Apoteker Harus Berperan Aktif Cegah Penyalahgunaan Obat

Kepala BNNP Jawa Tengah Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo menyampaikan materi tentang bahaya narkoba kepada lebih dari 500 apoteker serta mahasiswa peserta Seminar dan Pelatihan Pengawasan Narkotika di The Wujil Resort & Conventions Ungaran, Kabupaten Semarang, Minggu (3/12/2017) pagi. (Sumber: kompas.com/ syahrul munir).

UNGARAN, Baranews.co – Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo meminta para apoteker aktif memberikan edukasi kepada para konsumen.

Pasalnya saat ini marak penyalahgunaan obat dan diperjual belikan secara bebas di pasaran.

Hal ini dikatakan Tri Agus Heru Prasetyo disela acara Seminar dan Pelatihan Pengawasan Narkotika yang diselenggarakan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) di Ungaran, Kabupaten Semarang (3/12/2017).

“Obat yang dijual di apotek, tidak seluruhnya mengandung narkoba. Makanya itu juga menjadi kewaspadaan apoteker dalam mendistribusikan obat yang tidak dijual bebas,” kata dia.

Dalam kesempatan itu Agus mengapresiasi para apoteker yang peduli terhadap perkembangan potensi penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Indonesia. Ia menilai penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Indonesia perlu diwaspadai bersama.

Peran apoteker di Jawa Tengah sebagai garda terdepan distribusi obat selama ini dinilai cukup bagus. Itu dibuktikan dengan tidak adanya persoalan maupun kasus penyimpangan obat-obatan dari apotek.

“Memang edukasi perlu disampaikan oleh apoteker dalam melayani konsumen,” tandasnya.

Ia mengungkapkan di Jawa Tengah hingga awal Desember 2017 ini sudah berdiri 9 BNN Kabupaten/Kota (BNNK) dari total 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Menilik jumlah BNNK di Jawa Tengah yang belum seluruhnya hadir di Kabupaten/Kota, pihaknya mengaku prihatin karena tugas pengawasan tentang penyalahgunaan dan peredaran narkoba menjadi sangat luas. Padahal jumlah petugas dan sarana prasarana yang dimiliki juga terbatas.

“Dari 35 Kabupaten Kota baru ada 9 BNNK. Yang terbaru berada di Surakarta dan Magelang,” jelasnya.

Ia memaparkan, angka prevalensi peredaran narkoba di Indonesia saat ini sudah mencapai 5 juta atau sekitar 2,23 persen dari jumlah penduduk.

Adapun dari kelompok usia, paling rentan terpapar penyalahgunaan dan peredaran narkoba adalah anak usia 10 hingga 59 tahun.

Data jumlah pengguna narkoba ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah surga bagi sindikat narkoba.

“Indonesia saat ini masuk darurat narkoba. Kita harus terus memerangi peredaran serta penyalahgunaan segala bentuk narkotika,” tegasnya.

Ketua panitia seminar, Nur Aisyah menuturkan, pihaknya sengaja melibatkan apoteker serta mahasiswa calon apoteker di Jawa Tengah dan luar Jawa.

Melalui pelatihan ini pihaknya yakin ke depan apoteker tidak lagi gelisah dalam menghadapi informasi hoax tentang obat yang terindikasi mengandung narkoba.

Dari BPOM, misalnya peserta bisa menyerap informasi aspek legalitas tentang obat yang beredar di pasaran.

“Tidak hanya melayani pembeli, kami selaku apoteker sudah sepakat untuk memberikan edukasi, membatasi, dan melaporkan kecurigaan ke BNN,” kata Nur Aisyah. (Kontributor Ungaran, Syahrul Munir/kompas.com/bh).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*