Di Australia Anak-anak Membuat Sendiri Foto dan Video Seks

Perangkat ponsel dan aplikasi menjadikan anak terbuka pada eksploitasi seks di Internet (Sumber: australiaplus.com/ABC News).

Oleh: Syaiful W HARAHAP

LaporanAustralia Plus” ini bisa jadi cermin bagi orang-orang tua di Indonesia. Seperti dilansir melalui australiaplus.comn (13/9-2017) disebutkan pelaku kejahatan seksual secara online menjadikan anak-anak, bahkan yang baru berusia 4 tahun, sebagai mangsa dengan streaming langsung dan mereka merekam gambar-gambar yang sensual pada diri anak0anak tsb. melalui video yang juga disiarkan secara online.

Dengan jaringan Internet, terutama jejaring media sosial, yang sudah masuk ke kamar dan tempat tidur dan penggunaan telepon pintar oleh anak-aak tidak ada lagi alasan bagi orang-orang tua di Indonesia untuk mengatakan: “Ah, itu ‘kan di Australia.”

Dekat Orang Tua

Lagi pula di Indonesia sudah terbongkar kasus-kasus pelacuran anak dan jual-beli foto-foto seks anak. Pihak Kepolisian Australia dikabarkan kewalahan menangani laporan terkait dengan materi seksual yang diproduksi anak-anak yang di Negeri Kangguru disebut sebagai “materi eksploitasi anak yang diproduksi sendiri”. Laporan Interpol menunjukkan pada bulan pertama tahun 2016 kasus kejahatan seksual itu naik 150 persen dari tahun sebelumnya.

Anak-anak dibujuk dan diancam sehingga mereka dengan ‘sukarela’ berbagi foto dan video sensual yang mereka buat sendiri kepada teman-teman di jejaring media sosial. Pelaku kejahatan seksual pun memanfaatkan anak-anak tsb. untuk membuat foto dan merekam video sensual yang kemudian direkam tanpa disadarai anak-anak itu.

Laporan stasiun televisi “ABC” membeberkan beberapa forum jejaring gelap pedofilia (laki-laki dewasa yang menyalurkan dorongan seks kepada anak-anak umur 7-12 tahun). Salah satu di antaranya mengoleksi lebih dari 600.000 materi berupa foto dan video seks yang diproduksi oleh anak-anak itu sendiri. Materi ini jadi bahan pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Pada awalnya anak-anak dengan polos memposting foto atau video, seperti menyanyi dan menari, di You Tube. Anak-anak itu kemudian dikontak oleh pelaku kejahatan seksual, al. dengan identitas palsu.

Adele Desirs, analis identifikasi korban yang pernah bekerja dengan Interpol, sekarang berbasis di Satuan Tugas Polisi Queensland Argos, melihat modus yang dipakai penjahat seksual benar-benar jadi ancaman bagi anak-anak.

Seorang pria berpura-pura menjadi ‘Emily’ telah memanipulasi seorang gadis Australia berusia 12 tahun di Internet (Sumber: australiaplus.com/ABC News).

Misalnya, ada kasus yang menimpa seorang gadis cilik usia 12 tahun yang diancam melalui webcam agar mengirim foto dan viedo seks tentang dirinya. Kalau gadis itu menolak pengancam mengatakan akan membunuh seorang kucing dengan cara mencekik kucing itu. “Jadi, ‘saya akan membunuh kucing ini jika Anda tidak melakukannya’, ini adalah jenis ancaman yang kita lihat,” kata Adele.

Tentu saja anak-anak akan memilih mengirimkan foto dan video seks dirinya daripada harus melihat seekor kucing atau binatang piaraan lain dibunuh oleh pengancam. Anak-anak sangat rentan terhadap ancaman yang menempatkan mereka pada posisi yang terjepit.

Ada juga kasus kakak yang lebih tua, berumur 10 tahun, memaksa adiknya berumur 4 tahun melakukan pose-pose sensual seperti melucuti pakaian dan menari. “Ini benar-benar mengkhawatirkan,” kata Komandan Kepolisian Federal Australia, Lesa Gale.

Yang membuat polisi Australia kewalahan adalah analisis terhadap foto dan video seks itu menunjukkan anak-anak itu membuatnya justru berada tidak jauh dari orang tua mereka. Bisa jad itu terjadi di rumah bersebelahan kamar bahkan bisa terjadi di ruangan yang sama.

Kontrol Orang Tua

Inspektur Detektif  Jon Rouse dari wilayah tugas Argos Queensland, melihat anak-anak itu tidak memahami apa dampak buruk dari eksplorasi dan produksi materi seksual yang mereka kirim melalui jejaring media sosial. Dari peneletian menunjukkan anak-anak berumur 8-13 mempunyai 2 akun media sosial, sedangkan remaja berumur 14-17 tahun mempunyai 3 akun media sosial. Bagi Komisaris Aman Julie Inman Grant kondisi sangat menakutkan bagi orang tua.

Polisi menemukan sejumlah aplikasi bernuansa pendidikan yang hebat yang digunakan anak-anak, seperti aplikasi musik.ly, atau ROBLOX atau Minecraft, celakanya aplikasi ini memiliki fungsi chatting. Nah, fitur obrolan itu jika tidak dikontrol oleh orang tua akan disusupi oleh pejahat seksual, seperti pedofilia, atau orang-orang dewasa yang mempunyai niat jahat memanfaatkan seks anak-anak.

Tentu saja eksploitasi anak-anak tidak bisa dibiarkan. Untuk itulah polisi dan pendidik menyebutkan soslusinya adalah berbicaralah lebih awal dengan anak-anak dengan terbuka. Inman Grant mengatakan orang tua perlu melibatkan anak-anak dalam pembasan tentang aplikasi dan situs yang dipakai anak-anak mereka.

Misalnya, orang tua bisa membimbing dan mengontrol anak-anak untuk memanfaatkan fungsi live chat dan live video dan mengetahui dengan siapa anak-anak mereka melakukannya. Jika dibiarkan bisa saja terjadi anak-anak mereka dieksploitasi secara seksual di kamar sebelah kamar tidur orang tua. Inman Grant memberikan gambaran: “Anda tidak akan membiarkan orang dewasa yang asing bermain di area bermain pasir dengan anak Anda, Anda juga tidak ingin mereka terlibat dalam taman bermain digital.”

Polisi Australia mengatakan mereka sering melihat anak-anak balita sudah ada yang terbiasa mengakses aplikasi di telepon pintar mereka dengan mudah. Analis identifikasi korban Adele Desirs, menyaksikan kehancuran yang disebabkan oleh eksploitasi anak, “Perayu anak sangat ahli memanipulasi.”

Tidak ada pilihan bagi orang tua selain melakukan intervensi  untuk mendidik anak-anak dari usia termuda dari bahaya berada di posisi online. Di Internet kita tidak pernah tahu persis siapa sebenarnya orang yang menerima kiriman foto dan video seks yang kita kirim, bahkan ketika orang tsb. terlihat seperti teman atau seseorang yang kita percayai.

Adele Desirs memiliki pesan sederhana untuk anak-anak, “Jangan pernah membagikan gambar telanjang dirimu kepada orang lain.” * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*