Siklon Cempaka Dekati Pulau Jawa, Nelayan ‘Takut Melaut’

Siklon Cempaka diprediksi akan menyebabkan hujan lebat disertai petir di Jakarta dan banyak kota di selatan Pulau Jawa. (Sumber: BBC Indonesia/AFP).

JAKARTA, Baranews.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai dampak badai atau siklon Cempaka yang berkecepatan lebih dari 60 kilometer per jam yang berhembus dari selatan Pulau Jawa dalam dua hari ke depan.

BMKG menyebut badai itu berpotensi menyebabkan angin kencang, hujan lebat, angin puting beliung, dan gelombang laut tinggi. Walau demikian, siklon itu diprediksi tak akan sebesar siklon yang kerap muncul di daerah subtropis.

“Indonesia berada dekat ekuator, meski tumbuh siklon, tidak akan sedashyat yang terjadi Amerika Serikat atau Filipina yang kecepatan anginnya bisa lebih dari 100 kilometer per jam,” kata Ramlan, Kabid Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Selasa (28/11).

Ramlan menuturkan Siklon Cempaka turut memicu hujan lebat selama tiga hari terakhir di beberapa daerah di selatan Jawa, seperti Yogyakarta, Wonogiri, Gunungkidul, dan Pacitan.

Di Pacitan, hujan deras mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pacitan menyatakan pada 28 November sekitar 4.200 penduduk di daerah bencana itu telah mengungsi

Sementara jumlah korban hilang maupun meninggal masih terus diverifikasi. Sampai Selasa petang, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mencatat setidaknya 11 orang tewas di Pacitan akibat tanah longsor dan banjir.

Menurut data BNPB, banjir, angin puting beliung dan tanah longsor juga terjadi di 20 kabupaten dan kota lain di Jawa, di antaranya Wonogiri, Klaten, Wonosobo, Sleman dan Gunungkidul. Selain merendam pemukiman warga, bencana itu juga menghambat akses dari dan menuju daerah tersebut.

Iklim AFP
Nelayan tradisional di kawasan selatan Jawa diimbau tidak melaut selama sepekan ke depan karena potensi gelombang air laut yang tinggi.

Nelayan di Banyuwangi, Mislan, mengaku sudah tidak melaut dalam tujuh hari terakhir. Ia dan sejumlah rekannya khawatir akan dihadang cuaca buruk saat mencari ikan.

“Gelombang tinggi belum ada, tapi tidak ada yang melaut karena takut. Ikan tidak ada, cuaca juga hujan seperti ini,” kata Mislan.

BMKG memprediksi gelombang laut di perairan Jawa bagian selatan dan Samudera Hindia dapat mencapai empat atau enam meter, akibat pengaruh Siklon Cempaka.

Secara umum perairan selatan Jawa bukanlah jalur transportasi laut dan imbauan pemerintah lebih ditujukan kepada nelayan agar menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional dalam satu minggu ke depan.

Pengaruhi abu Gunung Agung

BMKG memprediksi Siklon Cempaka juga akan mengarahkan sebaran abu vulkanik Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali ke kawasan Jawa Timur.

Setelah erupsi besar akhir pekan lalu, abu vulkanik Gunung Agung mengarah ke sisi timur dan tenggara atau ke Mataram, Nusa Tenggara Barat.

“Karena ada siklon Cempaka, maka (abu) akan tersedot ke selatan barat. Artinya yang akan terkena dampak abu vulkanik adalah Bali, termasuk Jawa Timur, tepatnya Banyuwangi,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Gunung Agung REUTERS
Abu vulkanik Gunung Agung diperkirakan akan berhembus ke sisi barat Bali akibat Siklon Cempaka.

Saat berita ini ditulis, Kementerian Perhubungan menutup Bandara Ngurah Rai di Denpasar dari pukul 02.16 WITA pada 29 November hingga Kamis (30/11) pukul 07.00 WITA.

Penutupan dilakukan karena abu vulkanik mencapai jalur pesawat sehingga berpotensi mengganggu penerbangan maupun pendaratan di bandara.

Sementara itu, dua bandara terdekat dengan Bali, yakni Blimbingsari di Banyuwangi dan Lombok Praya di Mataram masih beroperasi secara normal.

Siklon tropis keempat Indonesia

Ramlan dari BMKG mengatakan, Siklon Cempaka merupakan siklon keempat yang dicatat Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis sejak 2008.

Sebelumnya, BMKG mendeteksi Siklon Durga di barat daya Bengkulu pada 2008 dan Siklon Anggrek pada tahun yang sama di perairan barat Sumatera.

Siklon tropis terakhir yang muncul di Indonesia adalah Siklon Bakung di barat daya Sumatra pada 2014.

Iklim AFP
Siklon Cempaka diprediksi akan menyebabkan hujan lebat disertai petir di Jakarta dan banyak kota di selatan Pulau Jawa.

Menurut Ramlan, negara di kawasan tropis seperti Indonesia biasanya jarang dihantam badai dan menambahkan perubahan fenomena alam berkaitan dengan variabilitas atau kecenderungan iklim yang berubah-ubah.

“Pola cuaca berubah, secara periodik variabilitasnya berbeda, ada yang curah hujannya di atas atau di bawah normal,” kata dia.

Namun Ramlan enggan menyebut fenomena alam ini disebabkan perubahan iklim akibat pemanasan global karena variabilitas iklim juga dapat membuat pergeseran waktu datangnya musim atau tingkat curah hujan di suatu daerah.

“Sekarang yang terjadi variabilitas. Musim hujan terjadi September, lalu bergeser ke November dan kembali lagi ke September. Kalau perubahan iklim, periode waktu itu tidak akan kembali ke posisi asal,” tuturnya. BBC Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*