LIGA INGGRIS: Perseteruan Duo Manchester, Mourinho Hidupkan Kembali “Waktu Fergie”

Striker Manchester United, Romelu Lukaku, kegirangan setelah membobol gawang bekas klubnya, Everton, pada pertandingan lanjutan Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (17/9) malam WIB. Manchester United memenangi laga melawan Everton dengan skor 4-0. (Sumber: KONPAS/REUTERS/ANDREW YATES).

MANCHESTER, Baranews.co – Kemenangan telak 4-0 Manchester United atas Everton, Minggu (17/9), menjadi sinyal dimulainya “perang” perburuan trofi juara Liga Inggris dengan rival sekota, Manchester City. Kedua tim unggulan itu kini memperbarui rivalitasnya menyusul hasil yang identik sejauh ini.

Striker Manchester United, Romelu Lukaku, meloncat kegirangan setelah membobol gawang bekas klubnya, Everton, pada pertandingan lanjutan Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (17/9) malam WIB. Manchester United memenangi laga melawan Everton dengan skor 4-0.
AP PHOTO/RUI VIEIRA

Striker Manchester United, Romelu Lukaku, meloncat kegirangan setelah membobol gawang bekas klubnya, Everton, pada pertandingan lanjutan Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (17/9) malam WIB. Manchester United memenangi laga melawan Everton dengan skor 4-0.

Kemenangan telak MU di Old Trafford itu seolah merespons penampilan impresif City yang sehari sebelumnya melumat Watford 6-0. Berkat hasil itu, kedua tim kini bak pinang dibelah dua. City dan MU menempati dua posisi teratas di Liga Inggris dengan kinerja yang identik, yaitu empat kemenangan, sekali imbang, 16 gol diceploskan, dan hanya dua kali kebobolan.

Striker Manchester United, Romelu Lukaku, meloncat kegirangan setelah membobol gawang bekas klubnya, Everton, pada pertandingan lanjutan Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (17/9) malam WIB. United membayangi klub tetangganya, Manchester City, di peringkat kedua klasemen Liga Inggris setelah memenangi laga melawan Everton dengan skor 4-0.
REUTERS/ANDREW YATES

Striker Manchester United, Romelu Lukaku, meloncat kegirangan setelah membobol gawang bekas klubnya, Everton, pada pertandingan lanjutan Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (17/9) malam WIB. United membayangi klub tetangganya, Manchester City, di peringkat kedua klasemen Liga Inggris setelah memenangi laga melawan Everton dengan skor 4-0.

Jika pun City ditempatkan pada posisi teratas, itu lebih karena faktor urutan alfabet. Jadi, bukan karena kinerja di lapangan. Yang pasti, kedua tim ini kini berlari menjauhi para pesaing lainnya.

Hanya Chelsea, juara bertahan Liga Inggris, yang mampu mendekati mereka. “The Blues”, yang ada di peringkat ketiga, kini terpaut tiga poin dari MU dan City. “Duo Manchester tengah melesat cepat bak roket. Bisakah tim-tim lain mengejar mereka?” ulas Daily Telegraph, Senin (18/9).

Manajer MU Jose Mourinho berkata, timnya tampil lebih baik dan tajam daripada musim lalu, yaitu “Setan Merah” hanya finis keenam musim lalu. “Kami mencetak lebih banyak gol,” ujarnya.

Kinerja yang paling terlihat pada Setan Merah musim ini adalah keuletan dan efisiensi mencetak gol. Musim lalu, tim ini acap kali terlihat frustrasi akibat kesulitan mencetak gol. Musim lalu, MU adalah tim paling sering meraih hasil imbang, yaitu 15 dari total 38 laga Liga Inggris.

Musim ini, MU menghindari hasil imbang dan meraih kemenangan di menit-menit akhir laga. Seperti saat melawan Everton, tiga gol MU yang dicetak Henrikh Mkhitaryan, Romelu Lukaku, dan Anthony Martial tercipta dalam 10 menit terakhir laga.

Separuh atau sepuluh dari total 20 gol MU di berbagai kompetisi musim ini dicetak di waktu krusial, yaitu di atas menit ke-80. Itu mengingatkan fans MU akan jargon “Waktu Fergie” ketika tim ini masih diasuh mantan Manajer Sir Alex Ferguson.

Setan Merah, di era Ferguson, tidak jarang mencetak gol dramatis di menit-menit akhir, bahkan detik terakhir laga. Itu salah satunya terjadi di final Liga Champions 1999 kontra Bayern Muenchen. MU tertinggal 0-1, tetapi berbalik unggul lewat gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solksjaer di injury time.

Menurut Mourinho, alih-alih sebuah kelemahan, tren mencetak gol di menit-menit akhir laga itu menunjukkan kekuatan mental skuad MU di tengah kecenderungan perubahan Liga Inggris. “Saya kira Liga Inggris kini menjadi lebih defensif. Banyak tim yang mencoba bermain dengan lima bek plus dua atau tiga gelandang di tengah. Namun, kami mampu tampil ultradominan,” tuturnya kemudian.

Di kubu sebaliknya, Manajer Manchester City Pep Guardiola mengingatkan, timnya berpotensi untuk tumbuh meskipun tampil sangat tajam akhir-akhir ini. City memenangi tiga laga dalam sepekan terakhir dengan koleksi 15 gol tanpa balas. “Kami masih mampu tampil lebih baik jika bisa menumpuk lebih banyak pemain di tengah,” ujar Guardiola.

Kompak boros belanja

Kedua manajer kaya prestasi itu sama-sama berambisi meraih trofi Liga Inggris musim ini. Itu tecermin sejak dini dari aktivitas belanja pemain. Kedua manajer ini adalah yang terboros di dunia dalam dua musim terakhir.

Guardiola dan City menghabiskan 400 juta pounds atau Rp 7,1 triliun dalam dua musim terakhir untuk pemain-pemain baru. Mourinho memaksa MU mengeluarkan kocek 300 juta pounds atau Rp 5,3 triliun sejak musim lalu.

Mark Ogden, kolumnis Liga Inggris di ESPN, memprediksi, musim ini akan menjadi pertempuran epik Mourinho dan Guardiola. Jika itu terjadi, kisah rivalitas sengit Barcelona dan Real Madrid saat diasuh kedua manajer itu bakal terulang di Liga Inggris.

Namun, seperti biasa, Mourinho menepis rivalitas itu. “Tidak sedetik pun saya memikirkan City. Saya lebih memikirkan Tottenham, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool yang gagal menang,” ujarnya. (AFP/Reuters/JON)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*