Pancasila Jaga Arah Bangsa, UKP-PIP Meringkas Nilai Lima Sila dalam 25 Butir

Presiden Komunitas Sant’Egidio Prof Marco Impagliazzo, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, dan Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif (dari kiri ke kanan) seusai penandatanganan pembaruan nota kesepahaman antara Komunitas Sant’Egidio dan PP Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (10/11). Kedua lembaga bersepakat untuk terus bekerja sama dalam upaya bina damai antarbudaya dan antaragama. (Sumber: KOMPAS/LASTI KURNIA).

JAKARTA, Baranews.c – Pancasila hadir untuk menjaga arah perjalanan bangsa dan merawat keragaman di Indonesia. Meski banyak tantangan mengancam sendi-sendi bangsa, Pancasila tetap jadi menara suar yang memastikan Indonesia tak terpuruk dalam konflik besar yang berkepanjangan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir di Jakarta, Jumat (10/11), mengatakan, Pancasila adalah ideologi bangsa yang lahir dari konsensus bersama. Pancasila hadir untuk menjaga kedamaian dan merawat keragaman di Indonesia. Kehadiran Pancasila dan pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari membantu konflik dan tantangan di negeri ini terkelola dan tidak keluar batas.

Oleh sebab itu, meskipun banyak tantangan yang dihadapi bangsa sejak awal kemerdekaan sampai detik ini, tidak ada konflik yang berlarut-larut hingga membuat bangsa terpuruk.

“Pancasila membawa Indonesia sebagai negara demokrasi yang mampu memoderasi keberagaman tanpa konflik berkepanjangan sehingga keharmonisan bangsa relatif terjaga,” kata Haedar pada acara Seminar Pancasila dan Islam Berkemajuan untuk Dunia yang diadakan PP Muhammadiyah, kemarin.

Ia menambahkan, sesuai dengan yang diamanatkan Presiden Soekarno, nilai-nilai Pancasila juga akan terus relevan sepanjang masa dan tidak hanya terbatas pada tataran nasional, tetapi juga dalam konteks global. Hal itu, misalnya, tampak dari sila kedua mengenai kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila tersebut menunjukkan konsep internasionalisme dan perikemanusiaan demi kemaslahatan bersama masyarakat global.

Butir

Sebanyak 35 butir nilai Pancasila tengah diringkas menjadi 25 butir. Setiap sila akan mengandung lima nilai pokok dari setiap sila. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar minimum yang harus dipenuhi dan akan dijadikan indikator untuk mengukur kehidupan bernegara yang memenuhi nilai-nilai Pancasila. Hal itu sekaligus untuk mengikis diskriminasi akibat perbedaan aliran ataupun agama.

Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif mengatakan, proses peringkasan butir-butir Pancasila itu dilakukan dengan mengkaji kembali kandungan inti dari setiap sila. Pengkajian itu di antaranya mengacu pada nilai-nilai Pancasila yang pernah dibicarakan Soekarno dan disempurnakan dalam Piagam Jakarta. “Nantinya setiap sila hanya mengandung lima nilai pokok,” kata Yudi dalam diskusi yang terpisah.

Dalam waktu dekat, kata Yudi menambahkan, susunan butir-butir Pancasila itu akan dibagikan kepada sejumlah ahli akademik, termasuk para ahli yang pernah tergabung dalam Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7). Mereka diharapkan memberikan umpan balik kepada UKP-PIP sehingga peringkasan butir-butir Pancasila diterima masyarakat secara luas.

Pelibatan para ahli yang pernah tergabung dalam BP7, menurut Yudi, bukan berarti ingin menghidupkan kembali pengaruh Orde Baru.

“Semangat kami tak ingin segala sesuatu yang di masa lalu itu salah. Namun, bagaimana nilai-nilai Pancasila ini bisa lebih ringkas, tetapi mengandung nilai pokok yang mengandung kaidah publik sehingga lebih mudah dipelajari anak-anak dan generasi muda,” ujarnya.

Proses peringkasan butir-butir Pancasila tersebut ditargetkan selesai pada bulan Desember tahun ini.

Sementara itu, PP Muhammadiyah dan komunitas umat Katolik dari Sant’Egidio menyatakan mendukung penuh pemerintah untuk membumikan Pancasila. (AGE/MDN)/Harian KONPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*