‘Saya Lega Bahwa Suami Saya Akhirnya Selingkuh’

Sumber: BBC Indonesia

Ketika Stacey mengaku bahwa dia tidak pernah ingin berhubungan seks dengan siapapun, termasuk suaminya, sejumlah pembaca BBC mengirimkan email berisi pengakuan bahwa mereka juga aseksual. Banyak dari mereka merasa terisolasi di antara masyarakat yang bisa menyalurkan hasrat seksual. Ini beberapa kisah mereka:

presentational grey line

Sarah, Cambridge

Sebagai seorang aseksual, saya merasa tidak relevan pada budaya yang segala sesuatunya terkait dengan cara memikat atau menyenangkan pasangan, dalam wujud mode, rekreasi, dan hiburan.

Saya tidak keberatan memiliki pasangan, namun merasa pilihannya sangat terbatas. Sebab, siapa yang mau menghabiskan waktu dan upaya ke dalam suatu hubungan yang tidak memungkinkan hubungan seksual?

Di satu sisi, hidup di dunia sebagai sosok yang tak kasat mata merupakan keistimewaan, saya bisa lebih obyektif melihat hubungan manusia. Namun, di sisi lain, jika terlalu banyak merenung, saya mulai melihat bagaimana diri saya adalah surplus yang tidak diperlukan.

Mungkin suatu hari saya akan menerima kenyataan ini, tapi saya belum sampai ke situ.

presentational grey line

Devi, Kent

Saya baru mengetahui diri saya aseksual beberapa bulan lalu ketika seorang psikolog mengatakannya. Sebelumnya saya tidak tahu sebutan apa yang pas untuk diri saya.

Saya aktif secara seksual ketika berusia 17 tahun pada masa kuliah. Saat itu saya punya pacar dan saya mencintainya. Tapi, saya tidak pernah tertarik secara seksual padanya. Pertama saya pikir itu mungkin karena saya kurang pengalaman, namun tiada yang berubah seiring waktu.

Setelah kami putus, saya mulai lebih banyak mempertanyakan seksualitas saya, bahkan mengira saya lesbian dan apakah itu yang membuat saya begini.

Saya memperhatikan tubuh saya bisa terangsang, tapi pikiran saya tidak nyambung, tidak merasa apa-apa.

Man lying on a bed

Bagi saya, seks tidak menyakitkan dan tidak menjijikkan. Hanya saja, saya tidak mendapat kepuasan dari seks. Saya menemukan grup Asexual ACES di laman Facebook dan saya senang menemukan orang yang merasakan hal serupa atau mirip.

Bagaimanapun saya khawatir saya tidak akan pernah memiliki pasangan romantis. Saya terbuka pada hubungan seks untuk menyenangkan orang lain, namun kenyataan bahwa saya tidak menikmatinya sepertinya menjadi rintangan besar buat orang tersebut. Saya sangat merasa akan sendirian seumur hidup.

presentational grey line

Matt

Saya pria berusia 35 tahun dan baru menyadari bahwa diri saya aseksual.

Saya selalu bisa tertarik pada orang, menjalin hubungan romantis dengan cepat, dan selalu bisa berkencan. Saya menikmati berciuman dan bersentuhan secara fisik, namun ketika tiba pada hubungan seks, tubuh saya mati total.

Saya mengira ada hubungannya dengan lemah syahwat dan saya terus mencoba, walau menimbulkan rasa malu yang besar dan menghancurkan kepercayaan diri selama bertahun-tahun.

Saya sangat menginginkan hidup berpasangan, tapi sepenuhnya menyadari bahwa saya akan hidup sendirian dan tanpa anak.

Baru-baru ini saya membaca banyak artikel mengenai aseksualitas dan saya tidak bisa menggambarkan betapa leganya saya bahwa sekarang saya bisa menemukan apa yang berbeda dalam diri saya. Saya bahkan mulai memimpikan menemukan seseorang yang bisa memahami.

presentational grey line

Gill, London

Saya berusia 60-an tahun dan telah dua kali gagal membina rumah tangga. Meski demikian, saya tidak pernah memulai atau menikmati hubungan seks dengan orang lain.

