Arsitektur Dan Tata Ruang Bisa Pengaruhi Otak Manusia

Pemandian Caracalla dan reruntuhan kuno lainnya menginspirasi karya arsitek Louis Kahn. (Sumber: australiaplus.com/Getty Images: Mauricio Abreu).

“Ada sesuatu tentang langit-langit setinggi 150 kaki yang membuat seorang pria menjadi pria yang berbeda,” kata arsitek abad ke-20 Louis Kahn, saat ia mengunjungi Pemandian Romawi Caracalla.

Baranews.co – Bagi Kahn, arsitektur bisa bersifat transformatif.

Secara naluriah ia mengerti apa yang coba disampaikan psikologi kognitif dan ilmu saraf sekarang ini: lingkungan yang dibangun memainkan peran penting dalam pengalaman, kenangan, dan identitas kita sendiri.

Studi telah menunjukkan bahwa kenangan episodik jangka panjang diproses di bagian otak yang sama yang digunakan untuk navigasi spasial dan pengenalan tempat.

Dan menurut kritikus arsitektur Sarah Williams Goldhagen, hal ini membentuk indra intuisi.

“Ternyata kita tidak bisa mengingat kenangan jangka panjang ini tanpa mengingat sesuatu tentang tempat kejadiannya.”

Implikasinya, menurut Goldhagen, sangat penting: jika ingatan otobiografis membentuk identitas kita, maka “lingkungan yang kita tempati membentuk siapa kita”.

Teori di balik ini dikenal sebagai “kognisi terkandung”. Sederhananya, kita hidup dalam tubuh dan tubuh-tubuh itu menghuni ruang-ruang, yang berarti pengalaman kita tentang lingkungan yang dibangun ditentukan oleh fakta perwujudan kita.

“Apa yang mendalam tentang kognisi terkandung adalah ini bukan hanya tentang kategori pemikiran – ini benar-benar menggambarkan semua cara di mana kita berpikir,” jelas Goldhagen.

Ruang dan tubuh yang kita huni menentukan cara kita berpikir, kata Goldhagen.
Ruang dan tubuh yang kita huni menentukan cara kita berpikir, kata Goldhagen. (Unsplash: Stephen Di Donato).

Mengapa semua orang butuh arsitektur yang bagus

Studi telah berulang kali menunjukkan bahwa tidak ada yang namanya pengalaman netral dari lingkungan yang dibangun -malahan, desain bisa memiliki pengaruh penting terhadap kesejahteraan seseorang.

Satu studi yang dikutip oleh Goldhagen menemukan bahwa seorang pasien yang baru sembuh dari operasi di ruang rumah sakit dengan pemandangan ke luar ruang sembuh 30 persen lebih cepat dari pasien yang sama dengan pemandangan dinding bata.

Studi lainnya menemukan bahwa desain sebuah sekolah bisa berkontribusi hingga 25 persen dari tingkat pembelajaran siswa.

Ini mungkin tampaknya para arsitek, secara intuitif, akan memahami pentingnya unsur-unsur seperti cahaya alami, langit-langit tinggi, permukaan yang berbeda.

Jadi mengapa tempat yang kita tinggali sekarang tidak menggabungkan lebih banyak fitur ini?

Goldhagen berpendapat itu sebagian karena ideologi yang memisahkan kebutuhan ekonomi dari kebutuhan masyarakat. Bagian lain dari masalah ini, katanya, adalah disiplin arsitektur itu sendiri.

“Arsitektur telah berkembang menjadi praktik elit yang hanya bisa dibeli oleh klien elit dalam setting yang sangat langka,” sebutnya.

“Itu hanya paradigma yang salah arah tentang bagaimana kita perlu memahami desain.”

“Semua orang butuh lanskap, tata kota, dan bangunan apapun yang lebih baik -tentu saja bagus -di mana saja.”

Cahaya alami dan pemandangan dunia luar bisa benar-benar memengaruhi apa yang seseorang rasakan dalam sebuah ruang.
Cahaya alami dan pemandangan dunia luar bisa benar-benar memengaruhi apa yang seseorang rasakan dalam sebuah ruang. (Unsplash: Ben Blennerhassett).

Melihat lingkungan yang dibangun sebagai entitas berlanjut

Goldhagen mengatakan, arsitek perlu menjelaskan dengan lebih baik mengapa desain itu penting.

“Jika orang mulai mengerti bahwa lingkungan di mana mereka mengirim anak berusia enam tahun untuk sekolah akan memiliki dampak besar pada seberapa baik ia dididik, mereka akan mulai menuntut lingkungan yang lebih baik,” jelasnya.

Dan menurutnya, desain yang bagus juga masuk akal secara ekonomi.

Ia percaya bahwa masyarakat juga perlu mengubah bagaimana mereka melihat lingkungan yang dibangun -sama seperti revolusi lingkungan pada tahun 60an dan 70an menghasilkan penataan konseptual yang penting mengenai alam.

“Kita terbiasa memikirkan alam hanya sebagai alam, seperti sungai dan pohon dan hutan -sebagai elemen terpilah,” ujarnya.

“Dan karena polusi serta berbagai hal lainnya, kita mulai menyadari bahwa itu semua kesatuan, satu hal yang saling terkait yang disebut lingkungan.”

Plafon dan pencahayaan yang tinggi menjadi inti dari rancangan arsitek Louis Kahn.
Plafon dan pencahayaan yang tinggi menjadi inti dari rancangan arsitek Louis Kahn. (Getty Images: View Pictures/UIG).

Alih-alih memikirkan bangunan, plakat, lapangan umum, jalan dan infrastruktur sebagai elemen terpisah, Goldhagen juga ingin agar kita melihat mereka sebagai kesatuan rangkaian.

“Lingkungan yang dibangun adalah satu entitas terpadu yang berkesinambungan, saling terkait,” sebutnya.

“Apa yang kita lihat di luar gedung melalui jendela sama pentingnya dengan apa yang kita lihat di dalam gedung – dan efeknya terhadap kita sama besarnya seperti alam.” (Mira Adler-Gillies/australiaplus.com/swh).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*