor risiko genetik terbesar demensia,” ujar Becca Levy, penulis utama penelitian ini dikutip dari Newsweek, Kamis (08/02/2018).

“Ini membuat sebuah kasus untuk diterapkan dalam kampanye kesehatan masyarakat melawan diskriminasi usia, yang merupakan sumber kepercayaan negatif terhadap penuaan,” imbuh profesor kesehatan masyarakat dan psikologi di Yale School of Public Health tersebut.

Dalam laporan ABC News, Kamis (08/02/2018), stres disebut-sebut sebagai faktor kunci pengembangan demensia.

“Mereka yang memiliki stereotip negatif terhadap penuaan cenderung mendapatkan respons yang lebih buruk terhadap stres,” ujar Levy.

“Penelitian lain telah menemukan bahwa stres dapat dikaitkan dengan pengembangan demensia, jadi, pemikiran kita adalah mungkin saja stres adalah bagian dari mekanisme apa yang kita amati dalam penelitian ini,” imbuhnya.

Sayangnya, penelitian ini masih memiliki beberapa kekurangan. Henry Brodaty dari University of New South Wales, Australia menyebut bahwa penelitian ini dibatasi oleh pendekatannya terhadap tes demensia.

Brodaty menyebut bahwa peserta didiagnosis menggunakan sambungan telepon, bukan penilaian klinis yang lengkap. Meski begitu, dia menyebut bahwa penelitian ini masih signifikan.

Sayangnya, belum diketahui apakah kepercayaan negatif dapat menyebabkan perkembangan demensia, atau sebaliknya.

“Kita tidak tahu apakah mengubah kepercayaan akan membuat perbedaan… jika Anda bisa menunjukkannya, maka itu akan menarik,” ungkap Brodaty.

(kompas.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*