TOKOH BANGSA: Menziarahi Perjuangan Gus Dur

Sumber: NU Online

Akeh kang apal Quran hadise, Seneng ngafirke marang liyane, Kafire dewe dak digatekke, Yen isih kotor ati akale.

Lagu berjudul ”Syi’ir Tanpo Waton” itu menggema di Auditorium Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Senin (5/2) malam. Di panggung, tampak deretan perempuan dan laki-laki yang berdiri menyanyikan lagu itu, sementara sejumlah laki-laki duduk sambil memainkan alat musik tabuh. Paduan suara yang menyanyikan lagu itu berasal dari sebuah gereja, sementara kelompok hadrah yang mengiringinya berasal dari pondok pesantren.

Kolaborasi unik itu merupakan satu sajian dalam acara Ziarah Budaya Sewindu Haul Gus Dur yang digelar malam itu. Acara bertajuk ”Menjadi Gus Dur, Menjadi Indonesia” itu digelar untuk memperingati 8 tahun meninggalnya KH Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 RI yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Abdurrahman Wahid, yang akrab dipanggil Gus Dur, lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940 dan meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009. Semasa hidupnya, Gus Dur tidak hanya dikenal sebagai agamawan, tetapi juga tokoh bangsa
yang konsisten memperjuangkan keberagaman dan toleransi serta aktif membela kelompok minoritas dan mereka yang terpinggirkan. Karena itu, sosok Gus Dur tidak hanya dihormati oleh kaum Muslim, tetapi juga penganut agama-agama lain.

Karena itu pula, wajar-wajar saja apabila dalam acara Ziarah Budaya Sewindu Haul Gus Dur ditampilkan kolaborasi antara paduan suara gereja dan kelompok hadrah dari pondok pesantren. Pemilihan lagu ”Syi’ir Tanpo Waton” juga sangat pas karena lagu yang populer di kalangan nahdliyin itu berisi nasihat yang sesuai dengan nilai-nilai yang konsisten diperjuangkan Gus Dur.

Salah satu bait yang dikutip di awal tulisan ini, misalnya, bercerita tentang orang-orang yang ilmu agamanya tinggi, tetapi suka mengafirkan orang lain. Padahal, kelompok yang suka mengafirkan orang lain itu justru tidak peduli dengan kekurangan mereka sendiri karena hati dan akalnya kotor.

Dalam acara tersebut juga ditampilkan sejumlah tarian yang menggambarkan kemajemukan bangsa Indonesia, misalnya tarian dari Papua, pertunjukan barongsai yang merupakan representasi budaya Tionghoa, serta tari barong dari Blora, Jawa Tengah. Selain itu, tampil pula pertunjukan stand up comedy oleh tiga komika asal Yogyakarta serta pentas musik oleh penyanyi Glenn Fredly. Juga ada doa bersama dan pembacaan puisi oleh anak-anak dan tokoh lintas iman.

Acara Ziarah Budaya Sewindu Haul Gus Dur dihadiri antara lain istri mendiang Gus Dur, Ny Sinta Nuriyah, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko, dan anggota Dewan Perwakilan Daerah, Gusti Kanjeng Ratu Hemas.

Islam dan kebangsaan

Dalam orasi budaya di acara itu, Mahfud MD mengatakan, salah satu hal yang terus diperjuangkan Gus Dur adalah pertemuan antara ajaran Islam dan paham kebangsaan. Menurut Mahfud, hingga saat ini, ajaran Islam terkadang masih dipertentangkan dengan paham kebangsaan. Padahal, dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, ajaran Islam dan paham kebangsaan ternyata justru bisa saling menguatkan.

”Gus Dur menjadi simpul antara paham keislaman dan paham kebangsaan. Oleh karena itu, bagi Gus Dur, agama tidak bisa dipertentangkan dengan negara dan negara tidak bisa dipertentangkan dengan agama,” kata Mahfud.

Hal lain yang terus diperjuangkan Gus Dur, kata Mahfud, adalah penerimaan dan penghargaan terhadap keberagaman dan perbedaan yang ada di masyarakat. Bagi Gus Dur, keberagaman yang ada di dalam bangsa Indonesia merupakan fitrah yang tak bisa diubah. ”Pluralisme itu adalah keniscayaan sehingga kita harus menghargai keberagaman itu,” ucapnya.

Yang menarik, tutur Mahfud, saat melakukan perjuangan, Gus Dur tidak pernah memedulikan citra dirinya di mata orang lain. ”Gus Dur tidak pernah mau pencitraan. Jadi, kalau ada orang salah, ya, digasak saja sama beliau meski kemudian dia dilawan dan dimusuhi,” ujarnya.

Ny Sinta Nuriyah mengatakan, haul Gus Dur memang tak hanya diisi dengan pembacaan doa dan zikir, tetapi juga acara-acara kebudayaan. Hal ini sangat wajar karena sebagian besar hidup Gus Dur diabdikan untuk merawat keberagaman budaya yang ada di Indonesia. ”Bagi Gus Dur, kebudayaan merupakan cermin dasar dari kemanusiaan,” ujarnya.

Sinta menambahkan, Gus Dur berinteraksi dengan berbagai kelompok tanpa dibatasi sekat-sekat tertentu. ”Inilah yang menyebabkan Gus Dur menjadi sangat dibutuhkan, sangat dicintai, dan sangat dirindukan. Kepergian Gus Dur telah meninggalkan kekosongan budaya yang sampai sekarang belum terisi,” tuturnya.

Ketua Panitia Ziarah Budaya Sewindu Haul Gus Dur, Fakhrur Rifai, menjelaskan, acara itu bertujuan untuk merawat dan menyebarluaskan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan oleh Gus Dur, seperti kemanusiaan dan keadilan. (HARIS FIRDAUS)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*