PSIKOLOGI: Pengenalan Diri dan Pengembangan Kepribadian (1)

Ilustrasi (Sumber: Harian KOMPAS)

Oleh: SAWITRI SUPARDI SADARJOEN

Setiap manusia normal cenderung mengharapkan dirinya berkembang menjadi lebih baik lagi, apa pun profesinya. Seorang profesional, ibu rumah tangga, ayah, ibu, anak, karyawan, guru, direktur, atau apa pun jabatan dan perannya setidaknya mengharapkan dirinya berkembang dan seberapa jauh pula ”dia” merasa dirinya perlu belajar untuk bisa berkembang lebih baik lagi.

Beberapa ahli dalam bidang psikologi memberikan beberapa pandangan tentang terbentuknya kepribadian manusia. Teori bakat yang menganggap bahwa kepribadian manusia terbentuk dari hasil bawaan waktu lahir. Dengan perkataan lain, sangat bergantung pada potensi yang dimilikinya.

Teori lingkungan yang menganggap bahwa kepribadian manusia terbentuk dari seberapa jauh lingkungan membentuk pribadi manusia itu. Jadi titik berat perkembangan pribadi manusia terletak pada seberapa besar lingkungan memengaruhinya.

Sementara itu, W Stern mengemukakan teori konvergensi yang mengatakan bahwa kepribadian manusia terbentuk sebagai hasil interaksi dari bakat dan lingkungan. Jadi, potensi yang dimiliki manusia yang dibawa sejak lahir berintegrasi dengan pengalaman manusia yang diperoleh dari lingkungan tempat manusia itu berada.

Berkaitan dengan hal tersebut, program pengenalan diri dan pengembangan kepribadian bertujuan membantu manusia sebagai individu untuk bisa mengembangkan bakat dan lingkungan yang tepat dengan harapan anda bisa mengembangkan potensi-potensi yang ada seoptimal mungkin, dan memberikan patokan- patokan dasar yang bisa dilaksanakan.

Guna mencapai tujuan pengenalan diri dan pengembangan kepribadian, program yang dilaksanakan adalah:

I. Pengenalan Diri, artinya seberapa jauh kita mengenali potensi yang kita miliki.

II. Umpan Balik yang diberikan oleh lingkungan

III. Upaya Pembentukan Sikap demi masa depan yang lebih baik.

IV. Pengembangan Kepribadian.

Pengenalan diri tidak datang begitu saja, untuk bisa mengenal diri secara lebih tepat, perlu diperhatikan cara-cara untuk mengenal diri.

Harry Ingham dan Joseph Luft dalam ”Johari Window”-nya menyatakan bahwa manusia memiliki 4 daerah pengenalan diri yaitu:

1. Diri terbuka.

2. Diri terlena.

3. Diri tersembunyi.

4. Diri yang tidak dikenal siapa pun,

Yang digambarkan sebagai berikut (lihat grafis pertama):

Nama ”Johari” berasal dari Joseph Luft dan Harrington Ingham.

1. Diri terbuka

Bagian diri yang disadari oleh diri sendiri dan ditampilkan kepada orang lain atas kemauan sendiri. Misalnya perasaan-perasaan, pendapat-pendapat, dan pikiran-pikiran yang dipilih untuk disampaikan kepada orang lain. Juga hal-hal yang tidak dapat ditutupi terhadap orang lain, seperti muka, bentuk badan, umur yang tampak pada keadaan badan (tua, muda); meskipun banyak orang ingin juga menutupinya.

2. Diri tersembunyi

Bagian diri yang disadari oleh diri sendiri, tetapi secara sadar ditutup- tutupi atau disembunyikan terhadap orang lain. Mungkin juga orang tidak tahu bagaimana menyampaikan dirinya kepada orang lain (misalnya tidak setuju dengan pendapat orang lain tetapi tidak dapat menyampaikan hal itu), atau karena kalau disampaikan akan membuat malu diri sendiri, misalnya perasaan ketidakpastian, keinginan-keinginan yang dirahasiakan, dan sebagainya.

3. Diri terlena

Bagian diri yang tanpa disadari diri sendiri, tertutup terhadap dirinya tetapi tersampaikan kepada orang lain atau diketahui orang lain. Misalnya kebiasaan-kebiasaan, sifat-sifat, dan kemampuan tertentu yang tidak disadari ada pada diri sendiri, yang sering berpengaruh (positif atau negatif) dalam berhubungan dengan orang lain (misalnya sering membuat interupsi, kurang memperhatikan perasaan orang lain, senang membantah, membanggakan diri dan sebagainya).

4. Diri yang tak dikenal diri sendiri dan orang lain

Bagian diri yang tidak dikenal diri sendiri dan orang lain ini adalah berupa motif-motif, kebutuhan-kebutuhan yang tidak disadari, terlupakan atau didesak ke bawah sadar sehingga tidak dikenal lagi dan masih memengaruhi tindakan-tindakan orang dalam berhubungan dengan orang lain.

Diri seseorang dapat berbentuk ”jendela” seperti contoh berikut (lihat grafis kedua):

– Bidang 1 sempit kurang terbuka.

– Banyak hal dari dirinya yang ditutup-tutupi tidak efektif.

– Kurang mau menerima umpan balik (pandangan orang lain) tentang dirinya.

– Tidak ada kepercayaan.

– Sehingga takut kehilangan harga dirinya atau tidak enak mendengar kritikan.

Untuk dirinya perlu dikembangkan kepercayaan dengan jalan membuka diri terhadap pendapat, perasaan, dan pikiran orang lain membuka jalan bagi orang lain untuk memberikan umpan balik kepadanya sehingga bidang 1 melebar dan akan timbul perbaikan dalam hubungan dengan orang lain.

I. Pengenalan diri

Cara kita mengetahui apakah kita sudah mencapai perkembangan pribadi secara optimal atau mencapai kematangan pribadi serta sikap-sikap yang dibutuhkan untuk menjalankan peran kita adalah dengan mengenal diri kita sendiri.

Mengenal diri maksudnya adalah memperoleh pengetahuan tentang totalitas diri yang tepat dengan menyadari segi keunggulan yang dimiliki ataupun segi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita.

Terdapat beberapa indikator yang akan membantu diri kita menjadi lebih matang secara sosial sebagai berikut:

1. Bersikap positif: Mengganti sikap negatif dengan sikap positif terhadap lingkungan.

2. Menghadapi orang lain: Meningkatkan pengertian tentang orang lain dengan cara-cara yang dilakukan orang lain sehingga mereka disukai dan berpengaruh di lingkungannya.

3. Kata-kata: Mempertajam kemampuan dalam berkomunikasi secara akurat dan dramatis.

4. Pandangan diri: Memperluas minat terhadap orang lain dan hal-hal tentang diri kita sendiri.

5. Tujuan hidup: Hal ini merupakan hasil dari upaya menyadari tujuan hidup diri sendiri.

Pengembangan pribadi yang dilakukan hendaknya sejalan pula dengan penyesuaian terhadap lingkungan di mana kita berada. Hal ini bisa membangkitkan rasa puas karena selain kita mampu mengembangkan diri, lingkungan pun bisa menerima diri kita dengan lebih baik. Dalam hal ini kemampuan berkomunikasi dengan tepat harus pula diperhatikan. Keserasian antara perkembangan diri dan penyesuaian diri akan menimbulkan perasaan puas. Kepuasan yang kita rasakan, secara bertahap akan bisa memupuk rasa percaya diri yang nantinya akan berkembang menjadi pribadi yang lebih matang. (Harian KOMPAS).

(Seri ke-2 atau terakhir pada 30 Desember 2017)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*