Ganjar Menilai Kelompok Saracen Juga Menyebarkan Teror

Tiga tersangka sindikat Saracen, penebar berita bohong bernuansa SARA di media sosial. (Sumber: BBC Indonesia)

SEMARANG, Baranews.co – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ikut mengomentari terbongkarnya jaringan kelompok Saracen yang memperjualbelikan konten fitnah dan kebencian berbasis suku, agama, ras dan antargolongan di media sosial.

Menurut Ganjar, kerja Saracen seperti halnya terorisme dalam gaya yang lain.

“Ketika (Saracen) ditangkap, saya ikuti hampir tiap hari,” kata Ganjar, di sela sarasehan antiradikalisme dan terorisme di Pondok Pesantren Balekambang, Jepara, Sabtu (26/8/2017).

“Ujaran kebencian itu saya cari. Lalu apa isinya, ternyata adu domba, fitnah dan divide et impera (adu domba) kayak penjajah,” ujar dia.

Ganjar mengingatkan bahwa gerak radikalisme dan terorisme terus berkembang, salah satunya dengan cara menebar kebencian di dunia maya.

Kelompok Saracen, sambung dia, malah membisniskan ujaran kebencian dengan harga ratusan juta. Mereka bermain di media sosial dengan menyebarkan ujaran kebencian dan fitnah.

Dalam penyebaran kebencian, ada akun khusus yang tugasnya memojokkan agama tertentu. Ada ribuan akun yang mendiskreditkan agama Islam, Kristen, dan agama lainnya.

“(Kalau dibiarkan) ini negara tata sosialnya jadi seperti apa,” kata pria berusia 48 tahun ini.

“Yang menggerakkan sudah seperti dalang, semua (orang) ikut kebakar. Ketika membaca (konten kebencian) sudah seolah otomatis kebenaran. Padahal itu tanpa konfirmasi, tabayyun,” ucap Ganjar.

Ganjar pun menilai penyebaran kebencian seperti yang dilakukan kelompok Saracen sama berbahayanya seperti aksi terorisme. Sebab, aksi itu berpotensi menghancurkan suatu bangsa.

“Fitnahnya itu luar biasa, itu gaya terorisme lain, menteror antarkelompok, antargolongan, agama. Kalau orang pada posisi cemas dan mencurigai, kapan kita bisa membangun bangsa,” tutur politisi PDI-P itu.

Karena itu, Ganjar meminta masyarakat, terutama generasi muda, untuk menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan. Dengan demikian, pesan kebaikan itu juga akan menyebar dan menutup kebencian bayaran.

Salah satu contoh positif, menurut Ganjar, seperti yang diperlihatkan tokoh Nahdlatul Ulama, Mustofa Bisri atau Gus Mus.

“Tiap Jumat saya tunggu apa yang dikatakan Gus Mus di medsos. Isinya pesan-pesan kebaikan,” ujar Ganjar. (Kontributor Semarang, Nazar Nurdin/kompas.com/bhj).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*