HARI PAHLAWAN: Mencari Makna Pahlawan pada Zamannya

Ilustrasi (Sumber: Lensa Remaja)

Pemerintah mengangkat empat tokoh sebagai pahlawan nasional. Di tengah penghormatan kita terhadap jasa para pahlawan bangsa, pemaknaan baru nilai kepahlawanan perlu dilakukan agar senantiasa sesuai dengan tantangan zaman.

Sehari menjelang peringatan Hari Pahlawan 2017, Kamis (9/11), Presiden Joko Widodo menyerahkan anugerah gelar Pahlawan Nasional kepada ahli waris empat tokoh di Istana Negara, Jakarta. Dengan penambahan ini, Indonesia kini memiliki 173 pahlawan nasional.

Tiga dari empat Pahlawan Nasional itu berasal dari luar Jawa, yakni Laksamana Malahayati (Keumalahayati) dari Aceh, Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepulauan Riau, dan TGKH M Zainuddin Abdul Madjid dari Nusa Tenggara Barat. Satu lainnya berasal dari Jawa, tepatnya Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni Lafran Pane.

Banyak pertimbangan yang membuat mereka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2017. Menurut Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, seorang tokoh mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional karena semasa hidupnya melakukan tindak kepahlawanan. Tokoh tersebut juga dianggap berjasa luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

Laksamana Malahayati, misalnya, merupakan tokoh perempuan yang memimpin armada laut untuk berperang melawan Belanda pada 1559. Ia adalah perempuan laksamana pertama dari Aceh yang membentuk pasukan Inong Balee yang beranggotakan para janda prajurit Aceh. Di bawah komando Laksamana Malahayati itulah Inong Balee menewaskan Cornelis de Houtman, penjelajah Belanda yang menemukan jalur pelayaran dari Eropa ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah.

Hampir sama dengan Malahayati, Sultan Mahmud Riayat Syah juga berjasa besar melawan Belanda. Ia berhasil menenggelamkan kapal Belanda, Malaka’s Walvaren, dan memenangi peperangan pada 1784.

Adapun TGKH M Zainuddin Abdul Madjid merupakan seorang ulama pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat. Latar pendidikan agama yang digelutinya hingga ke Mekkah tidak melunturkan rasa nasionalisme. Ia turut berjuang mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Sementara Lafran Pane merupakan tokoh pergerakan pemuda Indonesia. Ia memprakarsai pembentukan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dua tahun setelah kemerdekaan atau tepatnya 5 Februari 1947. Meski merupakan pergerakan mahasiswa Islam, Lafran bersama HMI menentang keras gagasan Negara Islam Maridjan Kartosuwiryo. Pada awal kemerdekaan, ia berupaya keras mempertahankan ideologi Pancasila dari kelompok-kelompok yang ingin mengubahnya.

Sebenarnya, pahlawan tidak terbatas pada mereka yang berjuang memerdekakan bangsa di masa lalu. Mereka yang berjuang mengatasi persoalan bangsa juga bisa dikategorikan pahlawan. Nilai kepahlawanan yang mendasari lahirnya pahlawan baru itu penting untuk terus digelorakan guna membawa bangsa ke arah yang lebih baik.

Konteks kekinian

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Arie Sujito, mengatakan, jika menyebut pahlawan, banyak yang berpandangan pahlawan adalah mereka yang berjuang memerdekakan bangsa di masa lalu.

Padahal tidak sebatas itu. Di konteks kekinian, juga lahir banyak pahlawan baru yang lebih banyak bekerja dalam senyap, tanpa diketahui banyak orang. Mereka ini adalah yang berjuang mengatasi persoalan-persoalan bangsa dalam berbagai bidang, sekalipun tidak jarang perjuangan itu hanya dalam ruang lingkup yang terbatas.

Dia mencontohkan, ketika satu lingkungan terancam kerusakan ekologis, muncul tokoh setempat yang berusaha untuk merehabilitasi lingkungan yang rusak. Begitu pula saat korupsi semakin masif, muncul orang-orang yang berjuang menanamkan nilai-nilai antikorupsi dalam masyarakat.

Kisah para pahlawan baru yang bekerja didasari nilai-nilai kemanusiaan ini, menurut Arie, harus intens diangkat ke publik. Kisah mereka bisa menginspirasi masyarakat di daerah lainnya untuk melakukan hal serupa. Jika hal itu terlaksana, niscaya persoalan-persoalan bangsa, seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, dan korupsi, bisa teratasi.

Menurut sejarawan Anhar Gonggong, anak-anak muda dan orang-orang sekarang ini belum bisa disebut pahlawan nasional meski telah berkontribusi besar bagi masyarakat dan negara.

Menurut dia, sekarang ini sulit mencari sosok pahlawan nasional yang memiliki kejujuran, keberanian, dan keikhlasan. Ia mencontohkan, seorang Soekarno dan Hatta adalah seorang insinyur dan doktorandus ekonomi yang hidup di tengah kolonialis. “Sebagai intelektual, mereka bisa saja bekerja sama dengan kolonialis. Namun, justru mereka tidak melakukan itu, tetapi justru melawan kolonialis dengan risiko keluar masuk penjara. Sekarang ini, mana ada sosok yang mau seperti itu?” ujar Anhar lagi.

Di luar perdebatan itu, memunculkan makna dan nilai kepahlawanan yang sesuai dengan tantangan zaman, agar bisa ditangkap oleh generasi muda, menjadi pekerjaan rumah bersama bangsa Indonesia. Pemaknaan itu dibutuhkan untuk menjaga imajinasi kebangsaan generasi muda yang akan menentukan akan menjadi seperti apa Indonesia di masa depan. (NTA/AGE/APA/GAL/HAR)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*