PLAY OFF PIALA DUNIA 2018: “Azzurri” Hindari Kiamat

Striker tim nasional Italia, Ciro Immobile, menjalani sesi latihan di Stadion San Siro, Milan, Italia, Minggu (12/11). Di stadion itu, Italia akan menjalani laga kedua play off Piala Dunia 2018 melawan Swedia pada Rabu dini hari WIB. Italia kalah 0-1 pada laga pertama. (Sumber: KOMPAS/REUTERS/MAX ROSSI).
  • Butuh Dua Gol Hadapi Swedia, Ventura Pertimbangkan Tiga Penyerang

MILAN, Baranews.co – Tim nasional sepak bola Italia akan tampil lebih garang dan modern guna menghindari “kiamat” saat menghadapi Swedia di laga kedua play off Piala Dunia Rusia 2014, Selasa (14/11) dini hari WIB di San Siro, Milan. Lautan “Tricolore” akan menjadi energi ekstra “Azzurri” di duel ini.

Azzurri butuh menang dengan margin dua gol pada laga ini agar bisa meraih tiket ke babak utama Piala Dunia Rusia. Pada duel sebelumnya di Solna, mereka takluk 0-1 dari tuan rumah Swedia.

Kekalahan tipis itu menampar Azzurri. Publik Italia pun murka. “Italia terlihat seperti tim takut yang hanya mengincar hasil 0-0. Di Eropa, itu tidak cukup. Anda harus tampil 100 persen, menjadi pemain sejati,” ujar Andrea Pirlo, mantan gelandang Italia.

Pemain berjuluk “Il Maestro” yang baru saja mengumumkan pensiun dari sepak bola itu gemas menyaksikan permainan Azzurri di Solna. Sebagian lainnya nyaris kehilangan kata-kata sebagai ekspresi kemarahan.

“Ini bukan saatnya berkata-kata. Biarkan mereka (timnas Italia) menjawabnya di medan laga,” ujar Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) Carlo Tavecchio yang sulit membayangkan Italia absen di Piala Dunia.

Baginya, kegagalan bermain di Rusia tidak ubahnya kiamat. Selama hampir enam dekade terakhir, Italia selalu rutin tampil di Piala Dunia, tidak peduli seburuk apa pun generasi pemainnya.

Kegagalan itu terakhir kali terjadi di Piala Dunia 1958, yang kebetulan digelar di Swedia. Saat itu, Azzurri belum pulih dari bencana yaitu tragedi jatuhnya pesawat Superga di 1949. Sepuluh pemain bintang dan masa depan Italia tewas dalam musibah itu.

Seperti Brasil, bagi masyarakat Italia, Piala Dunia adalah fiesta alias pesta rakyat. Tak ayal, puluhan ribu suporter Azzurri akan mati-matian mendukung timnya meskipun mereka tidak menyukai Gian Piero Ventura, Pelatih Italia yang dianggap miskin taktik dan buta akan talenta muda.

Menurut Football-Italia, sebanyak 74.000 fans Italia akan memenuhi Stadion San Siro saat menjamu Swedia, dan membentuk Tricolore-bendera Italia-raksasa untuk menopang semangat. Mereka akan memperlihatkan kebesaran Italia, tim yang koleksi trofi Piala Dunia-nya hanya kalah dari Brasil.

Kebetulan, San Siro punya daya magis untuk Azzurri. Di stadion itu, mereka tidak pernah kalah. Dari 26 penampilan di stadion itu, mereka 22 kali menang dan empat imbang. Rekor gol mereka pun sangat positif yaitu 76 gol dan 22 kebobolan.

“Para suporter di San Siro akan menjadi pemain ekstra Azzurri di laga ini,” tulis Football-Italia.

Namun, agaknya, rekor positif masa silam itu tidak cukup. Italia harus mengatasi salah satu masalah terbesar mereka saat ini, yaitu tumpulnya serangan. Mereka hanya mampu mencetak tiga gol dalam lima laga terakhir.

Taktik 4-2-4 yang dibawa Ventura gagal bekerja di Azzurri. Tim ini digilas Spanyol 0-3 meskipun tampil dengan empat penyerang sekaligus. Ventura lantas kembali ke taktik warisan Antonio Conte, Pelatih Italia terdahulu, saat bertamu ke markas Swedia.

Namun, taktik 3-5-2 yang melesatkan Italia di Piala Eropa Perancis 2016 itu juga gagal. Tak ayal, mantan Pelatih Torino itu kebingungan menentukan taktik, apalagi mereka tidak bisa dibela Marco Verratti yang terkena skorsing kartu.

Publik Italia, termasuk Pirlo, menyarankan Ventura keluar dari pakem lamanya dan menganut pola 4-3-3 yang dipopulerkan AS Roma dan Napoli di Italia. Sistem itu bisa memaksimalkan pemain sayap seperti Lorenzo Insigne.

Laga terakhir

Ventura mendengar masukan itu. Dia kemungkinan menerapkan pola 3-4-3 dengan trisula Insigne, Ciro Immobile, dan Antonio Candreva. Opsi lainnya, ia kembali ke pakem lama, 4-2-4, guna mengejar defisit gol.

“Kami akan mengubah sesuatu, meskipun itu tidak besar mengingat persiapannya hanya 48 jam. Mudah-mudahan itu berdampak positif,” ujar Ventura.

Ini bisa menjadi laga terakhir Ventura bersama Italia. Sejumlah media di Italia mengabarkan, ia bakal dicopot FIGC terlepas apa pun hasil di San Siro. Dua nama kandidat pengganti pun muncul, yaitu Carlo Ancelotti (mantan pelatih Bayern Muenchen) dan Gigi Di Biagio (pelatih timnas U-21 Italia).

Ancelotti sebelumnya pernah berkata, tidak akan melatih tim mana pun pada musim ini. Namun, panggilan putus asa di negaranya bisa mengubah keputusannya itu. Adapun Di Biagio mulai disukai publik Italia karena taktik 4-3-3 menyerang yang diterapkannya di tim Azzurri muda.

Sementara itu, kapten Italia, Gianluigi Buffon menjanjikan penampilan berbeda dari timnya di San Siro. Pasukan Azzurri bakal tampil lebih ngotot. “Kami punya peluang untuk membalikkan situasi. Namun, di atas segalanya, kami tidak boleh terbiasa dengan istilah medioker. Kami harus meningkatkan level,” ujarnya.

Duel ini bisa menjadi penampilan terakhir Buffon bersama Azzurri. Ia sebelumnya menyatakan akan gantung sepatu seusai Piala Dunia Rusia.

Di sisi lain, Italia masih wajib mewaspadai permainan fisik dan keras yang diperagakan Swedia di Solna. Taktik itu akan dibawa ke San Siro. Pemain Italia wajib menghindari provokasi pemain Swedia. Bek Italia, Leonardo Bonucci, telah bersiap adu fisik dan mental. Ia akan mengenakan pelindung kepala setelah terluka akibat disikut pemain lawan di Solna. “Italia akan menjadi tim berbeda di San Siro. Mereka akan lebih kuat,” ujar Albin Ekdal, pemain Swedia. (AFP/Reuters/JON)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*