Kesenjangan yang Besar Antar Generasi Millenial China

Cecily Huang adalah produser di Biro ABC di Beijing. (Sumber: australiaplus.com)

Kesenjangan generasi antara orang tua saya dan saya jauh lebih besar dibandingkan kondisi yang mungkin terjadi di Australia. Hal ini terjadi karena China telah mengalami perubahan sosial dan pergolakan yang belum pernah terjadi sebelumnya hanya dalam kurun waktu 20 tahun.

B – Saya akan tumbuh sebagai komunis seperti ayah saya jika saja China masih sama kondisinya seperti 20 tahun yang lalu.

Tidak seperti orang tua saya yang kelaparan dalam Kelaparan Besar pada tahun 1950-an dan mengalami Revolusi Kebudayaan pada tahun 1966-1976, generasi saya lahir setelah tahun 1980-an ketika China mulai menerapkan kebijakan pintu terbuka. Kami dibesarkan dengan McDonald’s, Coca-Cola dan lagu-lagu dari Michael Jackson, bukan setelan Mao dan pengkultusan kepribadian.

Orang tua saya menghabiskan sebagian besar hidup mereka untuk berusaha menghemat uang dan hanya memiliki sedikit atau tidak memiliki sama sekali pilihan dalam hidup.

Di masa mudanya, pemerintah telah mengirim mereka ke pedesaan untuk melakukan pekerjaan pertanian dan kemudian memerintahkan mereka untuk bekerja di pabrik kabel listrik dan pabrik tekstil tempat mereka tinggal sampai pensiun.

Tapi generasi saya hidup dengan keuntungan dari hasil pertumbuhan ekonomi masif dan sekarang memiliki gaya hidup konsumerisme.

Setelah bekerja di media barat selama lebih dari tujuh tahun dan belajar di Australia, saya pasti memiliki nilai yang berbeda dan membuat pilihan gaya hidup yang berbeda. Ini mengarah pada argumen dan perjuangan tanpa henti dengan orang tua saya.

Kencan dan pernikahan

Ayah saya bertemu ibu saya melalui kencan buta, yang saya yakin tidak ada orang muda China yang setuju untuk melakukan hal demikian pada  saat ini.

Ibuku belum pernah berkencan sebelum bertemu ayahku. Mereka masih tetap bahagia bersama setelah 35 tahun menikah.

An older man and woman stand under a tree filled with lanterns
Orang tua Cecily Huang tumbuh besar jauh di zaman yang berbeda dengan anak perempuannya.

Saya telah berkencan dengan banyak pria tapi saya masih tetap saja mencari sosok pria yang sempurna.

Saya sekarang berusia 35 tahun. Dalam perjalanan baru-baru ini, seorang sopir taksi pria Shanghai menunjukkan simpati kepada saya saat mengetahui bahwa saya belum menikah.

Ketika berusia 30, saya mendapat email dari ayah saya pada pagi hari Tahun Baru Imlek. Dia memasang sebuah posting blog berjudul “Mengapa Wanita Harus Menikah Sebelum usia 30”.

Untuk menanggapi email ayah saya ini, saya mengirimikannya sebuah buku, yang diterjemahkan dari “Do Not Marry Before Age 30” yang ditulis oleh Joy Chen, mantan wakil walikota San Francisco.

Alih-alih pulang ke rumah pada tahun itu, saya memutuskan untuk pergi ke New York City selama liburan Tahun Baru Imlek.

Sejak saat itu, saya telah mencari alasan untuk melarikan diri dari setiap liburan Tahun Baru Imlek karena saya tidak tahan dengan interogasi berulang kali oleh kerabat saya mengenai kehidupan pribadi saya dan juga kekecewaan orang tua saya. Mereka juga membuat lelucon tentang penampilan atau kepribadian saya sebagai alasan bahwa saya masih lajang atau memperingatkan saya dengan sopan bahwa jika saya menunggu saya akan memiliki sedikit kesempatan untuk menemukan suami yang baik.

Di bawah konsep kesalehan orang Tionghoa, kita bertanggung jawab atas kebahagiaan orang tua kita, harus mematuhi nasehat hidup mereka dan harus memberi mereka cucu.

Berurusan dengan patah hati

Awal tahun ini, saya bertunangan dengan pacar saya warga Australia, yang saya temui saat belajar untuk mendapatkan gelar master di Sydney. Ayahku lebih suka aku menikahi seorang warga negara Tionghoa, tapi dia menghormati pilihanku.

Namun, dalam perubahan hati yang tiba-tiba, tunangan saya putus dengan saya dua minggu setelah dia melamar.Saya patah hati. Saya memberi tahu ayah saya tentang hal itu melalui telepon.

Seorang perempuan muda berdiri dengan orang tuanya di klapangan tiananmen
Cecily Huang bersama dengan orang tuanya di lapangan Tiananmen.

Dia mengambil kereta tercepat dari kampung halaman saya dan muncul di depan pintu saya tanpa pemberitahuan.

Saya siap untuk kritiknya. Saya tahu berita ini akan membuat dia malu di depan kerabat lainnya karena berita itu menyebar seperti api ke seluruh keluarga saya – “Akhirnya dia akan menikah!”

Setelah beberapa hari tidak membahas apa yang telah terjadi, saya memulai percakapan yang dibutuhkan. Saya bilang saya tidak mengerti mengapa mantan tunangan saya dulu membuat keputusan seperti itu.

