PSIKOLOGI: Rezeki dan Perilaku Ekonomi Masa Kini

Ilustrasi (Sumber: Harian KOMPAS)

Oleh: KRISTI POERWANDARI

Selama hidup masih ada, semua orang dewasa (sedikit sekali pengecualiannya) memiliki tugas mencari rezeki. Entah untuk dirinya sendiri saja, untuk keluarganya, atau memastikan proyek terus berjalan untuk menghidupi perusahaan dan karyawannya.

Kreativitas sekelompok anak muda membuat aplikasi berbasis internet dapat meruntuhkan kejayaan perusahaan-perusahaan besar. Terbukalah ribuan posisi kerja baru. Di level individu, teman saya menghidupi anak-anaknya membuat tahu bakso bekerja sama dengan perusahaan aplikasi antar jemput makanan. Kita juga membaca berita tentang anak-anak muda yang sangat kreatif membuat aplikasi games dan laku di dunia internasional.

Sebenarnya ada cerita tidak ceria juga. Di balik kisah sukses itu, pada saat yang sama ada sejumlah besar manusia kehilangan pekerjaannya. Sopir taksi yang tidak piawai dengan gawai tidak mampu berpindah kerja. Hampir semua gerbang tol tidak memerlukan lagi manusia, yang bertugas cukup mesin e-money. Banyak lagi lainnya tidak mendapat tempat kerja, belum mampu pula menciptakan rezeki bagi dirinya sendiri.

Perilaku ekonomi

Sistem ekonomi masa kini menguatkan perilaku ”cari untung maksimal” lebih daripada sebelumnya. Jika dulu itu umum dipikirkan pengusaha, sekarang itu juga dipikirkan konsumen. Konsumen diberi ruang lebar menuntut yang terbaik, paling murah, paling menguntungkan, paling cepat, paling nyaman.

Ini dimungkinkan karena perusahaan tidak lagi menggaji pekerja, yang penting ada basis kinerja untuk menghitung capaian dari waktu ke waktu. Perusahaan tidak perlu bertanggung jawab akan kesehatan dan masa depan pekerja karena mekanisme yang dibangun adalah kontrak yang dapat putus sewaktu-waktu.

Pengusaha jorjoran dalam kompetisi meraih pembeli, dengan menyediakan sistemnya sendiri (e-pay) dan promosi yang gila-gilaan, yang entah apakah manusiawi? Bagaimanakah dampaknya pada perilaku konsumen?

Saya sendiri pun, setelah tiga tahun berkukuh menolak, akhirnya kadang menggunakan juga aplikasi daring. Ini karena saya ingin berhemat. Dari rumah ke UI Depok, tempat saya bekerja, dengan taksi biasa mungkin biayanya Rp 120.000 atau Rp 130.000 bahkan lebih, tergantung macet tidaknya jalanan. Dengan angkutan online, umumnya saya harus membayar Rp 85.000 atau Rp 90.000 saja.

Ada teman bercerita mengenai seorang teman yang lain, yang meminta anaknya memesan makanan secara daring. Di brosur dijanjikan, kalau makanan tidak sampai di tempat dalam waktu 30 menit, pemesan tidak usah membayar alias gratis. Temannya itu mengajari anaknya: ”Paling 30 menit juga belum nyampai, kan jalanan macet banget. Hore, berarti kita bisa dapat gratis dong!”

Promosi sangat menguntungkan bagi pengguna, belum lagi jika tidak membayar kontan, tetapi pakai e-card. Konsumen yang uangnya amat pas-pasan akan pandai berstrategi bagaimana caranya mengeluarkan uang paling sedikit dengan capaian paling menguntungkan.

Sementara itu, yang sebenarnya uangnya mencukupi, bahkan berlebih, juga dibiasakan menjadi makin penuntut (marah kalau layanan tidak cepat) dan makin enggan berbagi (5.000-10.000 sangat dihitung). Makin tidak peduli (”saya harus dilayani maksimal seperti mau saya, kalau tidak saya laporkan”), bahkan kadang curang (berharap makanan datang terlambat agar dapat gratisan).

Beban pekerja

Perilaku ekonomi manusia telah berubah sama sekali, dan kalau kita tidak hati-hati, akan atau sudah menghilangkan nilai-nilai baik dan kepedulian yang selama ini kita yakini sebagai hal yang harus dipertahankan dan dijunjung tinggi.

Kompetisi yang tinggi dan berbagai promosi menggiurkan makin menciutkan margin keuntungan. Yang terkena paling langsung adalah pekerja mengingat mereka yang membutuhkan rezeki dari sistem yang dibangun. Dengan jumlah sangat banyak, satu-dua pekerja yang hilang, sakit, atau tidak puas dengan sistem akan segera digantikan oleh pekerja lain.

Yang bekerja jadi sopir ojek online mungkin di awal merasa senang memperoleh upah dari kerja kerasnya. Lama-lama ia bekerja makin keras dan makin keras, tak mampu beristirahat, melaju terus di bawah terik matahari, untuk dapat memperoleh bonus dan membawa uang cukup memadai. Tidak peduli daya tahan fisik, tanpa jaminan kesehatan ataupun jaminan masa depan.

Beberapa mulai tak mampu bertahan karena sakit, kelelahan, atau merasa belum menemukan cara untuk dapat memperoleh manfaat yang maksimal sebagai pekerja. Ada pula yang frustrasi dan marah lalu lepas kendali, merasa diperlakukan tidak manusiawi oleh pengguna.

Merangkul manusia

Di negara lain, ekonomi berbasis internet mungkin dapat berjalan dengan baik. Di Indonesia dengan jumlah penduduk yang amat sangat besar dan variasi kompetensi dan keterampilan yang lebar, tampaknya diperlukan kajian multidisiplin yang komprehensif. Dengan demikian diperoleh pemahaman, mana yang dapat dikembangkan, dengan aturan seperti apa, dan yang mana yang sebaiknya tidak dikembangkan karena lebih banyak risikonya.

Kita lupa bahwa dengan pendekatan yang tepat, manusia mungkin dapat kita ajak untuk bekerja keras dan tekun. Tetapi bagaimanapun caranya, tidak semua orang dapat diharapkan menjadi pandai, kreatif, dan inovatif. Yang seperti ini, apakah tidak berhak lagi memperoleh rezeki?

Sistem ekonomi berbasis teknologi canggih meminimalkan kebutuhan akan manusia dan menggantikannya lewat kehadiran teknologi. Diperlukan kepedulian dan ide-ide cemerlang untuk memastikan bahwa kehadiran teknologi tidak mengubah perilaku kita menjadi makin individual dan tak peduli.

Dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, bagaimana pula memastikan agar teknologi dapat menciptakan kerja bagi sebanyak mungkin orang, bukan sekadar sebagai alat, tetapi tetap sebagai sesama manusia seperti kita menghormati diri sendiri? Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*