PSIKOLOGI: Belajar dari Perselingkuhan

Ilustrasi (Sumber: Haaian KOMPAS)

Oleh: AGUSTINE DWIPUTRI

Perselingkuhan yang acap kali dilakukan suami berdampak negatif amat besar terhadap istri dan hal itu berlangsung dalam waktu yang panjang. Berbagai perasaan negatif yang amat intens dialami dalam waktu bersamaan. Selain itu, terjadi pula perubahan “mood” yang begitu cepat sehingga membuat istri serasa terkuras tenaganya.

Meski demikian, terjadinya perselingkuhan dalam pernikahan tidak selalu harus berakhir dengan perceraian, kita dapat belajar banyak untuk kehidupan selanjutnya. Menurut Subotnik dan Harris (2005), pertama, Anda dan pasangan Anda harus tetap berkomitmen untuk melestarikan pernikahan Anda meski terjadi perselingkuhan yang menyedihkan. Kedua, Anda berdua bersedia memeriksa hubungan Anda dan melakukan apa yang Anda bisa untuk memperbaikinya. Mari kita simak pandangan kedua tokoh perkawinan itu yang menjelaskan bahwa perselingkuhan juga dapat menjadi katalisator perubahan yang bisa merevitalisasi hubungan perkawinan.

Komitmen ulang

Komitmen ulang adalah janji untuk terus berinvestasi dalam hubungan ini meski ada rasa sakit dan kecewa. Hal ini melibatkan tekad untuk bertahan dan bekerja walau ada masalah, bukannya menyerah. Termasuk di sini merevitalisasi hubungan seksual Anda. Komunikasikan kebutuhan Anda dan tingkatkan kenikmatan seksual.

Harapan

Anda mungkin tak realistis mengharapkan bahwa ketika memiliki pasangan akan hidup bahagia selamanya. Atau, mungkin harapan Anda lebih praktis saja, seperti bisa memberi penghasilan, membesarkan anak, dan menikmati seks. Seiring dengan usia pernikahan, harapan sering berubah. Individu, keluarga, dan kondisi sosial memang berubah. Akibatnya, perkawinan harus berbelok dan sedikit melentur untuk mengakomodasi perubahan dari kesepakatan semula. Banyak pasangan kurang menyadari perlunya saling berbagi harapan dan tujuan perkawinan mereka; hanya berasumsi atau mengira-ngira sendiri.

Menyelesaikan perbedaan

Anda dan pasangan biasanya memiliki sejumlah harapan yang saling bertentangan. Cara mengatasi perbedaan merupakan sesuatu yang lebih penting daripada melihat seberapa harmonis atau cocoknya Anda dengan pasangan. Tidak ada dua orang yang bisa setuju pada setiap masalah. Meski tidak ada yang menyukainya, hidup bersama berarti menyelesaikan perbedaan. Sayangnya, melarikan diri dari konflik justru bisa merusak hubungan Anda. Pertama, Anda dan pasangan menjadi sangat kekurangan dalam berbagi pengetahuan, dia tidak dapat mengetahui bagaimana perasaan Anda tentang sebuah masalah jika Anda tidak membaginya. Kedua, apabila Anda membiarkan konflik dan memendamnya jauh ke bawah tanah, Anda tidak akan pernah tahu kapan atau di mana permukaannya muncul dalam bentuk pertengkaran yang jelas. Artinya, jika masalah penting diabaikan, hal itu bisa menjadi semakin sulit ditangani.

Menurut Subotnik & Harris (2005), melakukan brainstorming tanpa saling mengkritik adalah cara yang berguna untuk mengatasi perbedaan dan bisa dimasukkan dalam pembicaraan yang Anda jadwalkan dengannya. Ketiadaan kritik ini mendorong Anda masing-masing untuk mengekspresikan ide-ide imajinatif dan segar tanpa takut dihakimi. Apabila Anda sudah selesai, buanglah saran yang tidak praktis dan pertimbangkan untuk menerapkan beberapa kemungkinan yang bersifat membangun dan memperbaiki hubungan.

