SEPAKBOLA: Gertakan Awal “Fab Four”, Juergen Klopp Menilai Liverpool Kurang Beruntung

Salah satu ekspresi Pelatih Liverpool Juergen Klopp di sela-sela laga tim asuhannya melawan Spartak Moskwa di Otkrytiye Arena, Moskwa, Rabu (27/9) dini hari WIB. Spartak menahan seri Liverpool 1-1. Hal ini menjadi hasil seri kedua bagi Liverpool dari dua laga di Liga Champions. (Sumber: kompas.com/REUTERS/JOHN SIBLEY).

MOSKWA, Baranews.co – Setelah hampir dua bulan melakoni laga kompetitifnya musim ini, Liverpool akhirnya mengeluarkan senjata utamanya di Otkrytiye Arena, Moskwa, Rabu (27/9). Namun, senjata utama berjuluk “Fab Four” itu masih bisa diatasi Spartak Moskwa melalui laga seri 1-1.

“Fab four”, singkatan dari “Fabulous Four” atau “Kuartet Hebat”, itu sebutan bagi empat bintang “The Reds”, yaitu Philippe Coutinho, Sadio Mane, Mohamed Salah, dan Roberto Firmino. Pada laga kedua Grup E Liga Champions itu, mereka dipasang sebagai pemain mula untuk pertama kalinya.

Istilah Fab Four meminjam julukan kelompok musik The Beatles, yang juga dari Liverpool. Sama seperti The Beatles yang mengharumkan nama Kota Liverpool, kuartet serang The Reds ini diharapkan bisa kembali menghidupkan klub yang kembali ke Liga Champions setelah absen selama dua musim.

Kehadiran Fab Four yang sebelumnya tertunda, terutama karena kondisi Coutinho yang belum pulih sepenuhnya dari cedera, itu langsung disambut antusias fans Liverpool. Mereka berharap kejutan dari formasi 4-3-3 yang diperkuat Mane, Firmino, dan Salah di depan, serta Coutinho mengisi sayap kiri.

Meski demikian, situasi menjadi antiklimaks ketika The Reds harus kembali menerima hasil seri setelah pada laga perdana ditahan imbang Sevilla 2-2 di Anfield. Jika dihitung dengan musim 2014-2015, ini hasil seri keempat mereka secara beruntun di fase grup Liga Champions.

Butuh waktu

Pelatih Liverpool Juergen Klopp mengatakan, Fab Four masih membutuhkan waktu. “Masalahnya bukan sekadar memasang nama-nama besar dan berharap sesuatu akan terjadi. Namun, mereka masih butuh ritme dan penyesuaian,” katanya.

Pendapat Klopp ada benarnya jika melihat penampilan kuartet serangnya itu. Setidaknya Liverpool sudah menunjukkan dominasinya atas Spartak. The Reds mampu menembak 16 kali dan tuan rumah hanya 4 kali.

Setelah tertinggal 0-1 akibat gol dari tendangan bebas gelandang Spartak, Fernando, Liverpool mampu bangkit. Melalui umpan satu dua dari Mane, Coutinho menyamakan skor menjadi 1-1 pada menit ke-31.

Fab Four terbukti menjadi kunci agresivitas Liverpool saat ini. Hal itu terlihat ketika Daniel Sturridge menggantikan Mane pada menit ke-70, kreativitas serangan mulai mengendur.

Mengenai kegagalan Liverpool menambah gol lagi dalam laga itu, Klopp memberikan jawaban klise bahwa mereka kurang beruntung. “Dalam sepak bola, Anda harus terus mencoba dan mencoba lagi,” ujarnya.

Itulah tekad Klopp saat ini. Ia merasa The Reds masih memiliki kans untuk lolos ke fase selanjutnya meski saat ini masih di posisi kedua klasemen sementara dengan 2 poin di bawah Sevilla yang telah mengantongi 4 poin.

Gelandang Liverpool, Jordan Henderson, menyatakan optimisme yang sama. “Kami sudah bertahan dengan baik dan banyak menciptakan peluang. Kami hanya tinggal tampil lebih kejam lagi,” katanya.

Pelatih Spartak Moskwa Massimo Carrera mengakui, Liverpool datang sebagai tim yang membawa masalah bagi timnya di lapangan hijau. Pemainnya harus kerja keras mengimbangi permainan agresif sang tamu.

Akibatnya, sejumlah pemain Spartak Moskwa mengalami kram pada babak kedua. “Menghadapi Liverpool yang memiliki banyak pemain bintang, kami harus banyak berlari hingga kaki kram,” kata Carrera.

Beruntung, sebelum laga itu Carrera dinasihati Pelatih Chelsea Antonio Conte yang sama-sama berasal dari Italia. Dari Conte, Carrera mendapat resep untuk mengatasi perlawanan Liverpool. Tidak disebutkan secara jelas bagaimana resep dari Conte itu. (AP/AFP/Reuters/DEN)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*