Saat remaja, mudah untuk menolak hubungan seks dengan alasan ingin menjadi ‘perempuan baik-baik’. Namun, ketika ada tekanan keluarga untuk menikah pada usia 21 tahun, tiba-tiba saya tidak lagi punya alasan.

Saya mencintai suami saya dan ingin memuaskannya, tapi saya tidak punya hasrat seksual dan membenci pengalaman hubungan fisik.

Saya tidak pernah berinisiatif memulai hubungan seks dengannya dan lega ketika dia akhirnya berselingkuh karena saya tidak lagi tertekan untuk memuaskan kebutuhannya.

Saya merasa luar biasa bersalah karena bersikap ‘dingin’ dan bersedia dipersalahkan atas kandasnya pernikahan pertama. Saya tidak bisa memahami bagaimana saya bisa mencintai seseorang begitu dalam, namun tidak suka disentuh orang tersebut…

Saya menikahi pria yang lebih tua 10 tahun lalu karena dia membuat saya percaya bahwa ia sudah tidak lagi punya hasrat seksual. Sayangnya yang terjadi tidak demikian: dia menyikapi keengganan saya untuk berhubungan seks dengan sangat buruk.

Dia memaksa saya melakukan aneka perbuatan seksual dan saya membenci dia karena itu. Kami mengalami perceraian yang sulit. Berbekal pengalaman itu, saya seharusnya tidak menikah lagi.

presentational grey line
presentational grey line

Wimpie Pangkahila, Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia

Saya tidak tahu diagnosa kasus-kasus di Inggris seperti apa. Namun, orang yang tidak punya hasrat seksual biasanya karena gangguan hormon. Kalau hormon seseorang rendah atau tidak berfungsi, jadi aseksual. Contohnya, seperti perempuan yang menopause. Kalau tidak mendapat pengobatan, gairahnya hilang.

Jika hormon seseorang rendah atau tidak berfungsi, hasrat seksualnya bisa dikembalikan lagi. Tapi, itu tergantung seberapa lama orang itu mengalami keluhan demikian. Semakin lama dibiarkan, semakin jelek kondisinya.

Seseorang bisa juga terlahir tidak punya hasrat seksual. Itu karena gangguan pada pusat seks di otaknya saat dia dikandung ibunya.

Di Indonesia, yang datang berobat ke saya, tidak banyak. Jumlahnya ratusan selama saya puluhan tahun berpraktik. Biasanya lebih mudah ditangani jika pasien belum dewasa, seperti usia 12 tahun, dibandingkan dengan pasien dewasa.

Kalau pasien sudah dewasa, bisa dibantu dengan pengobatan. Tapi, pengobatannya seumur hidup.

————————————————-

Jon, Runcorn:

Saya seorang pria berusia 52 tahun yang dari dulu merasa jijik terhadap hubungan seksual.

Saat saya muda, saya aktif secara seksual, namun tidak pernah mendapat kepuasan. Walau merasa senang melihat pasangan mendapat kepuasan, saya benci hubungan seks.

Saya pernah menjalin hubungan cinta yang dalam, dan bahkan pernah bahagia menikah, namun semuanya hancur akibat satu hal: ketidaktertarikan saya pada seks.

Tatkala saya masih terlibat asmara, dan sangat bahagia berpelukan di ranjang atau di sofa, saya selalu menganggap pikiran soal seks menjijikkan dan ini akhirnya mengakhiri hubungan dengan pasangan.

Selama 11 tahun terakhir saya berstatus lajang, dan meskipun saya tidak menikmati status itu, kini saya jauh lebih mudah menemukan satu di antara 1% hingga 3% orang yang merasa sama seperti saya.

