Olahraga Indonesia Terpuruk karena “Mendewakan” Bulutangkis dan Sepakbola

Lifter Indonesia, Deni, raih medali emas di Sea Games 2017: Akankah penghargaan yang layak setara dengan pemain bulutangkis? (Sumber: Harian KOMPAS)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Darurat Olahraga Indonesia”  Ini headline Harian “KOMPAS” (30/8-2017). “Saat Indonesia terpuruk, Malaysia berjaya dengan 140 emas, pastikan juara umum SEA Games” Ini judul berita “BBC Indonesia” (30/8-2017).

Dua judul berita itu merupakan realitas olahraga nasional terkait dengan pandangan bangsa ini terhadap olahraga yang hanya mendewakan sepakbola dan bulutangkis semata. Peraih emas di berbagai kegaitan olahraga regional dan internasinal dari cabang-cabang olahraga di luar bulutangkis dan sepakbola sama sekali tidak mendapat penghargaan yang setimpal dengan pujian terhadap juara bulutangkis.

Kalau memang cabang olahraga di luar bulutangkis dan sepakbola tidak dihargai, ya sudah tidak perlu kita kirim atlet ke pesta-pesta olahraga internasional. Kirim saja pemain bulutangkis dan pesepakbola yang banyak. Kasihkan ‘kan lihat atlet angkat besi dan angkat berat yang menyumbang medali emas tapi tak dapat penghargaan dan penyambutan yang layak. Liputan sebagian media massa pun tidak berimbang karena lebih menyorot bulutangkis dan sepakbola.

Sepakbola dan bulutangkis adalah game (permainan) karena tidak ada rekor yang setiap saat bisa dipecahkan atau bertahan dalam waktu yang lama di cabang olahraga ini. Induk olahraga adalah ateletik (jalan, lari, lompat, lempar, tolak) yang ditandai dengan pemecahan rekor.

Karena moto Olimpiade modern, misalnya, adalah (Bahasa Latin): “Citius, Altius, Fortius“, dalam Bahasa Inggris: “Faster, Higher, Stronger“, dalam Bahasa Indonesia: “Lebih cepat, Lebih tinggi, Lebih kuat”. Ini ada di cabang-cabang olahraga dengan rekor yang bisa dipecahkan yang tidak ada di bulutangkis dan sepakbola.

Tambang medali (emas) pun bukan di bulutangkis dan sepakbolah karena di bulutangkis hanya ada 5 medali emas (tunggal putra dan putri, ganda putra dan putri serta ganda campuran). Biar pun pemain sepakbola 11 orang dan semua, bahkan pemain cadangan, dapat medali hitungannya hanya satu medali.

Tambang medali emas ada di atletik dan renang. Dulu kita berjaja di renang karena ada Nasution bersaudara sehingga di ASEAN Games dan Asian Games kita masih bisa berbicara karena peroleh medali dari renang.

Tapi, sekarang tidak ada lagi keunggulan di cabang renang, maka harapan Indonesia hanya dari cabang-cabang lain yang bisa menyumbang satu atau dua medali emas. Di SEA Gamer 17 Kuala Lumpur 2017, misalnya, ada di peringkat ke-5 di bawah Malaysia (jura umum), Thailand, Vietnam dan Singapura. Memang, pada SEA Games 2011 di Jakarta/Palembang Indonesia juara umum, tapi apakah harus jadi tuan ruam baru bisa jadi juara umum?

Maka, selama paradigma berpikir bangsa Indonesia yang hanya melihat bulutangkis dan sepakbola sebagai olahraga, maka Indonesia akan terus terpuruk di sektor olahraga. Bangsa yang besar dalam olahraga bukan karena juara bulutangkis dan sepakbola, tapi jawara di cabang-cabang atletik, terutama lari 100 meter dan marathon, yang jadi kebanggaan tersendiri bagi pelari dan negara asal pelari tsb.

Tahun depan akan dilangsungkan Asian Games di Jakarta dan Palembang. Adalah hal yang nyaris mustahil berharap Indonesia jadi juara umum. Jika atletik dan renang tidak diandalkan, maka perolehan medali emas sangat sulit diharapkan dari cabang-cabang lain. Bulutangkis, misalnya, saingan berat Indonesia datang dari Korsel, Jepang, Cina, Hong Kong, Taiwan, India, Singapura, Thailand dan Malaysia.

Sudah saatnya cara berpikir pengembangan olahraga diubah. Celakanya, lapangan untuk atletik di sekolah tidak ada lagi. Murid-murid SD, SMP dan SMA/SMK akan sulit dapat lapangan untuk latihan lempar lembing dan tolak peluru. Di lingkungan sekolah pun jarang ada lapangan untuk lompat tinggi dan lompat jauh. Begitu juga dengan berenang murid-murid sekolah harus ke satu tempat yang jauh dari rumah mereka.

Indonesia luas, tapi lapangan olahraga yang kecil pun tidak ada di setiap sekolah. Ini ‘kan dari paradoks. Sementara di negara-negara kecil, seperti di Eropa Barat, lapangan sepakbola banyak. Maka, tidaklah mengherankan kalau pernah terjadi pelatih balap sepeda asal Belanda memutus kontrak karena bagi dia tidak masuk akal kalau atlet balap sepeda hanya naik sepeda saat latihan saja.

Selama pandangan terhadap olahraga hanya bertumpu pada bulutangkis dan sepakbola, maka selama itu pula Indonesia akan terus terpuruk di kancang olahraga dunia. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*