Perilaku Menggeser Peringkat Penyakit di Indonesia

Ilustrasi (Sumber: health-line.com)

Oleh: Syaiful W HARAHAP

Prediksi penyakit yang diderita penduduk di Indonesia terus bergeser. Di awal tahun 1990-an penyakit menular penyebab penyakit yang banyak diderita penduduk, tapi sekarang dan pada masa yang akan datang penyakit yang banyak diderita penduduk justru lebih banyak penyakit yang tidak menular.

Penyakit-penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus, serangan jantung, stroke, dll. terjadi karena pola hidup. Memang, ada juga kontribusi genetika tapi persentasenya hanya sekitar 20 persen. Celakanya, seperti dikatakan oleh Pungkas Bahjuri Ali, STP, MS, Ph.D, Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat BAPPENAS, perilaku justru masalah besar karena sangat sulit berubah.

Misalnya, ketika belum ada jaminan kesehatan, seperti surat miskin dan BPJS Kesehatan, sekitar 7 persen penduduk mengatakan tidak pergi berobat kalau sakit karena tidak punya uang. Tapi, setelah ada jaminan kesehatan angkanya tidak jauh berubah, “Ya, 4 persen tetap tidak berobat ke fasilitas kesehatan,” kata Pungkas pada acara pemberian materi bagi 20 blogger peserta “Danone Blogger Academy” bersama Kompasiana di Kantor Danone Indonesia, Gedung Cyber 2, Kuningan, Jakarta Selatan (3-4 November 2017).

Yang juga banyak terjadi tidak sedikit warga yang tidak pergi berobat karena takut ketahuan penyakitnya. Ini juga merupakan bentuk perilaku yang tidak sehat. Mereka mengobat diri sendiri dengan membeli obat bebas atau mencari pengobatan tradisional dan alternatif.

Dari tabel dapat dilihat perubahan penyakit yang diderita penduduk dari tahun 2010 ke 2015 dan prediksi tahu 2019. Kalau di tahun 2010 tuberculosis (TB) ada di peringkat ke-2, tapi pada tahun 2015 melorot ke peringkat ke-6. Bahkan, diperkirakan pada tahun 2019 TB ada di peringkat ke-7. Dari 10 penyakit yang paling banyak diderita penduduk hanya TB yang merupakan penyakit menular, selebihnya penyakit tidak menular.

Penyakit-penyakit yang tidak menular erat kaitannya dengan pola hidup dan perilaku sehari-hari. Salah satu anjuran untuk menjaga kesehatan adalah jalan kaki minimal 30 menit atau 10.000 langkah setiap hari. Celakanya, penduduk Indonesia disebut sebagai orang yang paling malas jalan kaki sedunia.

(Baca: Jalan Kaki? Ternyata Orang Indonesia Paling Malas Sedunia)

Begitu juga dengan pola makan yang kurang memakan makanan yang berserat dan banyak yang memilih fast food bahkan junk food. Minuman pun banyak juga yang memilih soft drink yang sebagian berisi zat kimia dan pemanis buatan.

Maka, tidaklah mengerankan kalau kemudian penyakit terkait jantung akan jadi penyakit peringkat pertama dan kedua. Yang paling merisaukan adalah kematian karena kecelakaan lalu lintas yang ada di peringkat ke-3 di tahun 2010 naik ke peringkat ke-2 thaun 2015 dan diperkirakan ada di peringkat ke-3 pada tahun 2019.

Kanker yang ada di peringkat ke-7 tahun 2010 naik ke peringkat ke-4 tahun 2015 dan diperkirakan tetap pada peringkat ke-4 tahun 2019. Salah satu jenis kanker yang jadi penyebab kematian, terutama bagi perempuan, adalah kanker serviks. Kanker ini tidak sepenuhnya karena ulah perempuan karena bisa ditularkan oleh laki-laki melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Kalau dipukul rata, maka pada tahun 2015 kematian terjadi karena kecelakaan (12,6 persen), penyakit menular (30,3 persen) dan penyakit tidak menular (57,1 persen). Diperkirakan pada tahun 2019 penyebab kematian terjadi karena kecelakaan (12,3 persen), penyakit menular (28,3 persen) dan penyakit tidak menular (59,3 persen).

Terkait dengan penyakit-penyakit tsb. terutama penyakit tidak menular diperlukan penyebarluasan informasi yang luas dan mengembalikan fungsi pusat-pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) sebagai ujung tombak mendidik masyarakat agar berpierilaku yang bisa menghindarkan penyakit melalui promosi dan pencegehan penyakit. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*