Taktik China di Balik Kesediaan Berdialog soal Laut China Selatan

Para pemimpin ASEAN berfoto bersama dalam KTT Ke-31 ASEAN di Manila, Filipina, Senin (13/11). (Sumber: KOMPAS/ISTANA KEPRESIDENAN R).
  • China Diduga Ingin Ulur Waktu demi Konsolidasi Kekuatan Maritim

Oleh: PASCAL S BIN SAJU

MANILA, Baranews.co – Kesepakatan China untuk memulai diskusi atau perundingan dengan Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) tentang tata kode berperilaku (COC) di perairan sengketa Laut China Selatan merupakan upaya menstabilkan kawasan itu.

”Harapan terbesar China ialah terciptanya perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan,” kata Perdana Menteri China Li Keqiang, seperti tertuang dalam transkrip pidatonya yang dirilis Kementerian Luar Negeri China, Selasa (14/11).

Wartawan Kompas, Benny D Koestanto, melaporkan dari Manila, Filipina, para menteri luar negeri ASEAN dan China pada Agustus lalu telah mengadopsi sebuah kerangka perundingan COC di Laut China Selatan, sebuah langkah yang mereka sebut sebagai kemajuan.

Sekalipun sejak Agustus lalu sejumlah menteri luar negeri dan diplomat senior ASEAN mengatakan perundingan COC akan dimulai pada November, hingga sejauh ini sebenarnya belum juga terwujud.

Menurut Li, kesepakatan yang diberikan China untuk memulai perundingan tentang COC dengan ASEAN merupakan langkah maju. China ingin menyelesaikan konflik yang melibatkan empat negara anggota ASEAN secara damai.

”Kami berharap, perundingan-perundingan tentang COC akan memperkuat saling pengertian dan kepercayaan. Kami akan berusaha menaati kesepakatan, mencapai konsensus demi implementasi awal COC,” tutur Li.

Li tidak memberikan kerangka waktu kapan sebenarnya dialog, diskusi, atau perundingan COC itu akan dimulai. Namun, dia berharap, langkah ini akan menjadi ”penstabil” kawasan ini.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Filipina Robespierre Bolivar menyebutkan, sekalipun rencana perundingan telah disepakati dalam KTT pada Senin (13/11), tidak ada kesepakatan perihal waktu khusus atau target khusus waktu dicapainya COC itu.

Ulur waktu

Pernyataan tentang kesepakatan memulai negosiasi COC itu dikeluarkan setelah pertemuan 10 negara anggota ASEAN dan China. Kesepakatan memulai perundingan itu memang di luar perkiraan.

Namun, para pengamat mengatakan, kesepakatan untuk merundingkan detail COC itu bukan merupakan inti negosiasi, tetapi merupakan langkah awal. Artinya, kesepakatan akhir COC tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.

China diduga mengatur taktik dengan  mengulur-ulur waktu agar Beijing memiliki waktu untuk mengonsolidasikan kekuatan maritimnya di Laut China Selatan.

Banyak pihak meragukan perundingan itu bisa berjalan mulus. China diduga mengatur taktik dengan  mengulur-ulur waktu agar Beijing memiliki waktu untuk mengonsolidasikan kekuatan maritimnya di Laut China Selatan.

REUTERS

Kapal China, Liaoning, didampingi sejumlah kapal lain berpatroli di Laut China Selatan pada Desember 2016.

Meski saat ini kondisi di Laut China Selatan relatif stabil, beberapa negara anggota ASEAN mengatakan, hal ini seharusnya tidak dianggap sebagai keadaan normal.

Kerangka kerja tersebut berupaya memajukan Deklarasi Tata Berperilaku (DOC) 2002 di Laut China Selatan, yang sebagian besar telah diabaikan negara-negara yang terlibat dalam klaim, khususnya China. ”Negara Tirai Bambu” telah membangun tujuh pulau buatan di perairan yang disengketakan, tiga di antaranya dilengkapi dengan landasan pacu, rudal, dan radar permukaan-ke-udara.

Padahal, China juga sangat menyadari bahwa Malaysia, Brunei, Vietnam, Filipina (empat negara ASEAN), dan Taiwan juga mengklaim sebagian atau seluruh Laut China Selatan yang kaya akan sumber daya itu. (AFP/AP/REUTERS)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*