Survei: Mayoritas Publik Nilai Jokowi Kawan Islam

Hasil survei Indikator Politik Indonesia mengungkapkan bahwa mayoritas publik menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang seorang Muslim bukanlah sosok yang anti Islam dan menjadi musuh ulama seperti yang digembar-gemborkan sejumlah pihak di media sosial.

Presiden Joko Widodo (tengah) berbincang dengan seorang santri disaksikan Ketua Jamiyyah Ahlith Thoriqoh al-Mutabarah al-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (kiri) pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di Pekalongan, Jawa Tengah, 8 Januari 2017. Presiden berpesan kepada santri untuk lebih selektif dalam memilh informasi melalui media sosial yang berkaitan dengan kebencian dan SARA. Antara/Harviyan Perdana Putra

Jakarta, Baranews.co – Hasil survei Indikator Politik Indonesia mengungkapkan bahwa mayoritas publik menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang seorang Muslim bukanlah sosok yang anti Islam dan menjadi musuh ulama seperti yang digembar-gemborkan sejumlah pihak di media sosial.

Mayoritas publik justru menilai Jokowi adalah pemimpin yang membela Islam.

Survei Indikator ini dilakukan pada 17-24 September 2017 terhadap 1.220 responden dengan usia 17 tahun atau sudah menikah di 34 provinsi. Survei melalui wawancara tatap muka dengan metode multistage random sampling dengan margin of error ± 2,9 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen.

“Sekitar 67 persen publik yang menyatakan Presiden Jokowi membela Islam dan hanya 6 persen yang menganggap Jokowi anti Islam. Sisanya tidak tahu atau tidak menjawab,” ujar Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi dalam pemaparan hasil survei di Jakarta, Rabu (11/10).

Burhanuddin juga memaparkan 66 persen publik tidak setuju dengan pandangan bahwa Jokowi adalah musuh ulama dan 9 persen menjawab sangat tidak setuju. Hanya 5 persen yang menjawab setuju dan 0 persen menjawab sangat setuju bahwa Jokowi adalah musuh ulama. Sementara 20 Persen responden menjawab tidak tahu atau tidak menjawab.

“Bisa dikatakan, angka ini sangat rendah jika dibandingkan dengan maraknya anggapan itu di media sosial. Namun kelompok ini memiliki konsekuensi sangat kuat terhadap pilihan politik,” kata Burhanuddin.

Temuan ini memperkuat hasil survei lainnya yang menyebutkan bahwa Jokowi mendapat dukungan paling tinggi untuk kembali menjabat presiden dibdandingkan nama-nama besar lainnya.

“Jika publik menganggap Jokowi memusuhi ulama, terlebih dianggap anti Islam, maka dukungan politik Jokowi akan sangat rendah,” jelas dia.

Sementara itu terkait isu Partai Komunis Indonesia (PKI), sebanyak 57 persen warga menolak anggapan bawah Jokowi melindungi kelompok PKI. Hanya 7 persen yang menyatakan setuju dan 7 persen lainnya menjawab sangat tidak setuju tentang pandangan itu.

Bahkan, lanjut dia, 52 persen responden menyebut isu PKI bangkit hanya dihembuskan dan dibesar-besarkan oleh kelompok tertentu untuk menyerang pemerintahan Jokowi. Hanya 13 persen yang menganggap saat ini terjadi kebangkitan PKI di tanah air. Selebihnya tidak bisa menilai.

“Jika publik menganggap bahwa PKI saat ini sedang bangkit dan Jokowi dianggap melindungi kelompok komunis, maka dukungan kepada Jokowi sangat tertekan,” pungkas dia.

Sumber: BeritaSatu.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*