KEJAHATAN SIBER: Sumber Dana Saracen Mulai Terungkap

Sumber: BBC.com

JAKARTA, Baranews.co – Aliran dana yang diterima kelompok Saracen mulai terungkap. Berawal dari penangkapan AD (52) terkait penyebaran konten bernuansa ujaran kebencian dan menyinggung SARA, penyidik Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara RI juga menemukan dugaan AD memberikan dana sekitar Rp 75 juta untuk operasional Saracen.

AD ditangkap pada Jumat pekan lalu saat menginap di rumah kakaknya yang merupakan perwira Polri di Jalan Ampera Raya, Jakarta. Sehari-hari, AD berdomisili di Sulawesi Utara.

Penangkapan AD didasari empat unggahannya di dua akun Facebook miliknya, yaitu Asma Dewi Ali Hasjim dan Asma Dewi. Keempat unggahannya itu mengandung unsur permusuhan kepada ras tertentu. Unggahannya itu dilakukan pada periode 21-22 Juli 2016.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto, Senin (11/9), mengatakan, AD diduga mengirimkan uang sekitar Rp 75 juta untuk kelompok Saracen. Pemberian uang itu dengan menggunakan sejumlah orang. Pertama, AD mengirimkan uang kepada salah satu anggota inti Saracen, yaitu NS. Kemudian, uang tersebut ditransfer ke D. Terakhir, D mengirimkan uang tersebut kepada R yang telah ditunjuk sebagai bendahara kelompok Saracen oleh JAS, Ketua Saracen.

“Kami masih mendalami peran AD, apakah ia pemesan konten hoaks atau donor dana kelompok Saracen. Penyidik juga sedang mendalami apakah uang itu murni berasal dari AD atau ia hanya kaki tangan pihak tertentu,” ujar Setyo.

Kepala Subdirektorat I Tindak Pidana Siber Bareskrim Komisaris Besar Irwan Anwar mengatakan, dari hasil pemeriksaan terungkap bahwa dalam pertemuan di Pekanbaru, Riau, pada Juli 2017, JAS sempat memberi tahu MAH yang adalah pendiri laman grup Saracen bahwa dirinya telah memiliki donor dana asal Jakarta untuk mendukung operasional Saracen di media sosial. Atas dasar itu, mereka menunjuk R sebagai bendahara untuk menerima dana itu.

Kerabat polisi

Terkait penangkapan AD di salah satu rumah perwira Polri. Setyo memastikan, perwira Polri itu tak terlibat penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang dilakukan AD.

Kakak AD, katanya, juga akan dimintai keterangan untuk melengkapi penyidikan. Keterangan diperlukan untuk mengetahui berbagai aktivitas AD selama di Jakarta.

Secara terpisah, komisioner Komisi Kepolisian Nasional Andrea Poeloengan berharap penyidik kepolisian menunjukkan penyidikan yang akuntabel dan serius. (SAN)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*