Saya hanya berharap lebih banyak kaum muda yang sadar dan terbuka dengan aseksualitas mereka sehingga mereka bisa menemukan orang sejenis sehingga kemudian menikmati hubungan normal, saling mencintai, dan aseksual.

presentational grey line

Tabitha, Bristol

Saya sudah tahu bahwa diri saya tidak sama seperti orang lain sejak saya berusia 13 tahun.

Saya mencoba berpura-pura dan berkencan dengan beberapa orang hanya untuk mengetahui apakah sayalah yang lamban dalam hubungan asmara. Baru saat saya berusia 15 tahun, saya menemukan istilah aseksual dan tahu bahwa itulah saya.

Saya tidak akan memberitahu orang tua atau keluarga. Mereka tidak akan mengerti.

Ada jurang pengetahuan yang lebar antara kami dan tidak ada satupun dari mereka yang pernah mendengar atau memahami aseksualitas.

Woman lying on a bed

Permasalahan ini bukan sesuatu yang baru, merekapun sudah hidup begitu lama.

Namun, banyak orang yang lebih tua mengatakan aseksualitas adalah hal yang sedang tren. Mereka baru mendengar soal aseksualitas karena keajaiban internet.

Kenyataan bahwa saya bisa menemukan komunitas di dunia maya yang merasa sama seperti saya dan bisa membantu menyadarkan bahwa saya bukan orang yang rusak, sangatlah penting.

presentational grey line

Lucy, Cornwall

Pada usia 28 tahun, bahkan ketika telah mengetahui aseksualitas selama lima tahun dan menyadari bahwa itulah saya, saya masih berjuang untuk tidak menyangkalnya.

Sikap ini sebagian disebabkan respons negatif yang diperlihatkan orang ketika saya mencoba memberitahu mereka bahwa saya aseksual. Mereka selalu mengatakan, “Oh itu sih karena kamu belum bertemu orang yang cocok saja” atau “Kamu orang yang gampang kaget soal seks”.

Respons tersebut menghancurkan gambaran tentang diri saya dan merusak kepercayaan diri saya yang aseksual di dunia modern yang segalanya tentang seks.

Sebagai bagian dari generasi yang terus-menerus dibombardir dengan seks dari media, saya jadi merasa sangat terisolasi dan terbelakang.

Jujur, saya hidup dengan perasaan takut mati sendirian karena saya tidak bisa berhubungan seks.

Saya bahagia dengan diri saya seperti ini, namun dunia di sekitar saya tidak. Semakin lama saya menjadi seorang penyendiri, karena hal itu lebih mudah ketimbang hidup dicemooh dunia yang terlalu mementingkan seks.

presentational grey line

Ian, Nottinghamshire

Saya seorang pria berusia 42 tahun dan baru tahu tentang aseksualitas dan seberapa klop saya dengan konsep tersebut.

Saya biasa menulis buku harian semasa remaja, penuh dengan drama sehari-hari.

Namun, menarik bahwa semua perasaan dan pikiran tentang perempuan nyaris sepenuhnya romantic—di perbatasan platonik—alih-alih bersifat cabul sebagaimana stereotipe seorang remaja pria.

Saya tidak pernah benar-benar menikmati hubungan seksual pertama saya, meskipun menarik seperti halnya misi pencarian fakta. Sejak saat itu setiap hubungan yang saya alami, terlepas dari hubungan saya dengan orang tersebut, tidak memuaskan.

Saya cenderung sedikit sekali terangsang pada posisi di mana saya benar-benar pasif, tidak mengendalikan.

Saya telah mencoba berbagai macam posisi—eksperimen sebenarnya—dan sebagian besar saya tidak nikmati dan dampaknya pasangan saya jadi tidak menikmati pula.

Saya punya pasangan perempuan saat ini. Saya menyebut dia sebagai partner: rasanya tidak pas menyebut dia sebagai ‘kekasih,’ karena menurut standar normal kami tidak memenuhi kriteria.

Walau kami berada di ranjang yang sama, kami tidak pernah berciuman, apalagi berhubungan intim. Saya pikir dia tidak paham bahwa saya aseksual dan cenderung berasumsi saya gay. BBC Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*