Dengan tenang, ayah saya berkata: “Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu mengapa Kim Jong-un melakukan tes rudal. Terkadang, tidak ada jawaban.”

Saya katakan, saya tidak merasakan harapan untuk masa depanku. Dia berkata: “Ketika Ketua Mao meninggal, tidak ada yang merasa ada masa depan bagi China, dan mereka semua menangis, tapi sekarang, semua orang melanjutkan hidup mereka.”

Begitulah ayah komunis saya menghibur saya – dengan pandangan politiknya. Kata-katanya sedikit banyak masuk akal. Aku menangis di bahunya berjam-jam. Ini mungkin pertama kalinya kami tidak berdebat tentang kehidupan pribadi dan pilihan kencan saya..

Tidak bicara politik di rumah

Bertahun-tahun yang lalu kami memutuskan untuk tidak membicarakan politik di rumah setelah terlalu banyak argumen yang bernada kemarahan. Dia bangga karena saya pernah belajar di Australia, tapi dia mengatakan bahwa pikiran saya terkena dampak serius oleh “roh barat yang keracunan “.

Semangat demokratik saya dianggap oleh dia sebagai gagasan “berbahaya” yang bisa membahayakan China dan sistem sosialisnya. Dia menolak untuk percaya bahwa Ketua Mao bisa berbuat salah.

Ayah saya, sekarang 62 tahun, dan tetap memuja Ketua Mao sebagaimana sikap dari orang China yang seusia dengannya. Dia yakin ada lebih sedikit korupsi dan lebih banyak kesetaraan pada masa pemerintahan Mao. Mereka merindukan masa lalu, memandang masa lalu secara romantis sebagai waktu yang lebih sederhana dan lebih bermoral.

Banyak pria China yang lahir pada tahun 1950-an sampai 1960-an memiliki nama yang mencerminkan gagasan membangun China yang hebat seperti Wei Guo (menjaga negara) atau Jian Guo (memperkuat negara). Hal itu tentu membuat mereka merasa lebih terikat pada takdir negara mereka. Ayah saya disebut Zhen Guo, yang berarti membuat negara makmur.

Saya merasa menyesal dan terkadang bersalah untuk menantang apa yang dia percaya. Saya rasa sangat menyakitkan untuk mendengar kritik tentang apa yang dia perjuangkan seumur hidupnya, tapi saya tahu dia mendengarkan bahkan jika dia tidak setuju dengan saya.

Mengapa anak-anak China belajar keras

Sebagian besar orang China memiliki ibu yang menerapkan disiplin tinggi alias ‘tiger mom’ atau ‘tiger dad’. Jika saya mendapat nilai 95, ayah saya akan bertanya mengapa saya tidak mendapatkan nilai 97. Jika saya mendapatkan nilai tersebut, dia akan bertanya mengapa saya tidak bisa 100

Ini adalah cara pendidikan khas Tionghoa – tidak pernah ada yang terbaik, tapi lebih baik. Memang, sikap keluargaku terhadap pendidikan menciptakan kepribadian dan disiplin diri yang kuat.

foto lama bayi perempuan digendong orang tua perempuannya
Cecily Huang ketika masih bayi bersama orang tuanya Zhengxian Yang dan =Zhen Guo

namun saya kagum melihat bagaimana orang tua barat mampu mengucapkan kebohongan yang indah dan pujian ketika anak-anak mereka melakukan pekerjaan yang mengerikan atau bagaimana mereka akan berusaha mencegah anak-anak mereka mengikuti ujian demi untuk melindungi perasaan anak-anak mereka. .

Saya mengagumi bagaimana teman-teman sekelas saya yang percaya diri untuk mengungkapkan pendapat mereka, tidak masalah apakah itu ide yang masuk akal atau tidak masuk akal. Mereka memiliki keberanian untuk mempertanyakan otoritas.

Pengamatan umum terhadap mahasiswa China oleh pendidik barat adalah bahwa mahasiswa China tidak memiliki keterampilan berpikir kritis. Kami tidak belajar berpikir kritis di China.

Hidup yang lebih bahagia

Ayahku tidak pernah bilang dia mencintaiku sampai aku kuliah.

Dia hanya menduga saya tahu hal itu, dan dia pikir adalah hal yang cengeng untuk mengungkapkan perasaannya dengan cara ini. Dia sekarang telah mengatakannya lebih sering sejak dia bertambah tua.

Saya memahami perjuangan antara orang tua saya dan saya tidak sepenuhnya mengenai dinamika keluarga kami saja, tapi lebih berkaitan dengan benturan antara cara hidup generasi saya dan tradisi masyarakat China.

Sebelum ayah saya kembali ke kampung halaman kami, dia mengatakan kepada saya jika kembali dengan mantan pacar saya akan membuat saya bahagia maka dia akan mendukungnya bahkan jika dia tidak setuju. Saya tersentuh.

Saya pikir generasi saya lebih bahagia dari pada ayah saya.

Sekalipun pilihan yang lebih besar bisa menimbulkan kebingungan dan kebencian, saya tetap senang tinggal di era ini dimana saya memiliki kebebasan lebih untuk memutuskan takdir saya. (Cecily Huang/australiaplus.com/swh).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*