Mungkinkah Ibu Kota Pindah dari Jakarta?

Jakarta adalah kota yang menjadi sumber pekerjaan terbesar di Indonesia dan merupakan pusat perekonomian. (Sumber: VOA Indonersia/Wikipedia)

Indonesia sudah lama ingin memindahkan ibu kotanya. Tahun lalu, proyek relokasi ibu kota itu sepertinya mendapat momentum. Setelah bertahun-tahun mengalami banjir, Presiden Joko Widodo menugaskan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, BAPPENAS, untuk mempertimbangkan lokasi di provinsi Kalimantan Tengah.

Jakarta, yang pernah menjadi pusat kerajaan Sunda (Pajajaran) abad pertengahan dan kemudian pelabuhan kolonial Belanda di Batavia, digunakan sebagai ibu kota de facto oleh para pemimpin nasionalis pada tahun 1940an ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Tapi sejak saat itu selalu dilanda masalah logistik yang buruk.

Permukaan wilayah metropolitan terbesar kedua di dunia ini turun hingga 18 sentimeter per tahun. Panjang jalannya jauh lebih rendah daripada kota-kota besar lainnya, sehingga menciptakan kemacetan yang hampir permanen.

Meski demikian, Jakarta adalah kota dan sumber pekerjaan terbesar di negara ini, jadi tetap menjadi pusat perekonomian. Lambannya pembangunan infrastruktur di seluruh kepulauan Indonesia telah membuat banyak orang meragukan apakah proyek ambisius seperti memindahkan ibu kota ke pulau lain akan terwujud.

Tapi pada 2017 muncul titik cerah untuk proyek relokasi ibu kota itu. Setelah bertahun-tahun mengalami banjir, Presiden Joko Widodo menugaskan BAPPENAS, untuk mencari lokasi di Palangkaraya, kota di Kalimantan yang pernah diharapkan presiden Sukarno bisa menggantikan Jakarta sebagai ibu kota.

Kemacetan lalu lintas merupakan pemandangan sehari-hari di Jakarta khususnya pada jam-jam sibuk (foto: ilustrasi).

Kemacetan lalu lintas merupakan pemandangan sehari-hari di Jakarta khususnya pada jam-jam sibuk

Presiden Jokowi tetap membungkam tentang proyek tersebut namun akhirnya mengakui di Twitter tahun lalu bahwa “Wacana tentang relokasi ibu kota negara sekarang masih dalam tahap analisis … Perhitungan mendalam diperlukan untuk menjamin bahwa relokasi itu akan sangat bermanfaat.”

“Kami masih melakukan penelitian tentang apa yang diperlukan untuk merelokasi ibu kota,” kata Kepala BAPPENAS Bambang Brodjonegoro, di kantornya akhir tahun lalu. “Tapi pasti di luar Jawa.”

Banyak negara telah memindahkan ibu kota mereka dalam sejarah modern, termasuk Amerika Serikat, yang ibu kota pertamanya, sebelum Washington DC dibangun, adalah Philadelphia. Di Asia Tenggara, Myanmar diam-diam memindahkan ibu kotanya dari Yangon ke Naypyidaw pada 2005. Mesir sedang membangun sebuah ibu kota baru di gurun di luar Kairo.

Tapi bagi sebagian pengecam, mimpi untuk merelokasi ibu kota Indonesia hanyalah sisa aspirasi pasca kolonial daripada proyek yang realistis atau diperlukan.

Akan ada biaya ekonomi dan geopolitik yang besar untuk memindahkan ibu kota ke Kalimantan. Pertama, Kalimantan sudah dibagi antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei, menimbulkan masalah keseimbangan jika salah satu dari negara-negara tersebut memutuskan untuk memerintah dari sana. Kalimantan Tengah juga jauh dari laut untuk ibu kota sebuah negara yang seluruhnya terdiri dari pulau-pulau.

Selain itu, “partai-partai politik juga harus pindah tempat, pengadilan dan MA juga harus pindah, selain presiden. Pangkalan militer juga harus pindah, akan ada ratusan ribu orang yang membutuhkan perumahan dan perkantoran,” seperti dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla tahun lalu.

Dan yang terakhir, pengembangan Palangkaraya atau kota terdekat untuk menjadi ibu kota baru akan memperburuk masalah lingkungan di Kalimantan. Keanekaragaman hayati pulau itu sangat terpukul akibat penggundulan hutan oleh industri minyak kelapa sawit dan lainnya, dan kawasan itu juga merupakan habitat bagi puluhan spesies langka yang terancam punah seperti orangutan.[as/ii]/Krithika Varagur/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*