Mantan Penasihat Trump, Steve Bannon, Dipanggil ke Kongres

Steve Bannon, mantan penasihat Presiden Donald Trump di Gedung Putih hari Selasa (16/1) diminta keterangan oleh sejumlah anggota Kongres dalam penyelidikan tentang campur tangan Rusia dalam pemilu presiden Amerika tahun 2016.

Steve Bannon, mantan penasihat Presiden Donald Trump di Gedung Putih (foto: dok).

Baranews.co – Steve Bannon, mantan penasihat Presiden Donald Trump di Gedung Putih hari Selasa (16/1) diminta keterangan oleh sejumlah anggota Kongres dalam penyelidikan tentang campur tangan Rusia dalam pemilu presiden Amerika tahun 2016.

Bannon yang merupakan pembantu utama Trump pada masa kampanye dan menjadi penasehat di Gedung Putih selama tujuh bulan sebelum akhirnya dipecat, dihadirkan dalam sidang dengar pendapat tertutup di Komite Intelijen DPR, salah satu penyelidikan yang sedang berlangsung di Washington DC terkait hubungan tim kampanye Trump dengan Rusia.

Sementara itu suratkabar the New York Times melaporkan penyidik khusus Robert Mueller memanggil Steve Bannon pekan lalu untuk memberi kesaksian di hadapan dewan juri yang menyelidiki kontak yang dilakukan tim kampanye Trump dengan Rusia.

Bannon masih tetap menandaskan dukungannya kepada Trump, tetapi hubungannya dengan presiden terganggu ketika sejumlah pernyataannya – tentang tim kampanye Trump dan bulan-bulan pertama menjabat di Gedung Putih – dikutip dalam buku Michael Wolff “Fire and Fury : Inside the Trump White House” yang dirilis 5 Januari lalu.

Mantan penasehat Trump itu dikutip sebagai mengatakan “pengkhianat” dan “tidak patriotik” bahwa putra tertua Trump – Donald Trump Jr., menantu yang kini menjadi penasehat Gedung Putih – Jared Kushner, dan mantan manajer kampanye Paul Manafort; yang bertemu seorang pengacara Rusia di tengah masa kampanye guna mendapatkan bukti “yang memberatkan” calon presiden Partai Demokrat Hillary Clinton.

Setelah buku itu diterbitkan, Trump mulai menyebut Bannon sebagai “Sloppy Steve (Steve si Ceroboh)” dan mengatakan “Steve Bannon tidak ada urusannya dengan kepresidenan saya. Ketika ia dipecat, ia tidak saja kehilangan pekerjaan, tetapi juga hilang kewarasannya.” Bannon juga dipecat pekan lalu sebagai CEO Breibart News, sebuah situs berita supremasi kulit putih yang mengagungkan populisme gaya Trump.

Komitew intelijen DPR kemungkinan akan menanyai Bannon tentang pertemuannya pada Juni 2016 yang direncanakan oleh Donald Trump Jr., yang sebelumnya mengatakan kepada tim penyelidik bahwa pengacara Rusia itu tidak memberi informasi yang memberatkan Clinton. Tim penyelidik juga mengkaji peran Trump ketika menulis pernyataan yang menyesatkan tentang tujuan pertemuan itu. (voaindonesia.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*