Meningkatkan komunikasi

Dalam perkawinan yang telah diwarnai perselingkuhan, banyak pasangan mengalami kesulitan berkomunikasi satu sama lain secara efektif. Komunikasi yang baik biasanya melibatkan ekspresi perasaan Anda secara langsung dan terbuka serta mendorong pasangan Anda untuk juga mengungkapkan perasaannya. Subotnik & Harris telah mengidentifikasi sejumlah mitos yang menghambat komunikasi yang efektif. Dengan mengenali berbagai mitos tersebut dan membedakan dengan fakta yang lebih benar, Anda dan pasangan dapat terbantu untuk memperbaiki komunikasi Anda.

Mitos 1: pasangan harus tahu apa yang dipikirkan, dirasakan, atau diinginkan orang lain.

Fakta: pasangan tidak memiliki bola kristal. Anda perlu memberi tahu dia secara langsung apa yang Anda mau, rasakan, atau pikirkan.

Mitos 2: pasangan harus saling sepakat setelah mereka membicarakan sebuah masalah.

Fakta: dua individu berlawanan jenis dengan pengalaman hidup yang berbeda tidak mungkin melihat setiap masalah secara persis sama. Terkadang Anda mungkin setuju untuk tidak setuju. Pernyataan seperti “saya kira kita melihatnya secara berbeda” dapat membantu pada kesempatan tertentu.

Mitos 3: membahas masalah Anda berarti sekarang juga Anda harus menyelesaikannya.

Fakta: beberapa masalah tidak memiliki solusinya, tetapi membutuhkan pemahaman. Misalnya, istri Anda mungkin hanya ingin Anda mengerti betapa kecewanya dia. Suami Anda mungkin ingin Anda bersedia mendengarkan penjelasannya tentang apa yang terjadi.

Mitos 4: berbagi perasaan berarti pasangan Anda harus bertindak untuk melakukan sesuatu.

Fakta : pasangan Anda dapat mengakui bahwa dia mendengar Anda, tetapi tetap menggunakan haknya untuk mengatakan “tidak” terhadap permintaan Anda. Dia mungkin saja mengusulkan suatu kompromi atau ingin memikirkan masalah ini lebih lanjut.

Mitos 5: penolakan terhadap pandangan saya berarti penolakan terhadap saya.

Fakta: ini adalah contoh kesalahan berpikir yang disebut “personalisasi”. Jika pasangan Anda tidak setuju dengan pendapat Anda, dia melihat sesuatu dengan caranya sendiri. Dia mungkin tidak setuju dengan sudut pandang Anda tentang sebuah isu. Namun, tidak berarti dia menolak Anda sebagai seseorang secara menyeluruh.

Mitos 6: melakukan apa yang pasangan Anda inginkan tidak masuk hitungan jika Anda harus diberi tahu untuk melakukannya.

Fakta: yang sesungguhnya ada adalah komunikator yang efektif, bukan pembaca pikiran. Jadi, cara termudah untuk memperoleh kebutuhan Anda adalah dengan menanyakan langsung apa yang Anda inginkan.

Mitos 7: dalam cinta sejati, pasangan bisa merasakan kebutuhan orang lain.

Fakta: ini adalah contoh lain dari mengharapkan pasangan Anda menjadi pembaca pikiran. Ini mungkin juga mencerminkan sebuah “pernyataan mengharuskan” yang sifatnya implisit, suatu kesalahan berpikir yang lain lagi. Mungkin Anda percaya bahwa, jika pasangan Anda benar-benar peduli dengan Anda, dia harus secara intuitif mengetahui apa yang Anda butuhkan. Kenyataannya, hanya sedikit orang yang secara alami sangat intuitif. Padahal, apabila Anda menyatakan kebutuhan secara langsung, Anda menghilangkan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman.

Mitos 8: cinta berarti tidak pernah harus mengatakan bahwa Anda menyesal.

Fakta: ini mungkin terjadi dalam dialog yang tajam di sebuah film cerita, tetapi ini bukan contoh komunikasi yang efektif. Meminta maaf saat membuat kesalahan menunjukkan bahwa Anda bertanggung jawab atas tindakan Anda. Ini juga menunjukkan kepada pasangan bahwa Anda peduli dengan perasaannya. Meminta maaf sangat penting saat telah berlaku tidak setia.

Semoga berhasil. (Harian KOMPAS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*